Beranda Lombok Timur Cara Dikbud Ikut Cegah Stunting di Lotim (2-Habis)

Cara Dikbud Ikut Cegah Stunting di Lotim (2-Habis)

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA Nasir

Tujuan Pemerataan, Guru Peserta Pembekalan jadi Narasumber

Pemahaman wali murid tentang kesehatan dan gizi itu penting. Sehingga, anak-anak tidak gagal tumbuh atau memiliki IQ rendah.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM
LIMA sekolah di Kecamatan Aikmel, menjadi lokasi pengambilan sampel dalam upaya intervensi stunting atau gagal tumbuh. Dua di Kecamatan Lenek, SDN 4 Kembang Kerang dan beberapa sekolah lainnya. Lima sekolah yang dijadikan sebagai sampel oleh pusat, masing-masing memiliki sekolah pembanding. Satu contoh, SDN 4 Kembang Kerang yang dijadikan sebagai sampel, sekolah pembandingnya adalah SDN 2 Aikmel Utara. Kembang Kerang diambil sebagai contoh, karena kemungkinan dianggap tingkat kesadaran masyarakat di sektor kesehatan. Belum lagi dibeberapa sekolah sampel, masih banyak masyarakat memelihara ternak.
Dalam proyek Kemendikbud ini, para siswa di lima sekolah yang menjadi contoh, diberikan makanan untuk sarapan pagi selama tiga bulan. Pemberian sarapan pagi ini, sudah dilakukan sejak Juli lalu. Program pemberian sarapan ini sebenarnya berakhir September. Namun karena dilanda bencana dan siswa tidak terlalu aktif, sehingga dimungkinkan program ini berakhir Oktober mendatang.
Para guru dari lima sekolah yang menjadi contoh, beberapa waktu lalu sudah diberikan pelatihan di Malang. Intervensi Kemendikbud melalui program ini, memastikan apakah ada dampak terhadap asupan gizi melalui pemberian sarapan anak atau tidak. Sehingga, diberikan pembanding dari lima sekolah yang tidak mendapat program. Jika outcomenya bagus, ini menjadi dasar kebijakan Kemendikbud untuk program selanjutnya. “Program seperti ini pernah ada, namanya Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS). Tapi dulu pelaksanaan tidak semaksimal saat ini. Sekarang polanya beda dengan dilakukan pendampingan. Sementara dulu dilepas begitu saja,” kata Muhir, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim.
Menurut Kepala Unit Dikbud Aikmel, Nasir, setelah pemberian pembekalan terhadap para guru dari lima sekolah yang menjadi percontohan, pihaknya akan mengumpulkan semua guru SD yang bernaung di bawah Unit Dikbud. Para guru dari sekolah yang menjadi contoh program intervensi stunting, dijadikan sebagai narasumber. Termasuk, akan menjadi pendamping dimasing-masing gugus.
Setelah itu, para guru dimasing-masing sekolah melanjutkannya dengan mengumpulkan para wali murid, untuk diberikan pemahaman tentang bagaimana pentingnya kesehatan dan gizi terhadap anak-anak. Apalagi, banyak tumbuh- tumbuhan dan makanan disekitar yang bisa dimanfaatkan dan diolah dengan baik. Selama ini, kendati banyak tumbuh-tumbuhan di sekitar, tapi cara pengolahan belum tepat sehingga anak-anak menjadi lebih doyan membeli makanan siap saji. “Kita akan terus kembangkan, supaya pengetahuan tentang gizi di kalangan guru SD, ada pemerataan,” kata Nasir Kepala Unit Dikbud Aikmel. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here