Beranda Lombok Timur Parahnya Kerusakan Sekolah Pascagempa Bumi di Lotim

Parahnya Kerusakan Sekolah Pascagempa Bumi di Lotim

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA RUSAK: SDN 5 Pohgading Kecamatan Pringgabaya yang mengalami rusak berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR. Sekolah ini pernah dilihat langsung Mendikbud RI, beberapa waktu lalu.

87 Sekolah Terdampak Langsung, 560 Ruang Kelas Rusak

Gempa bumi Lombok banyak merusak fasilitas pendidikan di Lombok Timur (Lotim). Hingga saat ini, Proses Belajar Mengajar (PBM) belum berjalan normal.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

GEMPA bumi Lombok sejak tanggal 29 Juli lalu, membuat pulau Lombok menjadi porak poranda. Terutama gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) memicu kerusakan bangunan di Pulau Lombok. Seperti Lombok Timur (Lotim), Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kota Mataram.
Aakibat gempa susulan 6,9 SR beberapa waktu lalu, selain menambah tingkat keparahan di Pulau Lombok, juga memporak porandakan sejumlah daerah di Kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar. Selain merusak rumah, Fasilitas Umum (Fasum) hingga fasilitas pendidikan, juga menimbulkan efek trauma bagi masyarakat. Efek trauma ini tidak saja dialami masyarakat yang terkena dampak secara langsung. Akan tetapi juga masyarakat terkena dampak tidak langsung. Karena efek trauma itu, rata-rata masyarakat tidak berani tidur di dalam rumahnya.
Seperti terlihat di Kecamatan Selong, sejumlah ruas jalan habis digunakan sebagai tempat pengungsian. Sementara menghindari terjadinya aksi pencurian, laki-laki melakukan ronda malam, sembari menjaga keluarganya di pengungsian.
Terhitung sejak gempa pertama hingga saat ini, beberapa kali Gubernur NTB mengeluarkan kebijakan meliburkan sekolah. Kebijakan itu dikeluarkan, menghindari gempa susulan berkekuatan tinggi saat Proses Belajar Mengajar (PBM). Diputuskan PBM dilangsungkan di tenda, terutama di sekolah terkena dampak langsung.
Tidak sedikit sekolah menjadi lokasi pengungsian, seperti SDN 1 Obel-obel. Para pengungsi berbaur menjadi satu, dengan aktivitas PBM siswa di bawah tenda. Demikian juga di wilayah tidak terkena dampak langsung, pemandangan serupa dimana masyarakat membangun tenda pengungsian di halaman sekolah. Kkendati sekolah itu tidak mengalami kerusakan akibat gempa, wali murid tetap menginginkan anaknya tidak belajar di dalam sekolah, khawatir terjadi gempa susulan. Kondisi sekolah rusak ini, sudah dilihat langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), HM Muhajir Effendy.
Pertama kali gempa bumi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim melakukan pendataan sekolah yang mengalami rusak berat, sedang maupun ringan. Kondisi terakhir catatan Dikbud, jumlah sekolah terdampak langsung sebanyak 87 unit. Dari jumlah itu, jumlah ruang kelas rusak sebanyak 560 unit. Terdiri dari 163 rusak berat, 10 unit rusak sedang dan 170 unit rusak ringan.
Selain itu, jumlah siswa terkena dampak langsung sebanyak 14.344 orang. Di luar infrastruktur sekolah yang mengalami kerusakan, terdapat beberapa infastruktur lain mengalami kerusakan. Seperti perpustakaan rusak berat sebanyak 14 unit, dan rumah dinas ambruk dua unit. Setelah terjadi gempa susulan, jumlah kerusakan sekolah, maupun infrastruktur lainnya, bertambah. Dikbud saat ini sedang menggerakkan semua potensi yang ada, untuk melakukan validasi ulang.
“Sebagian usulan sudah masuk ke Mendikbud. Terhadap sekolah yang tidak terkena dampak langsung dan wali murid belum mau anak-anaknya kembali belajar di ruang kelas, membuat kami sedikit harus berpikir keras, bagaimana mengembalikannya seperti biasa,” kata Kabid Pembinaan Siswa SD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim, Muhir. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here