Beranda Headline ‘Rakus’ Anggota Dewan Tilap Uang Gempa

‘Rakus’ Anggota Dewan Tilap Uang Gempa

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA RASAKAN: Oknum anggota DPRD kota Mataram, HM saat saat dibawa tim Kejari Mataram menuju Lapas Mataram usai di periksa selama sembilan jam, kemarin.

Kepala Disdik dan Kontraktor Masih jadi Saksi

MATARAM – Oknum anggota DPRD Kota Mataram dari Partai Goklar inisial, HM berhasil menambah daftar anggota DPR yang kenak Operasi Tangkap Tangan (OTT). Kali ini, HM kenak OTT oleh penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mataram, kemarin. dalam OTT itu, ditemukan uang sebesar Rp 30 juta.
Hasil penyelidikan penyidik Kejari Kota Mataram, uang 30 juta ini diambil oknum anggota dewan dari Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram inisial, HS bersama kontraktor lokal, CT. Mereka kenak OTT di warung makan di Cakra, Mataram pukul 09.00 WITA.
Pemerasan itu dilakukan karena anggota dewan ini, merasa berjasa menggetok anggaran rehabilitasi sekitar 14 gedung sekolah SD dan SMP yang rusak akibat gempa senilai 4,2 miliar sumber APBD-Perubahan tahun 2018. Dimana, HM anggota yang duduk di komisi yang menaungi pendidikan di DPRD Kota Mataram kabarnya sering melakukan tindakan tersebut. Namun kali ini apes.

Kepala Kejari Kota Mataram, Ketut Sumedane menjelaskan, HM berkali kali meminta fee kepada HS (Kadisdik), namun HS mengaku tidak mempunyai uang sehingga HM meminta HS mencarikan kontraktor lokal yang akan dijanjikan memenangkan tender pelelangan rehabilitasi gedung sekolah itu. Beruntungnya, pihak Kejari mendapatkan informasi dari masyarakat dimana kemarin jadwal serah terima uang tersebut, sehingga Kejari langsung bergerak dan melakukan OTT. Namun sebelum OTT, pihak Kejari telah mengintai oknum dewan itu sekitar dua minggu lamanya.
“Katanya HM ini berkali kali melakukan pemerasan dan tidak hanya pada saat ini saja,” beber Ketut.
Ketut menyampaikan, pada Kamis (13/09) malam, HM telah bertemu dengan pihak dinas untuk menerima uang Fee, namun HM menolak karena hanya akan dikasih 10 juta. Namun di lokasi, HM malah menerima hanya 1 juta sebagai DP atau dana awal sesuai yang dimintakannya itu.
“Akhirnya paginya (Kemarin,Red) kita sudah seting semua dan bisa tertangkap tangan saat menerima uang,” bebernya.
Ketiganya kemudian langusng dibawa ke kantor Kejari Mataram untuk dilakukan pemeriksaan. Sementara untuk barang bukti berhasil diamankan uang sebanyak 30 juta, satu buah hand phone milik HM, motor PC MAX warna putih belum ada plat yang dipakai HM ke lokasi TKP dan juga satu buah mobil dinas milik Kadis dengan nomor polisi DR 1240 AK.
Sementara itu, pihak kejari pun langsung bergerak menggeledah ruang kerja HM dan ditemukan dokumen penting termasuk penyitaan CCTV di ruang kerja untuk dilakukan pengembangan kasus tersebut.
Ketut mengaku, saat pemeriksaannya itu, HM diberikan kurang lebih 30 pertanyaan sampai pukul 17.49 WITA, dan akhirnya dengan pemeriksaaan tersebut HM langusung ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti melakukan tindak kekerasan sesuai pasal 12 huruf 2 tentang Tindak Pidana Korupsi, yang mana ancamannya minimla 5 sampai 20 tahun. Namun jika mengacu kepada ketentuan hukum yang kategori melakukan tindak korupsi korban bencana terdakwa bisa dijerat hukuman seumur hidup.
Dalam pemeriksaan yang dilakukan dari pukul 09.30 sampai pukul 17.49 WITA itu, Kejari hanya menetapkan satu tersangka yaitu HM. Sementara Kadis dan satu kontraktor lokal itu masih dijadikan sebagai saksi mengingat dalam perkara ini mereka berstatus sebagai korban.
Namun Kejari akan terus melakukan pengembangan unutk mencaritahu apakah tindakan itu juga ada tindakan korupsi dengan anggota dewan lainnya atau tidak. Ketut menjelaskan, pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan Senin besok. Direncanakan pada pemeriksaan itu, akan dihadirkan pihak Sekwan, Banggar dan pejabat penting lainnya.
“HM sudah kita jadikan tersangka dan langsung kita bawa ke Lapas Mataram,” kata dia.
HM kata Ketut, akan ditahan selama 20 hari hingga 40 hari kedepan. Penahanan itu bertujuan untuk mempercepat proses pengembangan. Namun Kejari tentu berharap HM bisa terbuka dalam masalah ini, namun sekiranya masih menutupi pihak lain tentu konsekuensi hukum lebih berat akan dirasakannya.
Sementara itu, HM saat dibawa ke Lapas Mataram langsung mengenakan rompi orange, tapi HM tidak mau berkomentar apapun ke media. Begitupun dengan Kadis HS yang juga menjadi tersangka karean kasus Pungli itu, saat keluar dari ruang pemeriksaan Kejari tidak mau berkomentar apapun. HS mengaku tidak bisa berkomentar apa-apa.
“Saya tidak mau komentar biarkan saja Kejari yang bicara biar satu pintu,” kelit dengan aura pucat dan lelah. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here