Beranda Lombok Timur Ketika Sejumlah Pendamping PKH Memilih Mundur

Ketika Sejumlah Pendamping PKH Memilih Mundur

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA HM Azwar

Rasio Pendamping Cukup, Tak Pengaruhi Kelangsungan Program PKH

Mundurnya beberapa pendamping PKH, tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan program untuk KPM. Rasio antara pendamping dengan KPM, dinilai masih dinyatakan cukup. Artinya tidak kekurangan pendamping.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

PROGRAM Keluarga Harapan (PKH) adalah program Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Para penerima PKH, harus mendapat sejumlah program secara total. Karena memang, tujuan PKH untuk mengentaskan kemiskinan. Mulai dari program Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Non Tunai (BNT), BPJS Kesehatan Peserta Bantuan Iuran (PBI) dan sebagainya.
Untuk memastikan masyarakat yang masuk dalam PKH menerima apa yang menjadi haknya, para pejabat teras datang ke Lotim menyerahkan langsung bantuan PKH tersebut. Masyarakat penerima PKH, saat itu juga mencairkan bantuan itu pada bank yang sudah ditunjuk pemerintah.
Untuk wilayah Lombok Timur (Lotim), jumlah penerima PKH cukup banyak. Masing-masing pendamping PKH mendampingi 250 sampai 500 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Mereka mendapat pendampingan dalam setiap program yang disalurkan pemerintah melalui Dinas Sosial (Disos). Termasuk pendampingan untuk bisa mendapatkan setiap hak-haknya yang melekat sebagai KPM.
Saat seleksi pendamping PKH beberapa waktu lalu di tahun ini, dari jumlah yang dinyatakan lulus menjadi pendamping PKH, terdapat dua orang langsung mengundurkan diri. Alasannya, mereka memilih sebagai guru sertifikasi dan lulus menjadi pegawai bank. Satu pendamping lain berhenti dari PKH karena terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) Darmasari Kecamatan Sikur.
Mengingat tahun 2019 dilakukan pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif (Pileg), terdapat pula pendamping PKH daerah ini maju sebagai calon legislative (Caleg). Dari tiga orang awalnya yang berencana mengundurkan diri menjadi caleg, setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Daftar Calon Tetap (DCT), dua diantaranya secara sah dinyatakan sudah mundur dari PKH. Kedua pendamping yang sudah sah mundur, adalah Asri Mardianto dan Akmal Sakbani. Sementara satu caleg yakni Sumrah tidak lolos dalam DCT, dan tetap sebagai pendamping PKH.
Awalnya Lotim memiliki 369 pendamping PKH. Jadi jumlah yang mundur menjadi pendamping PKH sebanyak lima orang. Satu guru sertifikasi, satu pegawai bank, dua nyaleg, dan satu terpilih sebagai Kades.
Menurut Koordinator Kabupaten (Korkab) Satu PKH Lotim, HM Azwar, rasio jumlah pendamping tergantung jumlah KPM. Satu pendamping, bisa mendampingi 250 sampai 500 KPM. Dilihat dari jumlah pendamping dengan KPM, rasionya sudah masuk. Artinya, keluarnya beberapa orang karena memilih profesi lain, tidak berpengaruh terhadap jumlah pendamping PKH dan tak perpengaruh pada pelaksanaan pendampingan di lapangan. Artinya, Lotim tidak kekurangan pendamping.
Kendati ada yang mengundurkan diri sebagai pendamping, tidak serta merta dilakukan pergantian. Pergantian tergantung pusat, karena meskipun pengganti diusulkan akan sia-sia jika berkaca dari pengalaman sebelumnya. Sebab, menjadi pendamping harus melalui proses seleksi yang dilakukan Kemensos pusat. “Kalau ada pendamping PKH yang mengundurkan diri, Koordinator Kecamatan tinggal membagi rasio KPM sesuai dengan jumlah pendamping yang tersisa di kecamatan tersebut,” kata Korkab satu HM Azwar, kemarin. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here