Beranda Headline Melihat Kondisi Pengungsi Gempa di Lombok Barat

Melihat Kondisi Pengungsi Gempa di Lombok Barat

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA TINGGAL DI PENGUNGSIAN: Salah satu bayi tinggal di tenda pengungsian di Kecamatan Gunung Sari.

Bayi Kedinginan di Tenda Darurat, Huntara Sangat Dibutuhkan

Banyak bayi terpaksa harus tidur di tenda pengungsian akibat gempa ini. Entah sampai kapan bayi-bayi itu tidak bisa merasakan hangatnya tidur di rumah yang layak.

WINDY DHARMA-LOBAR

SUDAH berhari-hari, ribuan bayi terpaksa harus tinggal di tenda pengungsian bersama orang tuanya. Gempa bumi yang menguncang Lombok sejak beberapa pekan lalu, membuat ribuan rumah di empat kecamatan di Lobar rusak parah.
Dari data yang dihimpun, sekitar 6.119 bayi terpaksa tinggal di tenda-tenda terpal. Angka tersebut menjadi lebih besar lagi bila diakumulasi dengan jumlah balita di Lobar mencapai 25.290 orang. Kemungkinan angka itu akan bertambah, karena Dinas Kesehatan Lobar mencatat terdapat 3.510 ibu hamil yang sedang mengungsi.
Adapula ibu hamil yang bersalin di tenda darurat puskesmas. Seperti dialami Fitriani. Ibu berusia 23 tahun itu harus menjalani persalinan dengan dibayangi kekhawatiran guncangan gempa yang terus terjadi.
Dibantu bidan Puskesmas Penimbung Kecamatan Gunung Sari, ia melahirkan anak keduanya dengan selamat. Tepat pukul 03.30 dini hari, Jumat (17/8) lalu, Fitriani melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat 3 kilogram dan panjang 50 sentimeter. Cantika nama yang berikan untuk bayi berparas cantik itu. Kini bayi itu harus tinggal bersama ibundanya di tenda pengungsian berukuran 2,5×6 meter persegi. Bersama dengan ayah, kakak, dan para tetangga lainnya.
Saat ditemui di pos pengungsian Desa Gelangsar, Cantika sedang menangis kedinginan. Suara tangisnya memaksa sang ibu untuk membalut tubuh mungilnya dengan kain sarung seadanya.
Menurut Kepala Desa Gelangsar, Abdurrahman, terdapat lima bayi yang lahir di tenda darurat. Kini mereka terpaksa hidup seadanya di pengungsian. “Rumah mereka sudah hancur. Awalnya cuma rusak ringan, tapi gempa yang terakhir (19 Agustus) membuat rumah mereka hancur,” ungkapnya.
Di Desa Gelangsar, terdapat 821 rumah rusak akibat gempa. Sisanya kurang dari seribu rumah masih bisa diperbaiki karena hanya rusak ringan atau sedang. Kondisi itu sempat membuat Bupati Lobar H Fauzan Khalid prihatin. Ketika mengunjungi pos pengungsian di bawah bukit itu, ia membawa beberapa bingkisan yang dibutuhkan para pengungsi.
Melihat kondisi pengungsi, membuat orang nomor satu di Lobar ini membulatkan tekad untuk menyediakan hunian sementara (Sementara) bagi warganya. Kondisi cuaca dan rentannya bayi terserang penyakit di posko pengungsian, menjadi kekhawatirannya.
“Bayi-bayi ini yang paling rentan terhadap cuaca. Ini kenapa kita butuh huntara,” tegasnya. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here