Beranda Headline Menolak, Bupati Loteng Surati Presiden

Menolak, Bupati Loteng Surati Presiden

BERBAGI
JAYADI/RADAR MANDALIKA GANTI NAMA LAGI: Dua orang wisatawan asing baru keluar dari terminal Lombok Internasional Airport (LIA).

Suhaili: Warga Merasa Dilecehkan

PRAYA — Digantinya nama bandara Lombok Internasional Airport (LIA) menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), bakal menjadi petaka baru. Saat ini, beragam pandangan warga pun muncul. Lebih khusus warga Gumi Tastura. Tidak main-main, Bupati Loteng H Moh. Suhaili FT bicara dengan tegas dan menolak pergantian nama ini.

Suhaili mengatakan, pihaknya sebagai warga Loteng sangat menolak keras perubahan nama bandara. “Saya tolak keras. Saya mau bandara itu tetap menggunakan nama yang sekarang,” tegas Suhaili di pendopo, kemarin.
Suhaili menyampaikan, surat Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 1421 tahun 2018 tentang penetapan nama Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), disebutnya secara sepihak. Sebab, dalam mekanisme perubahan nama tersebut, Pemkab Loteng maupun warga tidak pernah dilibatkan oleh pemrov. Bahkan tidak ada koordinasi sebelumnya.
“Kok bisa tiba-tiba keluar nama baru. Intinya kami tetap tidak bakal setuju dengan nama bandara diganti. Tentu dengan perubahan nama akan timbul polemik baru di tengah masyarakat,” yakin bupati.
Seharusnya, kata Suhaili bila ingin melakukan pergantian nama, ada mekanisme yang harus dilalui. Artinya, sekarang dengan perubahan nama ini warga Loteng merasa dilecehkan dan tidak pernah dihargai oleh Pemprov. Sebab jika membuka sejarah, pembagunan bandara ini telah banyak menumpahkan darah. Parahnya lagi, Pemprov tidak pernah melakukan sosialisasi atau komunikasi kepada Pemkab Loteng bahkan pada tokoh masyarakat.
“Mekanisme dalam perubahan nama ini terkesan dipaksakan. Dan tidak penah mendapat peresetujuan dari Pemkab maupun warga Loteng,” sebutnya.
Menurut Suhaili, nama sebelumnya sangat bagus dan tepat, karena tidak pro maupun kontra. Apalagi dalam nama itu, ada kata Lombok yang mencakup semuanya. Dan sekarang jika bandara mengalami perubahan tentu akan menimbulkan permasalahan baru. Karena banyak yang akan tidak setuju, bukan dari masyarakat maupun pemerintah.
“Dari partai politik juga mempertanyakan ini,” katanya.
Suhaili menegaskan, sebagai warga Loteng siap mempertahankan nama bandara yang sebelumnya. Dan pihaknya juga sudah melayangkan surat protes maupun penolakan ke Presiden Jokowi.
“Kami siap untuk membela dan mempertahankan nama tersebut,” tuturnya.
Selain itu, sebagai aksi bentuk penolakan pergantian nama itu, jajaran Pemkab bersama semua tokoh masyarakat akan melaksanakan istigosah di dalam masjid bandara besok (pagi ini, Red). Jika tidak diizinkan, pihaknya akan gelar istigosah di jalan raya sekitar bandara.
“Kami sangat kecewa. Pastinya Pemkab Loteng selalu disalahkan. Namun saat pergantian nama bandara kita dilupakan,” cetusnya.
Untuk kondusifitas keamanan Loteng, pihaknya harapkan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum. “Kami harapkan masyarakat untuk tenang,” pesan Suhaili.

Sementara itu, Kades Ketara Lalu Buntaran memiliki pandangan yang sama dengan Suhaili. Warga lingkar bandara tentu sangat tidak setuju dengan perubahan nama tersebut.
“Kami sangat kecewa dengan keputusan yang tiba-tiba keluar,” kata dia. (jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here