Beranda Lombok Barat Ketika Masalah Baru Mulai Mengintai Pengungsi

Ketika Masalah Baru Mulai Mengintai Pengungsi

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA PERAWATAN: Beberapa pengungsi menjalani perawatan di rumah sakit yang ada di Lobar.

Sanitasi Buruk, Pengungsi Mulai Diserang Malaria

Berbagai penyakit mulai mengancam para pengungsi yang ada di posko pengungsian. Salah satunya malaria. Bagaimana mencegahnya?
WINDY DHARMA-LOBAR

Sudah sebulan pengungsi tinggal di tenda-tenda pengungsian. Kondisi ini mulai membuat para pengungsi tidak nyaman. Apalahi musim penghujan segera datang. Dikhawatirkan akan bermunculan penyakit yang menyerang para pengungsi.
Seperti dialami pengungsi di sejumlah desa di wilayah Gunung Sari. Terutama di daerah pelosok perbukitan. Mereka tinggal di bawah tenda seadanya, dan harus berjejal hingga 25 orang dalam satu tenda. Kondisi diperburuk dengan pasokan air dari gunung menipis, akibat rusak pipa air akibat gempa.
Praktis para pengungsi hanya bergantung pada bantuan pemkab dan relawan. Diperparah dengan sanitasi yang buruk, membuat banyak pengungsi terjangkit malaria. “Ada puluhan warga terkena malaria. Sebagian sudah ditangani. Ini karena sanitasi buruk,” kata warga Dusun Pelosok, Desa Mekar Sari, Kecamatan Gunung Sari, Nasrun.
Dari tujuh dusun yang ada di desa itu, banyak juga yang terjangkit malaria. Masalah kebersihan di tempat pengungsian dan sulitnya air bersih, memaksa mereka beralih mengambil di sungai. Padahal belum tentu terjamin kebersihannya. “Kami terpaksa ambil air di kali, itu kotor. Sementara yang butuh air ada ribuan warga pengungsi,” ujarnya.
Kondisi pengungsian dengan buruknya sanitasi, disadari Dinas Kesehatan akan menimbulkan berbagai penyakit. Dikes bahkan menemukan, terdapat 32 kasus malaria di pengungsian. Tersebar di Desa Butit Tinggi Gunung Sari dengan 27 kasus, dan 5 kasus di Desa Mekar Sari. “Kita sudah laporkan ke crisis center di provinsi 3-4 hari sebelum kasus kita temukan,” kata Kepala Dikes Lobar, H Rahman Sahnan Putra belum lama ini.
Rahman menyayangkan hal ini kurang mendapat respon dari provinsi. Dikes pun melaporkannya ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta kelambu anti nyamuk.
Kondisi di pengungsian juga disorot kalangan DPRD Lobar. Menurut Wakil Ketua Komisi III DPRD Lobar, H Wahid Syahril, munculnya masalah ini harusnya lebih awal ditangani ketika tanggap darurat. “Saat ini saja banyak korban gempa terkena penyakit, apalagi musim hujan sebentar lagi. Jangan sampai muncul masalah baru. Harus diantisipasi,” tegas Wahid, kemarin.
Salah satu upaya mengantisipasi permasalahan ini, dengan menyiapkan rumah sementara bagi korban gempa. PKS sendiri berupaya membantu memfasilitasi Pemkab bertemu dengan sejumlah NGO untuk penanganan masa recovery ini. Hasilnya untuk mengantisipasi musim hujan, sejumlah NGO bersedia membantu pemkab membangun hunian sementara (Huntara). Hanya persoalannya mengenai lokasi pembangunan. “Perlu koordinasi dengan pemkab dan desa. Jika dibangun di lokasi rumah yang hancur, bagaimana nanti ketika warga mau membangun rumahnya lagi, Sehingga perlu ada lahan lain,” sarannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here