Beranda Mataram Upaya Pengusaha Cobek untuk Tetap Bertahan

Upaya Pengusaha Cobek untuk Tetap Bertahan

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA BENTUK UNIK: Cobek yang biasanya berbentuk bulat dikreasikan dalam bentuk lain agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Berkreasi di Bentuk Unik, Daya Jual Menjadi Mahal
Cobek biasnya digunakan menjadi mengulek bumbu. Kini, cobek batu unik khas Lombok bisa bernilai ekonomis.
SRI SUSANTINI- MATARAM

COBEK biasa digunakan sebagai wadah mengulek sambal dan bumbu. Dengan bentuk yang biasa digunakan, kini cobek tak hanya menjadi alat dapur. Salah satu pembuat cobek dengan bentuk yang unik adalah, Sukandi Efendi.
Usaha ini sudah dijalaninya sejak 2016 lalu. Meski awalnya ia hanya membuatmu cobek bentuk bundar. Setelah melihat kondisi pasar yang cukup menjanjikan, ia mencoba untuk membuat bentuk lebih unik lagi. “Pasang surut, turun naik lika-liku penjualan sebagai awal banyak inspirasi. Timbullah dalam pemikiran aneka motif yang kami pikirkan dengan tujuan agar semua kalangan suka,” kata Sukandi Efendi, Selasa (21/8).
Pada awalnya, cobek biasa hanya diminati ibu rumah tangga saja. Dengan inovasi baru seperti ini, cobek dapat menarik perhatian kalangan muda. Itu karena desain unik dari cobek yang dibuatnya. “Biar kalangan muda mau belajar masak dan tidak jenuh mengulek dengan cobek yang biasa, seperti bentuk ikan ini,” ujarnya.
Untuk harga jual kisaran Rp 40-160 ribu, sesuai dengan ukuran dan kerumitan dari bentuknya. Karena bentuknya yang unik, pelanggannya semakin banyak. Bahkan ada beberapa resellernya di Lombok. Cobeknya pun tak hanya diminati warga lokal. Adapula beberapa daerah tertarik dengan cobek buatannya. Tetapi untuk saat ini Sukandi belum dapat mengirim keluar daerah karena biaya kirim cukup tinggi. “Kalau kita kirim ke luar daerah, ongkirnya mahal. Yang dibawa sebagai oleh-oleh keluar daerah banyak, seperti ke Sulawesi, Maluku, Sumbawa, Bima dan Kalimantan. Permintaan via online sih ada, cuma terkendala ongkir,” terangnya.
Keuntungan didapatnya lumayan banyak. Tetapi pasca gempa yang terjadi beberapa waktu lalu, ia harus menunda pengiriman ke beberapa resellernya yang terkena dampak bencana alam. Imbasnya, omzet ikut turun drastis. “Iya turunnya kira-kira 75 persen. Karena ada titik rawan gempa tempat reseller kita, mau tidak mau harus dipending pengantarannya tunggu saat situasi aman,” ungkapnya.
Ia mengaku sempat menerima pesanan dari restoran di Senggigi. Namun karena terkendala alat pembuatan, Sukandi tak dapat memenuhi permintaan kala itu. Sejak saat itu ia mencoba untuk terus dapat memenuhi permintaan dari pelanggannya. “Waktu itu belum bisa kita sanggupi, sebab yang diminta motif bundar ukuran 10 sentimeter, agak sulit pembuatannya. Kita juga terkendala alat pembuatannya. Waktu itu masih minim,” ceritanya.
Sukandi berharap, cobek buatannya bisa masuk ke beberapa toko oleh-oleh. Untuk saat ini keinginan itu belum terealisasi karena keterbatasan kemampuannya memenuhi permintaan yang membludak. “Untuk memenuhi kebutuhan ibu-ibu rumah tangga biasa saja belum tercukupi di banyak titik,” ungkapnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here