Beranda Lombok Timur Warga Tolak Jamaah Ahmadiyah Rehab Rumahnya

Warga Tolak Jamaah Ahmadiyah Rehab Rumahnya

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA TOLAK: Rumah milik Zainal, jamaah Ahmadiyah di Dusun Lauk Eat yang ditolak warga untuk dibangun lagi.

LOTIM – Satu jamaah Ahmadiyah asal Dusun Gubuk Lauk Eat, Desa Gereneng, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur (Lotim) merehab rumahnya yang hancur pascakerusuhan beberapa waktu lalu. Perbaikan rumah dilakukan, dengan dalih akan dijual setelah rampung nanti. Namun perbaikan rumah milik Zainal di Dusun Lauk Eat itu, mendapat penolakan dari warga setempat. Mereka tetap menolak kepulangan para jamaah Ahmadiyah, karena sudah tujuh kali melanggar perjanjian yang sudah disepakati bersama.
Bahkan perjanjian terakhir tahun 2017 lalu di hadapan Bupati, Kapolres, Kejaksaan dan beberapa aparat lainnya, tetap dilanggar jamaah Ahamdiyah dengan tetap menyebarkan pahamnya. Hal itu membuat masyarakat desa setempat tidak percaya lagi kepada para jamaah Ahmadiyah tersebut.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Gereneng, Amaq Herpi mengatakan, apapun alasan untuk melakukan rehab rumah tersebut, tetap ditolak warga. Jika dengan alasan untuk menjual, diinginkan warga agar mengumpulkan semua pihak terkait seperti pemerintah desa dan lainnya. Khawatir, jika ngotot dilakukan perbaikan kembali, masyarakat tetap akan dibuat resah. “Kami tidak mau kedamaian yang sudah terbangun, terusik dengan perbaikan rumah jamaah Ahmadiyah ini,” kata Amaq Herpi seraya mengatakan, perbaikan dilakukan sejak beberapa hari lalu dan bagian depan sudah jadi.
Hal senada diungkapkan Amaq Sapiatul Aini. Ia mengatakan, masyarakat ingin jamaah Ahmadiyah ini direlokasi. Masyarakat tidak ingin terombang ambing dengan paham yang dianut para jamaah Ahmadiyah. “Kami ingin tetap hidup damai. Kalau mereka mau pulang, bisa saja dengan syarat kembali ke ajaran Islam sejati,” tegasnya serta berharap pada pemerintah agar jamaah Ahmadiyah akan lebih baik direlokasi. Karena mereka tidak mau terjadi keributan di tengah masyarakat.
Berbeda dengan ungkapan H Toni. Ia justru menolak dengan dalih apapun, jamaah Ahmadiyah dikembalikan ke Desa Gereneng. Ia tidak yakin, jamaah Ahmadiyah benar-benar akan bertaubat dan kembali ke ajaran Islam sejati. Pasalnya, dari tujuh kali jamaah Ahmadiyah berjanji dengan bertanda tangan hitam di atas putih di hadapan pemerintah, untuk tidak menyebarkan fahamnya, namun tujuh kali perjanjian itu tak pernah ditepatinya. “Tujuh kali tandatangan surat perjanjian, saya selalu ikut mewakili masyarakat Gereneng. Tapi mereka tidak pernah benar-benar taubat. Itu namanya taubat sambel, bukan taubat nasuha,” tegas H Toni. “Bila perlu mereka direlokasi ke Flores, jangan di Pulau Lombok ini,” imbuhnya.
“Walau pun orang pusat, dan Presiden sekali pun yang datang meminta kami menerima jamaah Ahmadiyah ini, kami tidak akan terima,” tandasnya lagi.
Sementara Kepala Desa (Kades) Gereneng, Budi Harlin kepada awak media, kemarin mengatakan, pemerintah desa tentu berharap masyarakatnya tetap hidup rukun dan damai. Khususnya dua dusun, yakni Dusun Lauk Eat dan Dusun Gereneng. Harapannya, warga bisa saling menerima satu sama lain, agar tetap damai.
“Memang, warga kelompok jamaah Ahmadiyah ini sudah menerima bantuan dari Pemprov NTB sebesar Rp 40 juta. Sehingga Ahad lalu, Zainal melakukan perbaikan rumahnya. Tapi mendapat penolakan dari masyarakat,” tegasnya.
Kaitan dengan kebijakan apakah kembali atau tidaknya jamaah Ahmadiyah ini, tentu akan mengacu pada kondisi di lapangan. Sampai sejauh ini, situasi di desanya masih kondusif. Kendati masih ada penolakan dari masyarakatnya. “Apakah pembangunan rumah jamaah Ahmadiyah lanjut atau tidak, tergantung situasi. Kalau terjadi kisruh, pembangunannya akan kita hentikan sementara,” tegasnya.
Koordinasi pemerintah kabupaten untuk penyelesaian masalah ini, tetap akan dilakukan pemerintah desa. Seperti apa kebijakan pemerintah baru khususnya bupati terpilih setelah dilantik nanti, pihaknya belum tahu.
“Kalau Bupati terpilih sudah dilantik, kami akan langsung koordinasikan masalah ini, seperti apa penyelesaiannya nanti,” ungkapnya.
Informasi diserap dan pantauan Radar Mandalika, warga desa setempat meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri), tidak sekadar mengklaim Dusun Gereneng dan Lauk Eat aman, jika jamaah Ahmadiyah dikembalikan. Bakesbangpoldagri diminta warga untuk turun, agar tahu kondisi lapangan. Apalagi, kembali diresahkan dengan pembangunan rumah jamaah Ahmadiyah ini. Guna mencegah terjadinya hal-hal tak diinginkan terjadi ditengah masyarakat, jajaran Polsek Sakra Timur, terus melakukan penggalangan untuk meredam aksi masyarakat setempat. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here