Beranda Lombok Barat Warga Senteluk Masih Mengungsi

Warga Senteluk Masih Mengungsi

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA BANTUAN: Sejumlah bantuan terpal dan toilet portable dari PT Telkom diterima Desa Santeluk Kecamatan Batulayar, kemarin.

LOBAR —Ratusan warga Dusun Penyanget, Desa Santeluk masih bertahan di pengungsian. Meski masa tanggap darurat telah berakhir 25 Agustus lalu. Warga bertahan di tenda pengungsian yang berada di atas perbukitan desa setempat. Syukurnya, bantuan tetap diterima warga tersebut.
Seperti bantuan yang diberikan PT Telkom Grup. BUMN ini sudah hampir seminggu menyalurkan bantuan di desa tersebut. Sesuai permintaan Pemerintah Provinsi NTB yang menempatkan PT Telkom Group di desa itu. “Sampai akhir minggu kita lihat perkembangannya (para pengungsi) di lapangan,” ujar Direktur Human Capital Management PT Telkom, Herdy R Harman, kemarin.
Bantuan yang diberikan kepada para pengungsi, berupa bantuan medis, kebutuhan pokok, selimut, terpal, sanitasi air bersih, toilet portabel, hingga bimbingan psikologis bagi warga. “Kebetulan desa ini tanggung jawab kita untuk mendampingi sampai kembali pulih,” sambungnya.
Meskipun tanggap darurat telah berakhir, pihaknya masih akan menunggu arahan Gubernur terkait sampai kapan bantuan akan tetap diberikan. Mengingat kini masih masa pemulihan. “Harapan saya bisa sampai kembali normal, agar bisa beraktifitas kembali,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Senteluk, Fuad Abdul Rahman mengucapkan terima kasih atas bantuan dari PT Telkom. Menurutnya, berbagai perhatian tersebut bisa membantu warganya di tempat pengungsian. Namun disadari, warga selamanya bertahan di pengungsian. Apalagi kini waktunya masa pemulihan pascagempa beberapa pekan lalu. “Mudah-mudahan dengan mendapatkan bantuan dari para psikolog, warga bisa secepatnya kembali ke rumah,” harapnya.
Ia tak memungkiri jika warganya belum ada yang mau kembali ke rumahnya. Sebab, rasa trauma warga yang belum hilang. Meskipun gempa yang melanda Lombok belum terjadi kembali hingga hari ini. “Faktanya di Lombok memang sudah tidak ada gempa. Tapi di daerah lain terjadi gempa, itu berpengaruh. Karena mental psikologi warga kami yang belum kuat untuk kembali,” pungkasnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here