Beranda Lombok Barat Sisi Lain Kondisi Warga di Wilayah Batulayar-Senggigi

Sisi Lain Kondisi Warga di Wilayah Batulayar-Senggigi

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA BELUM BEROPERASI: Pemdes Batulayar saat mengecek kondisi program Pamsimas yang belum beroperasi, kemarin.

Penghuni Villa Serba Terpenuhi, Warga Sekitar Kesulitan Air Bersih

Masuk di kawasan wisata, tak sepenuhnya menjamin kehidupan warganya sejahtera. Bahkan warga di beberapa dusun di Desa Batulayar kesulitan air bersih.
WINDY DHARMA-LOBAR

BERKEMBANGNYA suatu kawasan menjadi obyek pariwisata tak selamanya diikuti perkembangan lingkungan disekitarnya. Seperti dialami warga beberapa dusun di Desa Batulayar. Meski desa ini masuk kawasan wisata Batulayar-Senggigi, sebagian warganya belum bisa terpenuhi segala kebutuhannya.
Banyaknya hotel, restoran maupun villa di atas perbukitan, justru berbanding terbalik dengan kehidupan nyata warga disekitarnya. Salah satu persoalan yang dikeluhkan warga adalah sulitnya mendapatkan air bersih. Kondisi itu telah bertahun tahun dialami warga, apalagi ketika musim kemarau tiba.
Apa yang dirasakan warga itu seakan tak dialami sejumlah WNA yang tinggal di perbukitan di daerah wisata itu. WNA yang tinggal di sejumlah villa justru bisa menikmati air bersih dengan mudah. Ini menimbulkan kecemburuan warga yang merasa kondisi tersebut harusnya diperhatikan pemerintah.
“Kondisi kami serba terbatas, air sulit. Tidak seperti di vila-vila itu, serba lengkap,” keluh seorang warga Desa Batulayar, Zubaedah, kemarin.
Selama ini warga menampung air ke bak. Warga meminta Pemkab focus mengatasi permasalahan air bersih itu. Sebab Batulayar yang masuk juga kawasan wisata menjadi salah satu penyumpang PAD terbesar bagi Lobar. “Kita tampung air hujan dengan bak ala kadarnya. Itu kami buat sendiri,” ujarnya.
Meski sederhana, untuk membuat bak butuh biaya hingga Rp 1,5 juta. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dengan terpal di atasnya. Sederhana namun mampu menampung air hujan. Hanya belum mencukupi kebutuhan sehari-hari warga untuk memasak, mencuci hingga mandi. Bila bak air bocor, warga harus mencari air ke pemilik Vila yang ada di kawasan itu. “Mau tidak mau kita minta,” sambungnya.
Apa yang dialami Zubaedah, juga dirasakan Nursadi. Warga Desa Batulayar ini tak mampu membuat bak penampung air, karena keterbatasan biaya. Jarak belasan kilometer terpaksa ditempuh pria berkeluarga ini demi memperoleh air di sumbernya. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk membawa air itu kembali ke rumahnya.
Kondisi warga itu dibenarkan Kepala Desa Batu Layar, HM Nur Taufiq. Terdapat 6 dusun langganan kekeringan di desanya. Seperti Dusun Penanggak Timur, Penggak, Paok Lombok, Apit Aiq, Orong dan Kekeran. Enam dusun itu dihuni ribuan penduduk.
Pemerintah Desa (Pemdes) tidak tinggal diam. Bantuan sumur bor bagi tiga dusun terus diupayakan. Hasilnya diperoleh bantuan program Pamsimas. Tapi belum beroperasi maksimal karena airnya tidak bisa naik. “Pamsimas itu sebenarnya bisa menyuplai tiga dusun yakni Paok Lombok, Apit Aik dan Kekeran. Ddusun lain belum,” jelasnya.
Pamsimas masih terkendala di mesin. Pihak Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) NTB pernah turun meninjau lokasi program itu. Dari penelitian Distamben NTB, air bersih baru bisa diperoleh jika dilakukan pengeboran hingga kedalaman 300 meter. Namun anggaran pengeboran cuma diprogramkan 150 meter saja. “Batal dilakukan pengeboran, karena mereka cuma mampu sampai kedalaman 150 meter saja,” terangnya.
Pemdes berinisiatif membuat bak penampungan besar di masing-masing dusun. Ia berharap adanya bak penampungan yang bisa mengcover kebutuhan air bagi warga yang tidak memiliki penampungan di rumahnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here