Beranda Praya Metro Pengembangan Hasil Hutan Aik Bual Melimpah

Pengembangan Hasil Hutan Aik Bual Melimpah

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA L Agus Rasihun

KOPANG —Pengembangan usaha produksi dan pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Desa Aik Bual Kecamatan Kopang melimpah.
Kades Aik Bual, L Agus Rasihun mengatakan, sebagai salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Desa Aik Bual memiliki potensi sumber daya alam berupa potensi kawasan hutan, potensi sumber daya air dengan adanya mata air Nyeredep dan Embung Bual, hingga potensi ekowisata.
“Beragam komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di sini juga sangat kaya berupa bambu, aren, kopi, durian, dan ragam jenis HHBK lainnya,” kata Agus.
Ia menyampaikan, Aik Bual juga memiliki produk unggulan berupa aren. Proses pengolahan masih dilakukan secara tradisional pada skala rumah tangga oleh masyarakat bersama pengurus rumah produksi Kelompok Tani Hutan (KTH) Aik Bual yang ada di sekitar hutan yang keberadaan kelompok pengerajin aren ini memiliki anggota yang tersebar di Desa Aik Bual.
“Aktivitas ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh sebagian penduduk Desa Aik Bual. Khususnya yang ada di Dusun Pertanian, Talun Ambon, dan Nyeredet,” ungkapnya.
Di samping itu, aren yang merupakan jenis tumbuhan palm-palman merupakan tanaman multifungsi dengan beragam manfaat dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Apalagi, aktivitas masyarakat melakukan penyadapan air nira yang diproduksi menjadi gula merah juga terbilang cukup aktif.
“Proses pengolahan air nira menjadi gula aren dilakukan dalam sebuah rumah tangga dan anggota keluarga yang terlibat. Jangkauan pasar gula aren dan gula merah masih disekitar pasar-pasar tradisional di Lombok Tengah. Bahkan, kerap dipasarkan hingga Kota Mataram,” sebutnya.
Harapan sebagian kelompok pengolah dan pengrajin aren, produk yang dihasilkan dapat menjangkau pasar antar daerah dan antar pulau.
Disamping warga desa memproduksi gula aren, warga juga mengolah gula semut, berupa gula merah yang berbentuk butiran halus (tepung). Sebab, gula semut cukup diminati untuk kebutuhan penganan serta aneka kue olahan disamping campuran kopi dengan cita rasa yang khas.
“Hanya saja, kita masih memiliki tantanganyang cukup kompleks. Seperti segmen pasar yang masih terbatas, inovasi label dan pengemasan, legalitas usaha (proses ijin usaha), standar mutu, dan manajemen kelompok,” pungkasnya. (fiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here