Beranda Headline Warga Sekarang Bisa Tidur Nyenyak

Warga Sekarang Bisa Tidur Nyenyak

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA BERI KETERANGAN: Ahli Geologi dan Gampabumi yang juga merupakan peneliti LIPI, Danny Hilman Natawidjaja (kanan), Ahli Kelautan dan Tsunami, Gegar Prasetyo (kiri) dan Sekda NTB, Rosyiadi Sayuti (tengah) saat jumpa pers, kemarin di Mataram.

MATARAM – Ahli Geologi dan Gampabumi yang juga merupakan peneliti LIPI, Danny Hilman Natawidjaja menegaskan, kondisi Lombok saat ini tidak akan berpotensi gempa besar lagi, seperti isu yang muncul dan membuat resah masyarakat Lombok.

Dimana, energi yang tersimpan puluhan tahun telah dikeluarkan dalam gempa dengan kekuatan 7.0 SR yang terjadi pada 5 Agustus lalu. Jikapun ada susulan yang ada hanya berkekuatan di bawah 4 SR. Sehingga masyarakat Lombok diminta tidak lagi khawatir, apalagi mereka yang rumahnya masih kokoh sudah aman ditempati.

“Unutk Lombok bagian Utara sudah keluar energi besarnya. Energi itu tersimpan antaran 50 sampai 100 tahun lalu,” terangnya saat jumpa pers, kemarin.

“Tetapi hasil ilmu pengetahuan juga kita tidak bisa lepas dari faktor Ex, kehendak Allah SWT,” tambahnya.

Danny menyampaikan, gempabumi yang melanda Lombok bukan hal yang tidak biasa. Tapi gempa itu sudah biasa dan sering terjadi tidak saja di wilayah NTB, namun secara keseluruahan Indonesia juga sudah terbiasa muncul gempa.

Menurut Danny, beberapa hal yang harus diketahui masyarakat, dimana gempa itu merupakan siklus, setiap sumber gempa ada siklusnya bukan mingguan atau bulanan, namun ratusan bahkan ribuan tahun. Sehingga membutuhkan waktu lama untuk terjadi gempa besar lagi karena ada proses pengisian enegri lagi.

Setelah meneliti dan melihat lokasi gempa, bisa menyimpulkan hasil obeserbasinya, ada satu jalur gempa besar disebut sesar naik unsur belakang Nusa Tenggara, ada terbentang mulai dari Pulau Alor (Flores NTT), Timur Flores, Subawa, Bali sampai Jawa. Sehingga, bisa dibagi menjadi tiga segmen yaitu, Lombok bagian Tengah, Barat dan Timur. Itu lah sebabnya kenapa gempa ada rangkaian dan cukup lama diraskan. Gempa itu, ada istilah pembukaan atau gempa uatama dan gempa susulan seperti gempa kedua tanggal 19 Agustus kekuatan 6,3 dan 6,9 SR.
Berikutnya rangkaian kedua memang benar tidak berasal dari sumber yang sama atau titik yang sama. Namun panjang sesar juga memiliki sub atau cabang lainnya. Danny mencontohkan, sama seperti satu RW namun terdiri dari beberapa RT yang tenentu secara lokasi berbeda. Kemudian segmen Barat Terangan Lombok Utara di sana gempa pun pernah terjadi tahun 1979 dan ada juga tahun 1992 di Flores. Jika dilihat dari bentuk atau model gempanya sejak tanggal 29 Juli itu terlihat semua kekuatan gempa yang tersimpan di KLU sudah dilepaskan semua.

Di hadapan awak media dan berbagai warga yang menyaksikan langusng jumpa pers itu, Denny menyampaikan proses penekana sesar itu sekitar 2 cm pertahun, untuk menghasilkan gempa besar butuh melenting 1 sampai 2 meter. Jika dibagi maka dalam 100 tahun lagi gempa di Lombok bagian utara bisa terjadi.

Kemudian, untuk segmen Barat Timur dan Utara, hasil penelitian sudah dilepaskan. Sehingga, bisa dikatakan KLU aman dari gempa 50 sampai 100 tahun bahkan seluruh pesisir utara KLU paling aman karena sudah lepas tekanannya. Sebetulnya jiga tiga segmen itu kompak mengeluarkan enegeri maka potensi gempa akan bisa mencapai 7.5 SR. Namun dari model kejadianya rata rata bergantian.

