Beranda Mataram Pembersihan Bangunan Jangan Molor

Pembersihan Bangunan Jangan Molor

BERBAGI
Ririn/Radar Mandalika RAPAT: Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana memimpin Koordinasi Percepatan Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi di Kota Mataram, kemarin.

MATARAM —Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana meminta proses pembongkaran bangunan memiliki jadwal waktu yang ditetapkan. Ini sebagai antisipasi agar bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, dengan adanya bantuan dari aparat TNI untuk pembongkaran bangunan yang rusak parah akibat gempa. “Pembersihan area di tiga lingkungan, terutama di Pengempel Indah harus ada jadwalnya kapan selesai, agar diketahui kapan pindah ke lingkungan lain,” kata Mohan saat Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi di Kota Mataram, kemarin.
Rapat mengagendakan evaluasi terkait keseluruhan proses yang sudah dan akan dilakukan dalam tahapan-tahapan penanganan. Penekanan Wakil Wali Kota, jangan sampai masyarakat lingkungan lain menunggu lama untuk dibongkar. “Empat sampai lima hari jadi toleransi waktu, sudah harus bergeser,” tegasnya.
Diakui, dukungan alat berat dan personel juga menjadi kendala. Karenanya kondisi sata ini yang masih dibackup aparat TNI, maka pemkot harus mengefektifkan dukungan alat dan tenaga yang ada saat ini. “Anggota TNI 120 orang itu gak tahu kapan ditarik. Jadi harus manfaatkan waktu,” imbuhnya.
Begitu pembongkaran di Lingkungan Pengempel Indah tuntas, ia minta kepada camat setempat agar pengungsi bisa masuk ke kampung dan menempati lahannya masing-masing. “Mungkin warga merasa nyaman di atas tanah sendiri. Kalau menunggu dibangunkan RISHA akan lama. Karena urusan administrasi dan teknisnya lama,” jelasnya.
Ia tak ingin masyarakat dihinggapi rasa ketidakpastian, karenanya penting diberi tahukan jadwal pembongkaran itu ke masyaralat. Dengan begitu, warga memiliki kepastian dan kesiapan. Setelah Pengempel Indah rampung, pembongkaran akan bergeser ke Lingkungan Tegal. Meski secara topograsi, wilayah Tegal agak ribet di lahannya. “Alat berat susah masuk. Sehingga ada titik-titik yang pembersihannya harus dilakukan manual,” katanya.
Mengenai pembersihan manual itu, Mohan meminta agar dibackup tenaga. Bukan asal tenaga biasa, namun tenaga yang professional. Artinya, meski kondisi masih kerap terjadi gempa susulan, pekerjaannya tak terpengaruh. “Harapannya ada tenaga profesional,” imbuhnya.
Asisten I Setda Kota Mataram, L Martawang menyampaikan usulan Kepala Dinas PUPR dan Perkim untuk penambahan alat berat miliki TNI. Namun kesulitan pada armada pengangkutan. “Kalau dengan cara sewa, apakah dana tidak terduga bisa digunakan untuk menyewa alat,” jelasnya.
Terhadap pembersihan di luar empat lingkungan yang terdampak paling parah, sifatnya bisa individual. Artinya, tidak bisa menggunakan alat berat. “Kita harus sewa pihak ketiga, nanti pihak ketiga sediakan tenaga yang punya keberanian,” katanya‎.
Menanggapi hal itu, Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito menjelaskan, dana tak terduga bisa digunakan untuk menyewa kendaraan pengangkutan alat berat. “Dana tidak terduga, bisa digunakan. Tinggal siapa leading sektor yang gunakan,” sarannya.
Termasuk untuk peminjaman tenaga dari luar. Berdasarkan komunikasinya dengan Direktur di Kementerian PUPR, tenaga kerja dalam daerah praktis tidak bisa bekerja. “Kalau datangkan dari liar, setengahnya lari. Kita harus cari tenaga kerja yang punya nyali lebih baik. Itu bisa dibiayai dari dana tidak terduga. Tinggal rencanakan dan ajukan berapa kebutuhannya,” pungkasnya. (rin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here