Beranda Lombok Timur Khatib Ajak Masyarakat Bertaubat

Khatib Ajak Masyarakat Bertaubat

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA KHUSYUK: Para pengungsi Kecamatan Wanasaba dan masyarakat sekitarnya saat mendengarkan khutbah dari khatib dan dikelilingi tenda pengungsian, kemarin.

LOTIM –Khawatir gempa bumi susulan, salat Idul Adha dilakukan masyarakat Lombok Timur (Lotim) di tengah lahan lapang. Meski di beberapa titik, tidak khawatir dan melaksanakan salat hari raya di dalam masjid. Sementara pada sejumlah lokasi pengungsian, rata-rata melaksanakan salat Idul Adha, di tengah lapangan. Seperti pengungsi di lapangan umum Kecamatan Wanasaba, melakukan salat hari raya di lokasi pengungsian.
Keberadaan camp para pengungsi, tidak membuat aktivitas salat hari raya terganggu. Bahkan, mereka tampak khusyuk terutama saat mendengarkan isi khutbah yang disampaikan TGH Habiburrahman selaku khatib.
TGH Habiburrahman mengatakan, ujian diterima Nabi Ibrahim untuk mengurbankan Nabi Ismail (anaknya), lebih dahysat dari ujian gempa bumi. “Bisa dibayangkan bagaimana Nabi Ibrahim diuji Allah, untuk mengorbankan anaknya yakni Nabi Ismail. Sebagai nabi dan rasul, Nabi Ibrahim tidak mengeluarkan sepatah pertanyaan pun alasan perintah mengorbankan Ismail,” kata TGH Habiburrahman, kemarin.
Nabi Ismail, disebutnya adalah anak tunggal Ibrahim yang sudah bertahun menunggu sehingga Ismail lahir. Akan tetapi, Nabi Ibrahim, menerima perintah itu secara total, dengan hati yang kuat dan teguh. Artinya, ujian musibah gempa bumi ini ujar Habiburrahman, jauh lebih ringan atau tidak seberapa daripada ujian yang diterima orang terdahulu. “Dalam konteks saat ini, kita diuji Allah berupa musibah gempa bumi. Musibah gempa bumi ini, tidak sedahsyat ujian diterima Nabi Ibrahim,” tegasnya lagi.
Ketika mendapatkan musibah, tidak ada cara lain untuk menghadapi setiap musibah kecuali dengan cara bersabar, dan tawakkal. Agar ujian ini menjadi pujian di hadapan Allah. Karena mustahil dalam hidup itu tidak ada ujian. Apa saja kesulitan dan musibah diterima, harus disikapi dengan penuh ketabahan. Ujian diberikan Tuhan, termasuk bagian dari perkara iman, bahkan merupakan tuntutan keimanan. “Musibah akan membuat kita sadar dan menyandarkan semuanya pada Allah. Berat ringannya musibah diterima, menunjukkan bobot dan kualitas orang tersebut di hadapan Allah,” tegasnya.
Setiap manusia dalam menyikapi musibah, pasti berbeda-beda. Ada yang bersabar, tawakkal, dan ada pula yang hingga menyalahkan Allah. Momen kurban ini, pihaknya mengajak masyarakat untuk menghadapi ujian ini dengan kesabaran. “Kesabaran yang hakiki, akan mampu membuat kita memyandarkan bahwa semua adalah milik Allah,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat, berhusnuzzon pada Allah. “Kita harus perbanyak istigfar karena semua milik Allah. Musibah tidak akan terjadi begitu saja, jika tidak ada pemicunya berupa perbuatan maksiat,” tutupnya seraya kembali mengajak untuk bertaubat pada Allah. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here