Beranda Headline Gempa, Puluhan Ribu Karyawan Terancam Di-PHK

Gempa, Puluhan Ribu Karyawan Terancam Di-PHK

BERBAGI
Ahmad Rohadi/Radar mandalika BIMBINGAN: Dinas Tenaga Kerja Provinsi bersama kabupaten saat menggelar Bimtek bersama para pelaku usaha hotel dan restoran yang ada di Lombok Utara, kemarin.

KLU —Bencana gempa bumi yang melanda Lombok Utara berpotensi mengakibatkan ribuan pekerja di-PHK. Sebab hal ini menjadi kekhawatiran akan keberlangsungan perjalanan usaha wisata. Saat ini saja, hotel dan restoran sangat banyak terdampak dan mengalami kerusakan terhadap bangunannya, terutama di kawasan tiga gili.
Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kabupaten Lombok Utara mulai mengambil langkah-langkah cepat. Salah satunya dengan mengundang sejumlah pengusaha pariwisata, terutama yang berada di tiga gili.
“Kami bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) NTB mengambil langkah-langkah pencegahan dengan mengundang puluhan pengusaha wisata yang ada di tiga gili. Kita ingin mendengar secara langsung terkait dampak gempa yang dialami pengusaha,” ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal PTSP Lombok Utara, Vidi Ekakusuma, kemarin.
Menurutnya, dampak setelah gempa tentu juga dialami oleh pengusaha wisata. Sejauh apa persoalan yang terjadi menyangkut keberlangsungan karyawan yang bekerja tentunya pemerintah harus mengetahauinya. Karena kekhawatiran munculnya persoalan baru setelah bencana yang menimpa Lombok Utara pada khususnya ini pemerintah daerah berupaya melakukan berbagai macam pencegahan.
“Kita melibatkan Disnaker Provinsi dalam mencari solusinya. Puluhan pengusaha kita undang untuk berkonsultasi untuk mencari solusinya karena sudah ada pengaduan-pengaduan pekerja yang masuk ke dinas, baik itu menyangkut PHK maupun upah yang diberikan,” jelasanya.
Dikatakannya, kegiatan-kegiatan seperti ini tidak akan dilaksanakan sekali saja. Sebab selanjutnya juga akan melibatkan pihak kementerian sebagai bagian untuk mengambil kebijakan.
“Kita harus perbanyak semacam klinik coaching atau konsultasi antara pengusaha dan pekerja guna menyelamatkan pekerja-pekerja terutama di sektor pariwisata agar tidak muncul persoalan baru nantinya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan Disnaker Provinsi NTB, Lutfin Syarif mengatakan, kontek pertemuan saat ini masih sebatas konsultasi pihak pengusaha menyangkut persoalan yang terjadi setelah bencana. Namun dalam pertemuan selanjutnya harus ada pengambil kebijakan atau eksekutor terkait persoalan-persoalan yang terjadi menyangkut nasib para pekerja. Sehingga, hasil konsultasi itu terjawab apa yang harus dilakukan dan tidak oleh pemilik perusahaan maupun pekerja.
“Selanjutnya harus kita undang juga berbagai pihak seperti dari BPJS, Dispenda ataupun yang pihak terkait lainnya yang nantinya bisa langsung mengambil keputusan,” jelasanya.
Kondisi yang terjadi setelah bencana mengakibatkan tidak sedikit perusahaan yang mengalami kerugian akibat belum beroperasinya secara maksimal perusahaan-perusahaan khususnya yang ada di tiga gili.
“Kami akui cukup resah saat ini melihat kondisi yang ada di perusahaan. Satu sisi karyawan yang bekerja harus di perhatikan namun satu sisi kondisi perusahaan sedang tidak berjalan,”ujar HRD Vila Ombak, Marwan.
“Di Vila Ombak sendiri kerusakan mencapai 30-40 persen dan kini dalam kondisi perbaikan. Dari 149 kamar yang kita miliki hanya 13 kamar yang beroperasi dan itupun kita jual social rate. Artinya, kami tidak bisa memperkejakan seluruh karyawan yang ada yang jumlahnya mencapai 300 orang,” sambungnya.
Dikatakannya, solusi yang diambil sekarang ini khususnya Vila Ombak memberikan cuti karyawan-karyawan sementara waktu. Namun, cuti karyawan tidak dalam kontek memberhentian melainkan cuti sementara waktu dengan tidak mendapatkan gaji.
Adapun bagi karyawan yang tidak cuti maka dipekerjakan di bagian-bagian renovasi yang rusak dan mereka tetap menerima gaji meski tidak sebesar gaji mereka pada saat sebelum bencana terjadi.
“Kita maksimalkan sekarang ini renovasi yang rusak hingga September nanti. Kami targetkan pada Desember semua sudah kembali normal dan semua karyawan bisa bekerja kembali seperti biasa,” janjinya.
Lain halnya dengan manajemen Berusang Besar dan Sunset Resort yang sejumlah pekerjanya belum masuk bekerja karena alasan masih trauma. Sehingga pihak perusahaan bakal mengambil langkah salah satunya bisa pada pemecatan. Pasalnya, karyawan yang hingga saat ini masih belum masuk kebanyakan berasal dari luar Lombok Utara. Sedangkan yang dari Lombok Utara semuanya masuk bekerja meski dalam kondisi sepi kunjungan.
Untuk diketahui, saat ini total jumlah perusahan yang ada di Lombok Utara mencapai 684 perusahan. Sementara jumlah tenaga kerja lokal mencapai 12.500 orang yang kini terancam di-PHK. (cr-dhe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here