Beranda Lombok Timur Sisi Lain Usai Gempa Guncang Lombok

Sisi Lain Usai Gempa Guncang Lombok

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA H Teguh Sutrisman

Terpal Langka, Stok Bapok Diklaim Tetap Aman

Sejak terjadi bencana gempa, permintaan kebutuhan dasar meningkat tajam. Terutama makanan siap saji laris manis diborong untuk memenuhi kebutuhan korban bencana.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

GEMPA bumi melanda Lombok Timur sejak 29 Juli lalu, dengan magnitude 6,4. Gempa memporak porandakan Kecamatan Sambelia, Sembalun dan Bayan. Akibat gempa pertama, ratusan rumah rusak parah, dan sembilan jiwa dinyatakan meninggal dunia. Pemerintah kabupaten hingga provinsi menetapkan status tanggap darurat selama sepekan.
Saat masa tanggap darurat habis pada tanggal 5 Agustus lalu, Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak memperpanjang status tanggap darurat. Karena imbas gempa pertama, tidak terlalu parah seperti di Sembalun dan Sambelia. Sehingga, oleh pemerintah provinsi hanya memperpanjang status tanggap darurat di Lotim saja. Demikian juga Bupati Lotim, mengeluarkan SK perpanjangan tanggap darurat hingga tanggal 11 Agustus lalu.
Sepanjang status tanggap darurat pertama, tim teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum, tetap bekerja menghitung nilai kerugian akibat gempa. Sementara pendataan juga tetap dilakukan oleh pemerintah. Bahkan, mengundang perhatian orang nomor satu di negeri ini. Bersama kabinetnya, kepala negara menyambangi korban gempa bumi di Sambelia dan Sembalun.
Masyarakat korban gempa yang rumahnya mengalami rusak berat, diberikan bantuan Rp 50 juta dan rusak ringan Rp 10 juta. Sedangkan keluarga korban meninggal dunia juga diberikan dana tali asih oleh Presiden.
Tidak ada yang menduga, ratusan kali terjadi gempa susulan berkekuatan kecil. Begitu perpanjangan status tanggap darurat, jelang waktu isya gempa susulan cukup dahsyat magnitudo 7,0 kembali mengguncang Lombok. Ratusan masyarakat meninggal dunia, bukan saja dari Lotim, maupun Lombok Utara. Akan tetapi juga dari daerah lain seperti Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Kota Mataram. Namun yang paling banyak korban jiwa dan kerusakan adalah Lombok Utara. Korban meninggal dunia di Lombok Utara hingga ratusan orang.
Sejak itu, semua jenis terpal dan sebagainya mengalami kelangkaan, karena kebutuhan sangat tinggi. Kalau pun ada, harganya melonjak sehingga memaksa Polda NTB turun tangan. Pemerintah terkait juga mengeluarkan surat edaran, agar para pedagang tidak memanfaatkan situasi bencana untuk mengeruk keuntungan. Di Lombok Timur, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), H Teguh Sutrisman mengakui, terpal memang terjadi kelangkaan. Sementara harga terpal yang melonjak tinggi seperti kabar yang berkembang, sudah diatasi Polda NTB.
Namun kaitannya dengan Kebutuhan Pokok (Bapok), selama bencana ini diklaim tetap aman dan lancar. Begitu juga kaitan dengan harga Bapok tetap stabil. Stok atau persediaan Bapok juga tetap aman. “Insya Allah, untuk persediaan Bapok aman dan distribusinya juga tidak ada kendala,” klaim Kadis Perindag Lotim H Teguh Sutrisman, kemarin. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here