Beranda Headline Membongkar Dugaan Jualbeli Obat Ilegal di PKM Terara

Membongkar Dugaan Jualbeli Obat Ilegal di PKM Terara

BERBAGI
PERAWATAN: Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) menjadi tempat oknum pembeli obat bertugas sehari-hari di Puskesmas Terara.

Kata Pelaku, Hanya Pinjamkan Obat

Oknum yang dipercayakan sebagai kepala gudang obat di Puskesmas Terara Lombok Timur (Lotim) inisial SJ, setelah kepala gudang sebelumnya dimutasi ke Puskesmas Masbagik, diduga melakukan praktek jual beli obat yang ada di gudang obat Puskesmas secara illegal. Berikut hasil penelusuran Radar Mandalika.

TERBONGKARNYA dugaan praktek jual beli obat yang ada di gudang Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Terara Lombok Timur (Lotim), berawal dari kecurigaan salah satu pegawai Puskesmas Terara, terhadap tindak tanduk mencurigakan oknum yang dipercayakan sebagai kepala gudang inisial SJ merupakan pegawai Kelompok Kerja (KK). SJ awalnya asisten apoteker, dipercayakan menjadi kepala gudang oleh Kepala Puskesmas, menggantikan kepala gudang sebelumnya yang dimutasi ke Puskesmas Masbagik.
Ketika itu pada tanggal 12 September lalu, narasumber yang meminta namanya tidak dikorankan ini, diajak SJ untuk mengantar obat pesanan oknum pembeli. Awalnya ia tidak curiga praktek illegal itu dilakukan SJ. Dengan telinganya sendiri ia mendengar, SJ mengatakan pada oknum pembeli saat mengobrol. “Aji batur aok, launk bait kepengn lek bu jah” (harga teman ya, nanti saya ambil uangnya di ibu Jah-panggilan bendahara Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN Puskesmas.
Selesai SJ berbincang dengan oknum pembeli, narasumber mencoba mengkonfirmasi balik pada SJ. SJ yang tugas awalnya sebagai asisten apoteker ini, pun membenarkan dirinya menjual obat gudang Puskesmas Terara, pada kedua oknum pembeli dengan dalih kasian. Rasa kasian itu, lantaran berpikiran kedua oknum pembeli tidak dapat apa-apa, sehingga SJ menjual obat tersebut.
Ada pun jenis obat yang diperjualbelikan oknum SJ, kepada dua oknum pembeli yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas tersebut, yakni obat injeksi Sepo (anti biotik), Ondan (anti nyeri) dan Ketorolak (obat nyeri) sebanyak 5 boks, serta neorobion (vitamin) sebanyak 1 boks. Narasumber tidak mengetahui berapa per kotaknya dijual SJ pada kedua oknum pembeli.
Setelah mengetahui adanya dugaan praktek jual beli obat yang tersimpan di gudang puskesmas terara ini, narasumber melaporkan dugaan tersebut. Kepala Puskesmas Terara drg Rachmat Yuwono memanggilnya pada 16 September.
Sementara Kepala Puskesmas Terara, drg Rachmat Yuwono, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya Kamis (20/9) lalu, membantah terjadi dugaan praktek jual beli obat puskesmas Terara yang ada di gudang secara illegal. Ia mengaku setelah menanyakan masalah ini, dan klaimnya hanya kesalahpahaman. SJ dikatakan Rachmat, ditarik menjadi kepala gudang sementara, sembari menunggu pengganti dari Dikes.
Fakta yang terjadi, versi dia, ada peminjaman obat, tetapi yang menjadi kesalahpahaman adalah masalah pribadi. Antara narasumebr dengan SJ, pacaran. Terus putus, karena sakit hati akhirnya mengungkapkan dugaan jual beli obat tersebut. Ada prosedur pengeluaran obat. “Hanya kesalah pahaman saja, karena ada kaitan dengan hubungan asmara yang terputus antara insial S (pelapor) dengan yang dilaporkan (SJ),” kelitnya.
