Beranda Lombok Barat KLB Malaria Dikhawatirkan Ganggu Pariwisata

KLB Malaria Dikhawatirkan Ganggu Pariwisata

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA STATUS MALARIA: Kepala Dikes Lobar, H Rahman Sahnan Putra saat menjelaskan alasan menetapkan kasus malaria sebagai KLB saat rapat dengan Komisi IV DPRD Lobar, kemarin.

LOBAR —Penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) atas kasus malaria di Lombok Barat (Lobar) oleh Pemkab Lobar, menjadi pertanyaan kalangan dewan setempat. Legislatif mempertanyakan baik buruk dengan ditetapkannya status tersebut bagi Lobar nantinya. Terlebih dengan upaya pemulihan pascagempa bumi. Dikhawatirkan akan berdampak kepada kunjungan wisata yang datang ke Lobar, terutama Senggigi.
Mengingat lokasi terbanyak terjadinya kasus malaria di Kecamatan Gunung Sari dan Batulayar. “Apa baik buruknya nanti dari penetapan KLB ini. Kita khawatir akan mempengaruhi kunjungan wisatawan juga,” kata Ketua Komisi IV, Munawir Haris saat rapat leading sektor Komisi IV di DPRD Lobar, kemarin.
Kekhawatiran menurunnya kunjungan wisatawan atas penetapan status itu, juga datang dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lobar. Apalagi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak menurun akibat gempa. Lantaran banyak hotel dan restoran yang tutup karena menurunnya kunjungan wisatawan ke Senggigi dan lokasi wisata lain di Lobar. “Kita khawatir, Senggigi semakin terpuruk,” ujar Kepala Bapenda Lobar, Hj Lale Prayatni.
Meski demikian, Bapenda tetap mendukung langkah Pemkab tersebut demi penanganan kesehatan masyarakat Lobar. Lale bisa memahami baik buruknya dampak penetapan status itu. “Upaya yang dilakukan Dikes (Dinas Kesehatan) sudah bagus,” pujinya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar, H Rahman Sahnan Putra mengatakan, meskipun sudah ditetapkan KLB, namun malaria belum menjadi wabah. Ia memberikan gambaran bila kasus malaria tidak ditetapkan sebagai KLB, serta penanganannya tidak dilakukan secara baik, benar. Apalagi tidak mendapat dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat. Maka hitungan minggu, kasus malaria akan menjadi wabah. “Ini kalau kita tidak tetapkan KLB. Sekarang ini belum wabah, masih KLB,” ujarnya.
Status KLB ini dilihat dari kasus pada bulan yang sama pada tahun lalu, meningkat dua kali lipat atau lebih di tahun ini. Menurutnya, dengan status KLB justru akan mengerakkan pemerintah provinsi dhingga pusat untuk membantu Lobar. “Begitu kita naikkan (KLB), hari ini di provinsi sedang rapat membantu Lobar. Di tingkat nasional, sampai hari ini timnya sedang berada di lapangan (Lobar) terus melakukan assessment untuk upaya menekan penyebaran malaria di Lobar,” ungkapnya.
Mengenai kekhawatirkan akan mempengaruhi kunjungan wisata, Rahman mengajakan semua pihak tidak berpikir kemungkinan terburuk. Alasannya, kasus ini belum menjadi wabah. Justru ia khawatir jika jangkauan penyebaran malaria akan cepat meluas. Dari satu nyamuk betina penyebab malaria, memiliki jangkauan terbang hingga 1,5 kilometer (km). Artinya, dapat menjangkau orang lain yang kemungkinan letaknya 1,5 km dari penderita malaria. “Ini yang harus dipahami bersama. KLB ini diambil untuk mencegah jangan sampai kasus ini menjadi wabah,” tegasnya.
Kasus malaria yang sudah terdata hingga saat ini mencapai 114 penderita. Sebagian penderita sudah dirawat di rumah sakit. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here