Beranda Mataram IB Sebar Posko Hingga Pedesaan

IB Sebar Posko Hingga Pedesaan

BERBAGI
CR-JE/RADAR MANDALIKA RELAWAN: Relawan dari Posko Indonesia Bangkit (IB) ikut membantu warga korban gempa Lombok.

MATARAM —Banyak yang menyangka, bila posko relawan bencana harus berada di lokasi bencana. Tidak harus berada di kota. Lain cerita dengan Indonesia Bangkit (IB) yang terletak di Jalan Teluk Awang, Kelurahan Pagutan, Kota Mataram. Ditemui di poskonya, kemarin (4/9), Herman selaku Koordinator Provinsi NTB menjelaskan alasan mendirikan posko induk IB di Provinsi NTB. Posko ini bertugas mengatur posko sentral yang tersebar pada beberapa titik di wilayah NTB. Sekaligus untuk menginput dan mengakses perkembangan situasi di lokasi, kemudian diinput ke IB pusat di Jakarta.

Didirikan sejak tahun 2006, posko IB tersebar di beberapa daerah di nusantara. Posko IB provinsi menjadi penghubung beberapa titik posko yang ada di lokasi gempa. Dengan akses perkembangan di level kabupaten sampai ke tingkat desa. “Wilayah sebaran posko sentral berada di tiga kabupaten dengan titik tertentu,” jelasnya.
Seperti Kabupaten Lombok Utara (KLU) berada di Desa Dangiang yang menjangkau beberapa desa di Kecamatan Kayangan, Gangga, dan Bayan. Sementara di Lombok Timur, posko sentral berada di Desa Lendang Tengak di Kecamatan Sambelia, dan Desa Karang Baru Kecamatan Wanasaba.
Kemudian di Sembalun, posko sentral berada di Desa Sajang di Kecamatan Sembalun. Sementara Kabupaten Lombok Tengah posko sentral IB berada di Desa Selebung, Kecamatan Batukliang. “Kalau di posko induk NTB, selain memastikan soal relawan, juga memastikan logistik yang akan didistribusikan ke beberapa titik lokasi IB,” katanya.
Ditambahkan, relawan posko yang ada di kabupaten juga harus berusaha menjangkau logistik seluas-luasnya. Kedudukan posko induk adalah memastikan semua aktifitas berjalan sesuai planning IB di kabupaten, kecamatan hingga pedesaan.
Posko ini menurut Herman, hanya ada pada situasi bencana. Di luar situasi itu tidak melakukan apa-apa. Salah satu fungsi posko induk adalah menghimpun perkembangan situasi secara berkala. Tidak hanya menghimpun akses situasi ataupun kondisi soal korban. Tetapi juga aktifitas IB yang dilakukan di titik lokasi. “Di situ kita mengetahui sejauh mana aktifitas kawan-kawan di lokasi. Selain melakukan penyaluran bantuan, dan aktifitas apa yang dilakukan lainnya. Serta evakuasi apa yang dilakukan relawan-relawan,” paparnya.
Berdasarkan jumlah relawan, dirasa relatif masih kurang. Di KLU misalnya hanya ada lima orang. Lombok Timur empat orang dan dua orang di Lombok Tengah. Keterbatasan itu membuat relawan tidak hanya bersandar pada relawan-relawan di dalam organisasi. Mereka merekrut relawan-relawan lokal yang ada di desa maupun relawan dari luar. Target IB, sampai kondisi yang ada di lokasi bencana bisa teratasi. “Selama kita masih dibutuhkan, kita akan tetap beroperasi di lokasi,” pungkas Herman. (cr-je/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here