Beranda Lombok Timur Cara Dikbud Ikut Cegah Stunting di Lotim (1)

Cara Dikbud Ikut Cegah Stunting di Lotim (1)

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA PELATIHAN: Para guru SD dari lima sekolah di wilayah Kecamatan Aikmel yang menjadi sampel saat mengikuti pembekalan di aula Unit Dikbud Aikmel, kemarin.

Dua Sekolah Sebagai Sampel, Bekali Guru Tentang Gizi

Masalah stunting tidak saja menjadi perhatian Kemenkes hingga Dikes. Dikbud juga berperan besar mengatasi stunting dengan memberikan pelatihan gizi bagi guru SD, yang menjadi sampel di lima sekolah.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM
JUMLAH balita stunting di Lombok Timur (Lotim) hingga 35,01 persen atau sekitar 127 ribu lebih. Balita yang mengalami stunting ini, hampir merata di wilayah Lotim. Klaim Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, anggaran penanganan stunting di daerah ini mencukupi. Hanya saja, butuh dukungan dari Pemerintah Desa (Pemdes), dan Posyandu melakukan penyuluhan. Dukungan desa juga penting melakukan Penyiapan Makanan Tambahan (PMT).
Dalam menangani stunting ini, dari Dikes dan Kemenkes hanya memberikan PMT sudah jadi terhadap balita di daerah ini. Salah satunya berupa biskuit. Selain penanganan dengan memberikan PMT pemulihan, bilamana ditemukan gizi buruk atau pun gizi kurang. Sementara cara Dikes mendeteksi stunting dengan mengukur tinggi badan sesuai umur. Stunting ini lebih ke arah tinggi balita, dari umur satu sampai dua tahun. Dikes yakin, bisa menuntaskan masalah stunting ini karena sedang berada di golden periode.
Melalui program yang sudah ada, Dikes mengatasi masalah stunting ini. Tinggal bagaimana meningkatkan peranserta orang tua dan masyarakat, bagaimana mempersiapkan diri dari sejak remaja, hamil, melahirkan, sampai proses berkembangnya balita. Peran orang tua dan masyarakat menjaga asupan gizi, lingkungan dan hal mendukung proses pertumbuhan serta perkembangan balita yang baik.
Kualitas program posyandu juga perlu ditingkatkan, terutama pada balita maupun ibu hamil. Dikes menyasar sepuluh desa sebagai fokus penanganan stunting. Antaranya Desa Aikmel, Jerowaru, dan lainnya.
Dalam penanganan stunting ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim ikut andil melakukan intervensi penanganan stunting. Saat ini, terdapat dua kecamatan di Lotim menjadi lokasi sampel Dikbud. Dua kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Jerowaru mewakili wilayah pesisir, dan Kecamatan Aikmel mewakili wilayah bagian tengah sebagai pembanding. Karena selama ini, penanganan stunting fokus di wilayah pesisir. Pengentasan stunting ini, merupakan intervensi Kemendikbud.
Saat ini, para guru sedang diberikan pembekalan tentang bagaimana penanganan gizi terhadap siswa. Kemarin, yang diberikan pelatihan khusus wilayah Kecamatan Aikmel, dimana terdapat lima sekolah sebagai sampel. Dari lima sekolah dasar yang dijadikan sampel, tiga guru yang mengikuti pelatihan.
Lima sekolah yang menjadi sampel ini, masing-masing memiliki sekolah pembanding. Yakni sekolah yang tidak masuk dalam program intervensi stunting. “Para guru diberikan pelatihan, agar mereka paham tentang gizi dan sebagainya. Ini adalah program Kemendikbud, bekerjasama Seameo Recfon Dikes dan Poltekes Mataram,” kata Nasir, Kepala Unit Dikbud Kecamatan Aikmel. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here