Beranda Lombok Timur Ketika Balai TNGR Berjanji Sisir Rinjani

Ketika Balai TNGR Berjanji Sisir Rinjani

BERBAGI
DOK / RADAR MANDALIKA PEMETAAN: Balai TNGR NTB, bersama Kodim, Polri dan Basarnas saat melakukan pemetaan jalur penyisiran di kantor TNGR Resort Sembalun, waktu lalu.

Lama Direncanakan, Penyisiran Ditunda Karena Gempa Susulan

Penyisiran pendaki Rinjani, sejak lama sudah diwacanakan Balai TNGR NTB. Kendala gempa susulan yang masih terjadi, menjadi alasan penyisiran ditunda.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

GEMPA bumi Lombok, hingga saat ini masih menyita perhatian publik negeri ini. Bahkan, menyita perhatian dunia. Sejak pertama kali terjadi gempa 6,4 Skala Richter (SR) tanggal 29 Juli lalu, selain memakan korban jiwa, merusak rumah dan fasilitas umum. Tapi juga, terjadi upaya evakuasi pendaki yang terjebak di Gunung Rinjani.
Menilik saat kejadian gempa pertama, masyarakat Sembalun dan Sambelia dilanda kepanikan dan kecemasan. Mereka menjadi titik paling parah, akibat gempa tersebut. Memang tidak berpotensi tsunami, akan tetapi membuat efek trauma cukup besar terhadap masyarakat sampai anak-anak. Sementara Kabupaten Lombok Utara (KLU), saat itu tergolong tidak terlalu parah.
Ketika terjadi gempa pertama waktu itu, dari 1200 lebih wisatawan yang mendaki Rinjani, terdapat 600 wisatawan lebih merupakan pendaki mancanegara. Sisanya merupakan pendaki lokal. Dari jumlah wisatawan asing itu, pendaki asal Thailand paling banyak. Bahkan satu pendaki asal Makasar meninggal dunia di atas Rinjani, antara pelawangan dengan Danau Segara Anak. Sedangkan wisatawan Malaysia, meninggal di rumah tempatnya menginap. Yang terjebak dalam waktu lama, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat) PBJ LKPP, bersama dua staf, dua guide dan satu porter. Evakuasi jenazah pendaki asal Makasar, dan Kapusdiklat bersama dua stafnya, dilakukan menggunakan helikopter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Pasca evakuasi semua pendaki, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) NTB, bersama TNI, Polri dan Basarnas mewacanakan melakukan penyisiran semua jalur pendakian. Apakah terdapat pendaki yang meninggal tertimbun longsor atau tidak. Pemetaan jalur penyisiran sudah dilakukan, secara matang.
Namun demikian, rencana itu gagal setelah mendapat informasi helikopter milik PT AMNT mengalami masalah teknis. BTNGR rencanakan kembali penyisiran itu, sampai helikopter yang akan digunakan siap. Namun lagi-lagi menuai kendala, karena gempa susulan masih terjadi. Khawatir terjadi turbulensi di atas gunung akibat gempa susulan, hingga kini penyisiran tak kunjung dilakukan. Tim siaga bencana yang membantu penyisiran diklaim masih standby, sewaktu-waktu jika dinilai sudah siap melakukan penyisiran.
Kepala BTNGR NTB, Sudiyono mengaku masih mencari waktu yang tepat, untuk melakukan penyisiran pendaki. Call center juga sudah disiapkan, apakah ada laporan dari masyarakat atau tidak. “Sampai saat ini penyisiran masih kami tunda, sampai menemukan waktu yang tepat,” kata Sudiyono. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here