Beranda Lombok Timur Ketika Bandara Lombok Menggunakan Nama Pahlawan Nasional

Ketika Bandara Lombok Menggunakan Nama Pahlawan Nasional

BERBAGI
IST / RADAR MANDALIKA Hasanah Efendi

Munculkan Pro Kontra, Kader NW Tanggapi Santai

Nama Lombok International Airport (LIA) diganti menggunakan nama pahlawan nasional, Almagfurlah Maulana Syaikh TGKH Muhamad Zainuddin Abdul Madjid. Pergantian itu, rupanya menimbulkan kontra dari kelompok tertentu.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

ALMAGFURLAH Maulana Syaikh, TGKH Muhamad Zainuddin Abdul Madjid, merupakan salah satu tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa hayatnya, Maulana Syaikh berjuang melawan penjajah melalui dakwahnya. 10 tahun sebelum bangsa ini merdeka, Maulana Syaikh mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) dan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai wadah perjuangannya. Perjuangan itu, dilakukan melalui bidang pendidikan, sosial dan dakwah, bersama para ulama lainnya.
Jauh hari sebelum pengusulan nama Maulana Syaikh sebagai pahlawan nasional, Pemerintah Provinsi dan Lombok Timur, mengabadikan namanya menjadi Jalan TGKH Muhamad Zainuddin Abdul Madjid menggantikan Jalan Pahlawan di jalan utama Kota Selong. Memang, usulan sebagai pahlawan nasional ke Kementerian Sosial (Kemensos) RI, dilakukan sejak masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atau dikenal SBY.
Namun dalam proses usulan itu, banyak kekurangan persyaratan yang harus dilengkapi. Sehingga sampai masa jabatan SBY berakhir, usulan tersebut belum terkabulkan.
Pergantian kekuasaan pun terjadi dari tangan SBY ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Proses usulan terus berlanjut dengan melengkapi semua kekurangan yang ada. Alhasil, pada masa pemerintahan Jokowi, gelar pahlawan pun disandang Putra Selaparang, yang memiliki singkatan nama Hamzanwadi ini.
Setelah mendapat gelar pahlawan nasional, Presiden Jokowi menyempatkan diri datang ke makam Almagfurlah Maulana Syaikh, dengan tema ziarah nasional. Seiring dengan perkembangan waktu setelah mendapatkan gelar pahlawan nasional, TNI mengganti nama Lapangan Udara (Lanud) Selaparang, menjadi Lanud TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Perubahan nama itu, langsung diresmikan oleh Panglima TNI, melibatkan pihak keluarga dari keturunan Maulana Syaikh.
Rupanya dalam kurun waktu tidak lama, pemerintah secara mengejutkan mengeluarkan SK pergantian nama Lombok International Airport (LIA) menjadi Bandar Udara International Zainuddin Abdul Madjid. Tentu, pergantian nama itu sudah melalui proses dan mekanisme sesuai aturan dan melalui kajian cukup mendalam. Begitu nama bandara diganti dengan nama penyandang gelar pahlawan nasional, muncul reaksi dari sejumlah pihak dari Lombok Tengah, menolak perubahan nama tersebut.
Namun, adanya reaksi penolakan itu ditanggapi santai oleh kader-kader NW. Adanya pro dan kontra seperti itu dianggap hal biasa, dan tidak mempermasalahkan. Menurut kader-kader NW, jangan karena ada ego kelompok dan kesukuan, kemudian menolak penghargaan yang diberikan pemerintah terhadap Maulana Syaikh sebagai pahlawan nasional. “Ayolah, mari berpikir jernih melihat ini sebagai penghargaan pemerintah pada pahlawan nasional kita. Kita harus melihat dari sudut pahlawan nasionalnya. Kan semua bandara itu namanya sesuai nama pahlawan daerah masing-masing. Kok kita tidak bangga, ada pahlawan nasional yang dijadikan nama bandara kita,” kata Hasanah Efendi, kader NW yang juga Ketua Pengurus Daerah Pemuda NW ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here