Beranda Headline Juanda Pramadani, Perempuan Inspiratif Dari Desa Sukadana (2-Habis)

Juanda Pramadani, Perempuan Inspiratif Dari Desa Sukadana (2-Habis)

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA MENAMPILKAN: Anak-anak dari Sekolah Adat didampingi Juanda Pramadani tengah mempraktikkan seni tari kepada tim penilai pencari fakta dari Kemenpora.

Semangat dan Niat yang Tulus, Kini Bakal Wakili NTB ke Kancah Nasional

Selain menjadi pengajar di sekolah adat dan Sanggar Rengganis, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut. Perempuan 25 tahun ini, rupanya memiliki kesibukan lain yang tidak banyak diketahui orang. Kesibukannya sebagai perangkat desa (Prades) di kantor Desa Sukadana. Seperti apa dia?
TARNADI-LOTENG

MENJADI bagian perangkat desa (Prades), sudah bisa dibayangkan tenaga dan pikiran yang terkuras untuk sebuah pengabdian di tanah kelahirannya. Bayangkan saja, posisinya sebagai Bendahara Desa dipastikan tidaklah posisi yang mudah. Apalagi berurusan dengan keuangan. Akan tetapi, dengan semangat dan niat tulus ikhlas untuk pengabdian, tanpa ada gaji dan donator dari siapapun. Menjadikan ia tidak merasa terbebani kendati yang dilakoninya sebagai guru sekaligus penanggung jawab dua lembaga non formal ini. Baik Sekolah Adat dan Sanggar Rengganis, dilakukannya setiap hari.
Namun, berkat kegigihannya itu, kini anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ahmad Danial dan Bonter ini, sudah dilirik pemerintah. Buktinya, perempuan alumni IKIP Mataram ini, menjadi pemuda pelopor NTB di bidang pendidikan. Sebelumnya telah mengikuti lomba pemuda pelopor tingkat kabupaten dan provinsi. Dalam seleksi di provinsi pada 24 Juli lalu, perempuan yang pandai berbahasa inggris ini, keluar menjadi juara I menyaingi 15 orang pesaingnya di pemuda pelopor bidang pendidikan.
Untuk pemilihan pemuda pelopor ini sendiri, ada lima bidang. Pemuda pelopor di bidang budaya, ketahanan pangan, kesehatan, media tepat guna dan di bidang pendidikan. Dengan prestasi ini, Juanda kini sedang berlaga menjadi pemuda pelopor di semua bidang tersebut. Jika lolos, dipastikan akan mewakili NTB di kancah nasional. Atas prestasinya ini, pekan lalu lembaganya di kunjungi oleh tim pencari fakta pemuda pelopor dari Kemenpora RI.
“Insya allah saya akan mewakili NTB menjadi pemuda pelopor bidang pendidikan di Jakarta,” cerita dia pada Radar Mandalika.
Tujuan kunjungan tim Kemenpora itu, ingin memastikan kebenaran atas sekolah adat yang dia rintis tersebut. Termasuk juga, mengunjungi pemuda pelopor di bidang lainnya di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa dan Lombok Barat.
Tidak hanya itu, beberapa bulan lalu ia juga ikut dalam agenda Read street metodologi Sekolah Adat di Medan yang dalam diikuti oleh 39 pengelola dan perintis sekolah adat se-Indonesia. Bahkan, karena dedikasinya dalam bidang adat, perempuan kelahiran 22 Juni 1993 tersebut hari ini (kemarin, Red), terbang ke Jakarta bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) NTB selaku pembina lembaga yang ia rintis. Karena atas dedikasi dan support dari AMAN di bidang budaya dan adat ini, AMAN NTB berhak memperoleh penganugerahan budaya dari pemerintah pusat. Patut diapresiasi, dari 39 sekolah adat se-Indonesia, Sekolah Adatnya ikut juga menerima penganugerahan mendampingi AMAN NTB tersebut bersama empat sekolah adat lainnya di Indonesia.
Seperti di Sulawesi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Medan. Kepercayaan pemerintah provinsi tersebut tidak terlepas dari jasanya memajukan dunia pendidikan dan budaya serta adat istiadat di Pulau Lombok. Walau dalam perjalanannya, harus mampu berjalan dan tetap eksis dengan segudang kekurangan, terutama dari segi sarana dan prasarana pendukungnya. Seperti minimnya buku refrensi mengajar, ATK, bangku dan meja belajar. Karena seperti diketahui, selama ini ia bersama anak-anak didiknya belajar dengan cara bersila.
Oleh karena itu, dengan apa yang ia persembahkan ke generasi emas mendatang ini dirinya berharap pemerintah bisa membantu. Karena sesuai rencananya juga, ke depan ia bersama rekan-rekannya dan pemerintah dusun setempat bakal melakukan pengembangan dari segi kawasan sekitar. Rencana itu yakni ingin menjadikan apa yang digeluti tersebut menjadi objek wisata adat.
“Untuk menuju ke sana, sekarang kita sedang dalam proses pembuatan akta notaris lembaga,” beber Kadus Belar Mongge II, Masarudin. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here