Beranda Lombok Barat Melihat Semangat Nasionalis Relawan Asal Balikpapan

Melihat Semangat Nasionalis Relawan Asal Balikpapan

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA RELAWAN: Beginilah suasana perlombaan 17 Agustus yang digelar empat pemuda relawan asal Balikpapan.

Terpanggil Membantu Sesama, Rela Bolos Kuliah dan Kerja

Jiwa nasionalis memanggil empat relawan asal Balikpapan untuk datang ke Lombok. Apa saja cerita hingga sampai di Lombok? Berikut liputannya.
WINDY DHARMA-LOBAR

EMPAT pemuda itu adalah Andri Afrizal, Joko Sugiarto, Faki, dan Nirwan. Berasal dari Balikpapan Kalimantan Timur, dan terpanggil datang ke Lombok untuk menjadi relawan kemanusiaan bagi korban gempa.
Menetap sementara di Desa Jeringo, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat (Lobar). Semangat empat pemuda ini begitu terlihat saat memberikan bantuan trauma healing kepada anak-anak di pengungsian.
Seperti yang terlihat saat mereka mengelar aneka lomba memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba yang digelar mampu menumbuhkan keceriaan dan semangat para anak-anak itu. “Kita lebih ke trauma healing, dan menggelar lomba tujuh belasan,” kata Andri.
Awalnya, ia bersama dengan beberapa temannya hanya berniat datang menyalurkan bantuan. Namun saat tiba di Lombok, jiwa nasionalis para pemuda ini terpanggil. Mereka lebih memilih menetap sementara waktu untuk membantu korban gempa. Di saat beberapa temannya yang lain kembali ke daerah asal.
Dengan mengandalkan biaya dari kantong sendiri, empat pemuda berbeda organisasi ini memilih bertahan di Lombok. Sudah sekitar sepekan lebih mereka rutin membantu memberikan trauma healing kepada anak-anak pengungsi di desa itu. “Karena Lombok ini masih saudara kita, kita satu Indonesia, dan kita punya kewajiban untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok,” tegasnya.
Meskipun mereka sudah mengetahui keindahan pariwisata Lombok. Namun ternyata mereka baru pertama kali menginjakkan kakinya di Lombok. Segala risiko sudah siap diambil oleh mereka. Termasuk turut merasakan gempa susulan saat membantu memasak di dapur umum untuk keperluan para pengungsi. “Tapi berangkat ke sini izin sama orang tua, dan setiap harinya melaporkan kondisi kami. Karena pasti mereka juga khawatir,” imbuh Joko Sugiarto.
Awalnya orang tua mereka tidak mengizinkan untuk berangkat. Namun dengan pengertian dan niat membantu, membuat keberangkatan keempat pemuda itu diiringi doa. Bahkan para pemuda ini rela bolos kuliah dan izin tidak bekerja sementara waktu. Demi memenuhi panggilan kemanusian mereka. “Insya Allah tanggal 20 Agustus kita sudah pulang,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here