Setelah pihaknya mengumpulkan semua pegawainya, memang ada perawat meminjam obat, untuk mengobati keluarganya. Meski meminjamkan obat, tetap itu perbuatan salah karena sudah melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP). Ada aturan mengeluarkan obat-obatan di dalam gudang. “Kami sudah memberikan teguran, dan berjanji tidak mengulanginya lagi,” dalihnya.
Berdasarkan jawaban Kapus Terara, Rachmat Suwono, Radar Mandalika mencoba kembali melakukan konfirmasi pada narasumber yang dianggap sebagai pelapor atas dugaan praktek jual beli obat, oleh Kepala Puskesmas ini.
Justru kepala Puskesmas kepada narasumber meminta masalah ini tidak diekspose ke media sosial (medsos) dengan alasan kasian. Ia juga meminta masalah ini tidak sampai ke telinga Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim. “Kasian temanmu yang tiga orang itu. jangan sampai dipecat,” kata narasumber menirukan ucapan kepala Puskesmas Terara.
Narasumber ini kembali menegaskan, dugaan jual beli obat yang dilaporkan itu tidak ada kaitan dengan hubungan asmara yang pernah dijalaninya bersama SJ. “Memang benar saya pernah menjalin hubungan (pacaran). Tapi masalah ini tidak ada sangkut pautnya saya pernah pacaran dengan SJ,” tegasnya.
Terhadap dugaan itu, SJ yang dikonfirmasi Radar Mandalika via ponselnya, dengan nada emosi mengatakan masalah itu hanyalah salah paham, dan pelapor atas masalah dugaan itu sudah minta maaf. Pelapor kembali ditegaskannya sudah minta maaf dan angkat tangan serta sudah tidak mau dan mungkin ini menjadi pelajaran (pelapor). “Sudahlah, itu salah paham. Capek saya,” ujarnya.
Menurutnya, si pelapor minta maaf karena mungkin sakit hati. Obat yang disangkakan diperjual belikan itu, diklaimnya dipinjam. Tapi karena ada sakit hati sehingga diperlebar dengan alasan dijual. “Obat itu lima biji bukan banyak, jadi itu bukan jadi wow. Si pelapor bukan tahu akibatnya kedepan kayak gimana, kan bukan saya masalah ini, karena masalah ini menyangkut puskesmas,” bantahnya.
Kaitan dengan percakapannya bersama oknum bendahara JKN Puskesmas, sehingga dugaan jual beli obat itu dikemas seperti meminjam obat dari gudang, dikatakannya bendahara JKN Puskesmas itu tidak tahu apa-apa. “Bendahara itu SMS saya, karena tidak tahu dan mengira saya benar jual beli obat, sehingga saya diminta mengganti. Tapi karena belum tahu masalahnya, padahal itu dipinjam. Sudah diganti dulu. Kasian juga yang disebut-sebut beli karena anak magang. Sekarang masalah ini sudah selesai,” tegasnya.
Berbeda dengan pengakuan salah satu oknum pembeli, saat dikonfirmasi via ponselnya. Ia mengakui dari dulu beli obat di oknum SJ. Ia mengaku bisa dihitung membeli obat di SJ, hanya tiga kali. Namun saat menanyakan kaitan dengan informasi yang berkembang kaitan dengan dugaan jual beli obat di gudang Puskesmas itu, masalah dugaan jual beli itu tidak benar dan sedang diselesaikan di kantor (puskesmas). Obat gudang itu tidak pernah diperjual belikan, melainkan dipinjam. “Kalau minjam saya akui saya salah. Cuma tidak ada menjualbeli obat, kita cuma minjam aja,” sebutnya.
