Beranda Praya Metro Mengulas Program Desa Tanggap Bencana di Lombok Tengah

Mengulas Program Desa Tanggap Bencana di Lombok Tengah

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA SIAP BEKERJA: Sejumlah Fasdes di Loteng saat mengikuti kegiatan pelatihan relawan tanggap bencana di Hotel Atria Gading Serpong Banten, Tangerang Selatan beberapa waktu lalu.

Hindari Berita Hoax, Tenangkan Warga Ketika Bencana Melanda

Sebanyak tiga desa di Lombok Tengah yang ditetapkan BNPB sebagai Desa Tanggap Bencana. Ketiga desa tersebut yakni Desa Kuta, Aik Berik dan Karang Sidemen. Lantas seperti apa programnya? Berikut laporan Radar Mandalika.

HAFIDZUDDIN – LOTENG.

DESA Tangguh Bencana (Destana) mulai digaungkan pemerintah pusat pascagempa bumi yang terjadi dua bulan terakhir. Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat, lembaga ini membentuk fasilitator desa (Fasdes) yang membantu mereka memberikan informasi yang sehat dan terhindari dari pemberitaan hoax yang datang, baik dari media sosial dan cerita yang tak jelas sumbernya.
Di Desa Kuta, Kecamatan Pujut khususnya, setelah mendapatkan amanah dan SK sebagai relawan dari pusat, tim pengelola kegiatan desa tangguh bencana ini pun siap menjadi penyambung lidah pemerintah dalam menyampaikan informasi dan penanganan sebelum, sedang dan usai bencana.
“Jadi tugas fasilitator ini langsung terjun ke masyarakat agar warga tidak cemas dan panik,” kata salah satu fasilitator Desa Kuta, Saharudin.
Sedangkan pihaknya bakal menyampaikan fakta akurat dan info yang benar dari lembaga terpercaya, seperti BMKG, bukan dari medsos.
“Ada oknum yang menyampaikan bahwa pariwisata di Lombok sedang bahaya karena bencana, sehingga wisatawan tidak berani ke Kuta lagi. Nah ini juga jadi tugas kita untuk mensterilkan isu tersebut,” jelas Sahar.
Padahal jika dianalisis seperti kejadian belum lama ini, gempa terjadi di daratan Lombok Utara. Sehingga tidak mungkin tsunami ke Pantai Kuta. Sebab, kejadian yang di KLU tersebut berada di lempengan sesar Flores dan yang dihadapi wilayah Kuta yakni lempengen sesar Australia yang berada di selatan Pulau Lombok.
Karenanya, bersama 30 fasilitator yang berasal dari warga Desa Kuta pihaknya yakin bisa jadi garda terdepan dalam mengakomodir masyarakat. Hanya saja, fasilitator desa yang peranannya diakui oleh pemerintah pusat ini belum memiliki armada, alat dan sekertariatan yang memadai dari pemerintah. Meski demikian pihaknya berjanji bakal mengemban amanah positif ini dengan baik.
“Pertama kita bakal bentuk Pokja dengan musyawarah bersama perwakilan masing-masing dusun di Kuta. Baru dari sana kita bisa usulkan baik dari segi pendanaan kegiatan ke pemerintah terkait,” ujarnya.
“Jika memang ada ancaman bencana, kita siap sampaikan melalui pengeras suara dan beduk masjid serta menyebar relawan dan kita evakuasi ke titik kumpul yang agak jauh dari bibir pantai,” sambung Fasdes lainnya, Baiq Fatmawati.
Sementara beberapa lokasi yang dijadikan titik kumpul warga yakni di Kantor Desa dan Pasar Seni Kuta serta di masjid. Jika bencana yang besar pihaknya bakal arahkan warga ke Bukit Sekar Kuning Desa Kuta. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here