Beranda Headline Bule Masih Nyaman di Loteng

Bule Masih Nyaman di Loteng

BERBAGI
DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA TETAP NYAMAN: Empat orang wisatawan asing tengah menikmati indahnya Pantai Selong Belanak, sore kemarin.

PRAYA – Pasca guncangan gempa bumi yang menghantam Pulau Lombok, bahkan NTB tidak terlalu mengganggu liburan wisatawan asing di sejumlah destinasi wisata di Lombok Tengah (Loteng).  Salah satunya di Pantai Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat.

Pantauan Radar Mandalika, sejumlah wisatawan asing (bule, Red) tengah asyik berselancar di Pantai Selong Belanak. Demikian juga yang tengah menikmati indahnya sejumlah obyek wisata di Selong Belanak.

Bupati Loteng, H Moh. Suhaili FT menegaskan, tidak terlalu berdampak gempabumi yang meluluhlantakan bangunan rumah dan lainnya di KLU dan Lotim. Kondisi Loteng kondusif, tertib aman dan nyaman dikunjungi wisatawan.

“Ini buktinya wisatawan asing masih ada di pantai Selong Belanak,” kata Bupati di hadapan media, sore kemarin.

Pascagempa, Suhaili melihat di media sosial khususnya begitu tidak enak dibaca oleh wisatawan soal tulisan dan postingan. Seolah-olah jika diibaratkan Lombok khususnya sebentar lagi tenggelam.

“Mudahan ini tidak perbuatan tangan jahil atau didasari persaingan bisnis,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Loteng, HL Fathurrahman menegaskan, sejumlah destinasi wisata di Selatan Loteng masih aman. Semua infrastruktur tidak ada yang rusak, termasuk jalan.

“Cuma kita kenak imbas karena nama Lombok yang disebut,” katanya di Selong Belanak.

Ia menjamin, bagi wisatawan yang berkunjung ke Loteng dipastikan tetap aman dan nyaman. Untuk itu, ia meminta kepada Pemkab, Kades di Loteng membantu mengimbau warganya agar tidak percaya dengan isu tidak jelas sumbernya.

“Jangan mudah terpancing isu tidak bertanggung jawab,” tuturnya.

Fathurrahman membeberkan, biasanya pada momen bulan Agustus dan September kunjungan wisatawan membludak. Tahun 2017 di Selong Belanak layaknya seperti pasar. Namun dengan adanya isu tanggal 5 Agustus, para wisatawan berkemas dan meninggalkan Lombok.

“Saya harap Pemdes pro aktif juga. Kalau bisa warga yang bangun tenda pengungsian di samping jalan juga dialihkan ke dalam. Karena ini penilaiannya juga tidak baik,” ujarnya.

Data sementara dari PHRI, para pelaku wisatawan atau pemilik hotel kehilangan 90 persen hunian dampak isu yang menyebar dilakukan orang tidak bertanggung jawab.

“Tahun lalu, sampai tamu tidak ada tempat. Kami harap di sini peran teman media untuk menyampaikan informasi ke publik,” pesannya.

“Tapi yang paling parah di Senggigi, di sana ada empat orang bule saya jumpai dan mereka menetap di sana,” sambung dia. (r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here