Beranda Mataram Dolar Meroket, Besi Ikut Mahal

Dolar Meroket, Besi Ikut Mahal

BERBAGI

MATARAM —Korban gempa bumi yang akan kembali membangun rumahnya, harus mengeluarkan dana lebih. Itu lantaran, harga besi sedang meroket. Bukan karena tingginya permintaan. Melainkan nilai tukar rupiah terhadap dolar sedang tinggi, sehingga berimbas ke harga besi. “Sejak Senin (10/9), harga besi Rp 300 per kilogram. Sebelum dolar naik, harganya di bawah itu,” kata Bobi dari perwakilan Depo Jaya Bangunan usai rapat dengan jajaran Pemkot Mataram di ruang Kenari, kemarin.
Menurutnya, harga besi kerap fluktuatif sesuai kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar. “Harga pokok besi mengikuti dolar. Kalau masalah di local, utamanya di Mataram adalah ongkos angkut karena mengikuti kenaikan harga,” katanya.
Depo Jaya Bangunan juga telah melakukan operasi pasar khusus bahan bangunan di Lombok Utara beberapa minggu lalu. Di luar besi, ia memastikan, harganya normal. Saat ini sedang tinggi permintaan untuk triplek, dan calsiboard. Sedangkan untuk paku, lebih banyak menggunakan system daur ulang. “Untuk besi, kami gak bisa berbuat apa-apa,” imbuhnya.
Sementara untuk semen, Dwi dari PT Saka Agung Abadi selaku distributor Semen 3 Roda mengatakan, stok melimpah karena belum banyak konsumen yang membeli. Sementara untuk harga, dari pabrik yang menentukan. Namun biasanya, setiap bulan Agustus dilakukan penyesuaian harga.
Untuk itu, Dwi menyarankan Pemkot Mataram membuat surat ke pabrik agar tidak menaikkan harga semen terlebih dulu. “Setiap Agustus selalu ada penyesuaian. Kalau bisa untuk kondisi sekarang bisa ditahan dulu. Jangan sampai belum selesai masa recovery, harga sudah naik,” sarannya.
Humaini Amrullah mewakili Semen Bosowa juga memastikan, ketersediaan stok semen aman karena disuport dua alur distribusi. Salah satunya diangkut kapal yang dikemas langsung dari pabrik. “Stok di gudang yang ada di Bengkel 900 ton, dan di distributor lain 1.200 ton. Jumlah itu cukup menyuplai kebutuhan yang ada,” jelasnya.
Namun beberapa hari terakhir, ia mengaku jika proses pengantaran terpengaruh proses distribusi. Seperti ketika melewati jembatan timbang, satu truk yang biasanya bisa mengangkut 200 sak semen, kini dikurangi menjadi 150 sak dengan biaya yang sama. Begitu juga angkutan jenis fuso, dari biasanya mengangkut 400 sak, berkurang menjadi 350 sak. Mengenai harga, menurut dia, masih normal yakni Rp 51.500 per sak. “Itu harga standar normal. Sebelum gempa juga segitu,” imbuhnya.
Sementara Asisten I Setda Kota Mataram, L Martawang mengatakan, kenaikan harga besi harus dicegah. Sebab, jika yang dibangun rumah permanen tahan gempa tentukah memakai beton, besi, dan semen. “Itu sesuai indicator dari BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan),” katanya.
Jika terjadi penyimpangan, BPKP mengisyaratkan ancamannya hingga hukuman mati. Melihat hal itu, Martawang memastikan, permintaan akan besi akan meningkat. Sehingga harus dipastikan, harga tidak naik. “Kita akan bersurat ke pusat agar di Lombok ada perlakuan khusus, mungkin dengan subsidi agar harga besi tidak naik,” katanya.
Begitu juga dengan semen. Pemkot juga akan membuat surat langsung ke pabriknya guna meminta tidak dulu melakukan penyesuaian harga di bulan-bulan ini. “Khusus Mataram, kita minta tidak dinaikkan. Bagaimana pabrik mengaturnya. Kita minta dapat keistimewaan,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, L Alwan Basri.
Ditambahkan Alwan, pemkot ingin mendapat kepastian dari distributor bahan pokok, dan bahan bangunan jika tidak ada kenaikan harga, serta stok aman. “Kita ingin yakinkan masyarakat kalau stok aman, agar tidak terjadi gejolak di masyarakat,” ujarnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here