Saat dipertegas ucapan pertama oknum yang mengakui beberapa kali membeli obat, disebutkannya bahwa SJ waktu dulu kerja di toko obat dan biasa memesan melalui SJ. Itu sudah lama dan beberapa tahun. Setelah SJ berhenti bekerja di toko obat temannya, sehingga ia mesan pada temannya di puskesmas lain yang memiliki toko obat. “Saya cuma minjam obat sekali. Lagi sekali saya tegaskan, tidak ada pembelian obat Puskesmas. Kita tahu dan patuh sekali dengan SOP di puskesmas ini. Saya tidak tahu masalah pribadi yang menyangkut SJ dengan pelapor. Karena kami hanya meminjam obat,” tandasnya.
Obat yang dipinjam jenis Cepo Taksim (anti biotik), Ranitidin (obat nyeri lambung), dan petorolak. Itu untuk kepentingan pasien di rumahnya. Ia mengaku praktek dirumahnya dan sudah kena teguran serta mengakui kesalahan itu. Namun kalau ada pasien mencari, baru ditangani ke rumah. “Tapi kejadian kemarin itu, kami meminjam obat untuk penanganan keluarga di rumah, karena ada keluarga yang sakit,” klaimnya.
“Toh obat ini juga kita pinjam. Kalau dari segi kesalahan kita untuk minjam obat dipuskesmas, iya. Tapi benar kami minta tolong sekali kemarin, karena ada keluarga sakit, dan saya tidak pegang uang untuk membeli ke apotek, karena istri saya lagi kerja,” kilahnya lagi.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, H Asrul Shani, yang dikonfirmasi via ponselnya, mengaku belum mengetahui detail dan masih dalam tahap kroscek. Ia mengaku akan melihat, apakah ada kesalahan administrasi atau seperti apa. Pihaknya akan melihat seberapa besar dugaan penyelewengannya. Apakah akan dilakukan kroscek secara langsung atau pemanggilan, dikatakan, ada sistem kroscek obatnya. Jika itu terjadi, dengan tegas akan melihat seberapa besar dugaan penyelewengan itu. “Kita akan lihat dulu hasil pemeriksaannya. Saya belum tahu seperti apa detailnya masalah tersebut,” jawabnya.
Di tempat berbeda, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim, yang juga koordinator bidang Komisi II DPRD Lotim, Daeng M Ikhsan meminta dugaan jual beli obat secara ilegal di Puskesmas Terara harus diselesaikan secara hukum. Yang perlu diperiksa adalah penanggungjawab gudang farmasi. Ia mengindikasikan ada pembiaran, karena kalau mengambil obat, ada berita acara. “Kok bisa kepala gudang obat Puskesmas orang job dari Kelompok Kerja (KK),” tanya Ikhsan yang juga politisi Hanura ini.
Jika obat yang dipinjamkan adalah lima biji, tidak perlu dibesarkan. Jawaban lima biji itu baginya tidak masuk akal. Menurut pandangannya, tidak mungkin masalah mencuat ke permukaan, jika hanya lima biji obat yang dipinjam. “Mungkin lima dus. Masa lima biji, ini tidak masuk akal,” tanya Ikhsan.
Terhadap masalah ini, pihaknya dalam waktu dekat akan memanggil sejumlah pihak terkait untuk dimintai keterangan atau klarifikasi. Mulai dari kepala Puskesmas, dan pihak-pihak terkait yang terindikasi terlibat dalam dugaan praktek jual beli obat gudang puskesmas secara illegal ini. “Nanti kita panggil dulu, baru kita sidak,” janjinya.
Mencuatnya dugaan praktek secara ilegal ini bisa saja menjadi praktek yang sudah berlangsung lama. Kasus serupa seperti di Puskesmas Terara, juga mungkin saja terjadi di Puskesmas lain. “Masalah ini harus diungkap agar terang benderang. Jangan sampai, kasus serupa juga terjadi di Puskesmas lain. Jika dugaan praktek jual beli obat itu benar, itu jelas-jelas sudah melanggar hukum,” pungkasnya. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here