Sementara untuk potensi gempa besar diakuinya masih ada di bagian Barat Timur selat Bali. Bahkan bagian Selatan ada lebih besar mega trust. Hal itu dikatakannya karena sesar itu membentang mulai dari Sumbawa, Jawa, Sumatera. Malah bisa dikatakan, seluruh indonesia tidak ada yang aman dari gempa. Namun disampaikan sebetulnya untuk Mataram lebih aman dari pada Bandung. Karena, di Bandung sepanjang 15 Km itu jalur gempa besar menyimpan magnitudo 7.0.

“Jakarta juga menyimpan magnetudo. Intinya, tidak ada yang bisa prediksi bahwa akan ada gempa besar lain di pulau Lombok,” jelasnya.

Sementara itu, untuk posisi sesar naik saat ini miring ke arah selatan sekitar 30 derajat. Lombok ini bergerak ke Utara dan ke Atas sekitar 1 sampai 2 meter, Dimana posisi wilayah KLU naik 50 centi meter. Sehingga, untuk menghimpun energi di Utara ditekan dari Selatan butuhkan waktu lebih 50 tahun. Pasa kesempatan itu Danny juga memabntah soal ada kaitannya dengan Fiji namun yang jelas, lanjutnya sumber-sumber gempa berhubungan dengan wilayah sekitarnya saja.

Ditanya kondisi bawah Lombok saat ini, Danny mengaku memamg kondisinya retak-retak namun keretakannya tidak saja di paulau Lombok bahkan di semua Pulau di Indonseia tidak ada yang mulus. Kembali Danny menegaskan, bahwa wilayah Obel-obel (Lotim), Pemenang (KLU) semua energi sudah dilepas, segmen Timur juga sudah lepas dari Barat ke Sumbawa.

“Di Lombok tidak ada energi, tapi di Sumbawa, masih menyimpan energi sekitar 7 SR,” sebutnya.

Dalam meneliti kondisi pasca gempa, ia mengaku menggunakan tiga metode pertama Sesmograf yang bisa memonitor aktifitas getaran gempa, kedua Geonesi atau semacama GPS yang bisa divisualkan memantau titik titik pergerakan bumi namun unutk di Lombok belum banyak hanya terdapat antara delapan sampai 10 GPS saja. Terakhir menggunkaan metode Geologi, yaitu melalui observasi pantai dengan meilhat karang yang naik sehingga bisa dilihat energi yang sudah dikeluarkan. Untuk di KLU dan Lotim hasil penelitannya digunakan dengan melihat posisi karang yang sudah naik dan berada diketinggian berapa. Dengan itu maka dapat dianalisa berapa kekuatan gempa yang masih tersimpan dan posisi sesar naiknya berapa.
“Makanya di KLU hanya 50 Centi. Untuk gempa susulan energinya akan terus berkurang di bawah 4 SR,” jelasnya.

Ditanya hubungan gempa dengan Gunung vulkanik. Bagi Danny gempa itu bisa memicu aktivitas Vulkanik. Akan tetapi, sejauh pantauannya, tidak ada aktiftas tersambung dengan Rinjani. Sehingga bisa dibilang, Rinjani aman saja.

Sementara itu, Ahli Kelautan dan Tsunami, Gegar Prasetyo menjelaskan untuk dapat melihat apakah sunami bisa terjadi paling maksimal 30 menit setelah gempa terjadi. Itupun harus dilihat dari kekuatan gempanya misalanya gempa terjadi sampai 25 detik maka diharuskan agar segera berlari ke bukit yang lebih tinggi. Jika masyarat masih bisa berlari lari maka sangat kecil sunami akan terjadi. Sementara unutk kondis Mataram dilihatnya jauh dari lokasiterjadi tsunami. Tsunami itu terjadi di laut walaupun episenternya di darat. Kalau gempa terjadi dengan kekuatan 7,5 SR di laut paling tinggi air naik hanya mentok 1,5 M dengan panjang daratan hanya 500 m dari pantai.
“Tapi kalau Mataram sangat aman, tidak perlu khawatir,” kata pria yang juga ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) itu.
Ditanya potensi tsunami di wilayah Lombok lainnya. Siregar mengaku tidak hanya di Lombok tetapi di seluruh kawasan Indonesia terutama di bagian selatan. Artinya, Selat Selatan Lombok juga ada potensi namun jika itu terjadi tidak hanya akan berdampak di Lombok saja tetapi juga Bali dan bahkan pulau Jawa.
“Intinya kalau sudah melebihi 30 menit setelah gempa maka jangan cepat percaya kalau ada yang isukan tsunami,” pungkasnya. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here