Beranda Praya Metro Pemdes Selong Belanak Pengin PPL Diganti

Pemdes Selong Belanak Pengin PPL Diganti

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA PANEN: Sejumlah petani saat memanen jagung di lahan pertanian Desa Selong Belanak, belum lama ini.

PRABAR —Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Selong Belanak disoal. Pasalnya, sejak hampir satu tahun ini PPL tidak pernah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) setempat. Karena kurangnya koordinasi, pemdes bahkan tidak pernah mengetahui terkait bantuan pertanian yang diberikan pemerintah.
“PPL ini tidak pernah nongol untuk melakukan koordinasi,” keluh Sekdes Selong Belanak, Ahmad Nasri.
Selain itu, Nasri mempertanyakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) PPL. Karena selama ini PPL tidak pernah memberikan informasi terkait aktivitas pertanian ke pemdes. Seperti halnya pengembalian bibit yang sudah didrop, hasil kebun dan pertanian di masing-masing dusun, kebutuhan bibit, pengobatan serta biaya yang dihabiskan. Bahkan hingga berapa jumlah kelompok tani Pemdes nihil informasi. Padahal sudah menjadi tugas dan tanggungjawab dari PPL untuk menyediakan informasi terkait hal tersebut.
“Pada saat ada masalah baru PPL ke sini. Kami ingin sampaikan ke UPT Dinas Pertanian agar PPL diganti saja,” tegasnya.
Sementara itu, Kasi Kesra Pemdes Selong Belanak, HL Anwar menambahkan, tidak proaktifnya PPL nantinya akan berdampak pada data yang akan disajikan pemdes. Jika suatu waktu instansi hendak melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke desa terkait permasalahan pertanian. Padahal jika PPL aktif berkoordinasi dengan Pemdes, maka data yang akan disajikan jelas. Pemdes dalam hal ini akan mampu menjawab setiap pertanyaan dari UPT Dinas Pertanian.
“Jika ada masalah untuk alat operasional pertanian yang hilang atau rusak, kan kita di Pemdes bisa sama-sama hadapi dan bertanggungjawab,” tegas pria yang juga Ketua Kelompok Tani Tunas Urip Dusun Tomang-Omang ini.
Untuk diketahui lanjut dia, dari 11 dusun yang ada di Seling Belanak rata-rata memiliki luas sekitar 6 hektare lahan pertanian. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk menggarap tanaman padi, palawija, kedelai, hingga jagung.
“Untuk jagung saat ini Rp 3.200 per kilogram. Kedelai Rp 14 ribu per kilogram. Para petani masih antusias menggarap lahannya masing-masing meski keberadaan PPL menjadi persoalan,” pungkasnya. (fiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here