Beranda Headline Pendapatan Bapenda Kedodoran

Pendapatan Bapenda Kedodoran

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA MEROSOT: Aktivitas petani saat memanen tomatnya. Kendati harga tomat melorot ditingkat petani maupun di pasaran pascagempa bumi melanda Pulau Lombok.

LOTIM – Satu bulan terakhir sejak terjadi gempa bumi melanda Lombok Timur (Lotim), pendapatan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim kedodoran. Angka penurunannya mulai dari 60 hingga 70 persen dari biasanya. Utamanya, pendapatan dari sektor pasar.
Kepala Bapenda Lotim, Salmun Rahman, kepada Radar Mandalika, kemarin mengatakan, upaya mengejar target yang sudah dipasang Bupati tidak membuat Bapenda pesimis. Tetapi, Bapenda mengaku berat bisa mencapai target, lantaran terjadinya bencana alam melanda daerah ini. “Pasar agak sepi dari aktivitas jual beli masyarakat,” jelasnya memberi alasan.
Dicontohkan Salmun, di pasar Pancor. Biasanya pendapatan dari pasar tersebut setiap harinya bisa memperoleh Rp 3,5 juta. Namun sekarang ini, setiap harinya hanya bisa menghasilkan Rp 800 ribu sampai Rp 900 ribu. Belum lagi pasar lainnya, juga mengalami hal serupa seperti di pasar Pancor. Bahkan, beberapa pasar terkena dampak langsung bencana gempa bumi seperti Sambelia dan Pringgabaya, mengalami kelumpuhan.
“Yang jelas, satu bulan terakhir penerimaan Bapenda turun. Tidak saja dari sektor pasar, tapi dari sumber pendapatan lainnya,” tegas Salmun.
Ia berharap Oktober mendatang, aktivitas jual beli masyarakat bisa normal kembali. Karena memang saat ini, masyarakat pedagang dan pembeli, masih dihantui rasa takut akan gempa susulan. Selain tingkat kemampuan ekonomi masyarakat juga belum pulih. “Kita susah juga dengan kondisi ini. Pedagang takut, pembeli juga takut. Malah di lantai dua pasar Pancor, kosong sama sekali tidak ada berani jualan,” tandasnya.
Guna memaksimalkan pendapatan daerah dari sektor pasar, pihaknya akan melakukan perbaikan tata kelola pasar daerah ini. Terdapat beberapa hal pokok akan menjadi perhatiannya, terutama kaitan dengan sewa toko. Tentu, berdasarkan klasifikasi dari toko tersebut. “Hasil kunjungan kami ke beberapa pasar di Lombok Barat dan Lombok Tengah, sistem tata kelola kita dengan di sana beda tipis. Tapi yang jelas, perbaikan akan terus kita lakukan, agar bisa lebih maksimal dalam mendapatkan PAD,” ungkapp Salmun.
Pedagang sayuran Pasar Pancor, Sahrah, kepada Radar Mandalika mengaku sejak terjadi gempa, harga sejumlah jenis kebutuhan masyarakat merosot. Mulai dari cabai, daging ayam dan lainnya. Satu contoh cabai, dibeli dari petani Rp 5 ribu per kg dan dijual pedagang Rp 7 ribu per Kg. Sementara daging ayam potong Rp 25 ribu per kg. Belum lagi jenis sayur-sayuran harganya ikut jungkir balik. “Pedagang tidak ada yang berani terlalu lama jualan. Pembeli juga sepi, makanya hampir-hampir modal pun susah kembali, karena kondisi bencana seperti ini,” kata Sahriah seraya mengatakan, beda dengan makanan siap saji, termasuk seperti telur, harganya justru makin naik. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here