Beranda Lombok Barat Dilema Pengungsi di Lobar Pascabencana Gempa

Dilema Pengungsi di Lobar Pascabencana Gempa

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA MANFAATKAN PUING: Salah seorang warga Kecamatan Gunung Sari tengah mengambil sisa puing bangunan rumahnya.

Ingin Robohkan Rumah, Tapi Takut Tak Terverifikasi

Masa pemulihan sudah mulai berlangsung di Lobar pascagempa beberapa pekan lalu. Namun para pengungsi yang rumahnya nyaris ambruk, dilema ingin merobohkan.
WINDY DHARMA-LOBAR

DILEMA mungkin kata itu yang tengah dirasakan beberapa pengungsi di Kecamatan Gunung Sari, Lobar. Mereka seakan galau melihat kondisi rumah yang rusak parah. Tidak mungkin ditempati kembali. Walaupun bangunan rumah mereka masih terlihat berdiri, secara fisik kondisinya begitu mengenaskan dan membahayakan.
Hampir seluruh bangunan tembok rumah warga yang masih berdiri, kondisinya retak dan jebol. Belum lagi langit-langit atap bangunannya yang miring seakan ingin tumbang. Tentunya hal itu tidak mungkin ditempati kembali. Lantaran dikhawatirkan bisa roboh setiap saat, ketika adanya gempa susulan yang tak tahu pasti kapan terjadinya.
Terlintas di pikiran warga untuk segera merobohkan bangunan rumah itu. Namun justru semakin membuat bimbang warga. Alasannya, mereka takut ketika pendataan atau verifikasi tidak memasukkan rumah mereka dalam katagori rusak berat. “Kami khawatir jika dirobohkan, kami tidak dapat bantuan. Sementara kami tidak bisa tempati rumah itu,” ujar salah seorang warga Desa Gunung Sari, Inaq Mariati.
Kebimbangan itu masih menjadi beban pikirannya bersama keluarga hingga kini. Sementara waktu, ia bersama suami dan anaknya masih menetap di tenda pengungsian. Iamengaku jika petugas verifikasi telah turun memeriksa dan mendata rumah warga di wilayahnya. Hanya yang diverifikasi adalah bagian rumah yang ambruk, tidak yang masih berdiri kokoh. “Yang masih berdiri gak terlalu dilihat,” keluhnya.
Apa yang dialami Inaq Mariati juga dirasakan warga Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar. Bahkan Kepala Desa Setempat, Salihin mengaku warganya dilema. Setidaknya terdapat sekitar 200 rumah yang mengalami kerusakan. Pihaknya masih menunggu data verifikasi dari Pemkab Lobar. Nantinya data verifikasi ini bisa langsung dicek pihak pemerintah desa.
“Ini mengantisipasi jangan ada masyakarat tidak dapat bantuan. Kami perlu kawal hasil data verifikasi itu, karena kami serahkan semua data kerusakan di lapangan,” ungkapnya.
Kepala Dinas PUPR Lobar, Made Artadana mengaku, verifikasi dilakukan berdasarkan data yang diserahkan desa. Artinya, pasti rumah warga tersebut didatanya. “Semua kita data, tidak ada yang tidak kita verifikasi. Berdasarkan data dari desa itu,” jawabnya.
Berdasarkan data sementara, kerusakan rumah akibat gempa di Lobar mencapai 57.615 rumah. Meliputi 23.008 unit rumah rusak berat, 14.820 unit rusak sedang, dan 19.787 rusak ringan. Sedangkan untuk progres verifikasi hingga 28 Agustus mencapai 13.559 unit. Rusak ringan sebanyak 7.122 unit, sedang 3.277 unit dan rusak berat sebanyak 3.160 unit. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here