Beranda Mataram Pengungsi Permanen Akan Disiapkan Huntara

Pengungsi Permanen Akan Disiapkan Huntara

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA KUNJUNGI: Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh saat meninjau rumah warga yang rusak akibat gempa di Kecamatan Sanubaya belum lama ini.

MATARAM – Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh berencana membuatkan hunian alternatif dengan konsep hunian sementara (Huntara) bagi para pengungsi permanen akibat gempa. Huntara itu dapat ditempati selama rumah yang rusak berat dalam proses perbaikan.
Bahkan bila memungkinkan, Wali Kota berencana memberikan subsidi tambahan bagi masyarakat yang kehilangan rumahnya agar dapat kembali memiliki tempat tinggal, sementara menanti rumahnya selesai diperbaiki tanpa harus terus tinggal dalam tenda-tenda darurat. “Fokus kita saat ini adalah penanganan kedaruratan. Saya mengajak semua pihak untuk fokus pada penanganan dampak gempa. Berapapun anggaran yang harus dikeluarkan asal sudah sesuai dengan prinsip-prinsip anggaran akan disiapkan untuk penanganan pasca bencana,” ujar Wali Kota saat rapat Paripurna DPRD Kota Mataram dengan agenda Penutupan Masa Sidang III Tahun Dinas 2017-2018 dan Pembukaan Masa Sidang I Tahun Dinas 2018-2019. Dirangkai penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemerintah Kota Mataram dengan DPRD Kota Mataram terhadap KUA dan PPAS Tahun Anggaran 2019, kemarin (23/8).
Pemkot, lanjut Ahyar, telah melakukan pendataan secara akurat terhadap rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan, serta tingkat kerusakannya. Datanya, rumah yang rusak berat sejumlah 1318 unit, rusak sedang 1908 unit, dan rusak ringan 2534 unit.
Untuk penanganan rumah-rumah yang rusak, Wali Kota akan terlebih dahulu memastikan teknis pencairan bantuan dana stimulan yang dijanjikan oleh pusat. Utamanya bagi masyarakat yang rumahnya rusak secara bervariasi antara Rp 10 juta hingga Rp 50 juta rupiah, berdasarkan tingkat kerusakan masing-masing rumah.
Tata cara pencairan bantuan dana stimulan yang akan disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai saat ini belum dapat dipastikan. Dimungkinkan tengah dalam proses pembahasan agar dapat disalurkan tepat sasaran.
Sementara di Kota Mataram, tercatat tiga lingkungan mengalami kerusakan terbanyak. Yaitu, Lingkungan Pengempel Indah, Lingkungan Gontoran Barat, dan Lingkungan Tegal di Kecamatan Sandubaya. Kemudian korban meninggal dunia akibat gempa sejumlah 13 orang, luka-luka 47 orang, dan 104.498 orang mengungsi.
“Jumlah pengungsi yang mendiami tenda-tenda darurat sebenarnya sempat berkurang setelah beberapa saat gempa melemah. Namun karena guncangan yang cukup besar kembali terjadi, pengungsi memilih untuk menempati lagi tenda-tenda pengungsian mereka,” jelas Wali Kota.
Terkait data yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Mataram tentang jumlah rumah rusak dan tingkat kerusakannya, dipastikan Wali kota merupakan data yang valid, dan telah divalidasi oleh tim penilai. Bila jumlah rumah yang rusak telah selesai diinventarisir, tidak demikian dengan fasilitas publik, perkantoran, pendidikan, dan kesehatan. Sampai saat ini masih dalam proses inventarisasi.
Karena itu Wali Kota berharap agar proses inventarisasi dapat berjalan lancar, serta segera dilakukan percepatan gerakan penanganan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ditambahkan, gempa bumi yang terjadi berulang kali dalam intensitas besar tersebut sebenarnya tidak berdampak terlalu parah bagi Kota Mataram. Para pengungsi juga tidak semua permanen. Sebagian pengungsi, rumahnya tidak mengalami kerusakan berarti. Melainkan karena mengalami trauma atau takut untuk kembali ke rumahnya. “Kita tetap berkewajiban memberikan penanganan baik kepada pengungsi permanen maupun tidak permanen,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here