Beranda Headline Wabah Malaria Mulai Menyebar

Wabah Malaria Mulai Menyebar

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA FOGGING: Jajaran Polres Lobar memfogging tenda pengungsian di Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari Kecamatan Batulayar, Senin (10/9) sore.

Polres Lobar Lakukan Fogging

LOBAR—Polres Lombok Barat (Lobar) melakukan fogging di sejumlah dusun dan desa yang ada di Kecamatan Batulayar, Senin (10/9) sore. Menyusul mulai menyebarnya wabah malaria yang menyerang warga di pengungsian, pascagempa bumi. Fogging dilakukan di Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari Kecamatan Batulayar. Sekitar 20 personel dari Polres Lobar, Polsek Senggigi dan bantuan dari Polda diterjunkan untuk melakukan fogging di tenda pengungsian warga setempat.
Kapolres Lobar, AKBP Heri Wahyudi mengatakan, kegiatan ini bentuk langkah antisipasi kemungkinan menyebarnya penyakit malaria. Apalagi sudah ada sejumlah kasus malaria yang menjangkiti para pengungsi di Kecamatan Batulayar dan Gunung Sari. “Karena ada pemberitaan (malaria) di Lobar, khususnya di wilayah Gunung sari. Ini langkah antisipasi kita saja,” ungkap Heri.
Menurutnya, Polres akan berupaya melakukan fogging ke lokasi pengungsian warga. Untuk Senin sore, terdapat dua lokasi yang dilakukan fogging. Salah satunya Dusun Kekeran, Desa Teluke, Kecamatan Batulayar. Di lokasi itu, seorang warga mengaku anaknya terserang malaria. “Snak saya panas, muntah. Pas diperiksa dibilang kena malaria,” ujar Rukiyah, warga setempat.
Sebelumnya Bupati Lobar, H Fauzan Khalid mengaku terdapat sejumlah kasus malaria yang menjangkiti warga di wilayah binaan dua puskemas. Yaitu Puskesmas Gunung Sari dan Penimbung di Kecamatan Gunung Sari. Ia sudah meminta Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar untuk mengkaji kemungkinan ditetapkannya wabah malaria ini sebagai kejadian luar bisa (KLB). “Dari sisi persyaratan (ditetapkan KLB) sudah memenuhi. Dari lima persyaratan, kalau tiga sudah memenuhi bisa ditetapkan KLB,” ungkapnya belum lama ini saat mendampingi kunjungan Mendikbud ke Desa Kekait itu.
Salah satunya, angka kejadian dua kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Terdapat 103 orang positif malaria dan tersebar di 28 dusun, serta 10 desa. “Ini sudah dua kali lipat dari jumlah tahun 2017,” sambungnya.
Meski sudah memenuhui syarat ditetapkan sebagai KLB, namun Bupati tetap berhati-hati dengan berbagai kemungkinan. Sehingga masih dilakukan pengkajian baik buruknya ditetapkannya KLB malaria. Jika kejadian ini masih bisa dilakukan penanganan seperti KLB, tanpa ditetapkan statusnya. Pihaknya tidak akan menetapkan status KLB. “Kalau kita bisa optimal membantu, terus provinsi mensuport penuh, termasuk kementerian kesehatan, kemungkinan tidak. Tapi kalau tidak ada support, ya terpaksa kita tetapkan KLB,” ujarnya.
Bila ditetapkan sebagai KLB, Pemprov NTB wajib membackup penuh Pemkab Lobar dalam penanganannya. “Tidak ada alasan untuk tidak,” tegasnya.
Sejauh ini support sudah diberikan, hanya saja dirasa belum mencukupi. Baik dari sisi tenaga kesehatan, obat-obatan maupun upaya fogging. Pemkab juga sudah mengupayakan kelambu bagi warga yang terjangkit malaria. “Kalau buat yang terkena sudah mencukupi. Cuma kita butuhkan upaya preventif untuk masyarakat yang belum kena, ini yang belum cukup (untuk kelambu),” pungkasnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here