Beranda Headline Cerita Para Napi Selama Berada di Dalam Penjara

Cerita Para Napi Selama Berada di Dalam Penjara

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA MENYEDIHKAN: Para Napi saat menghormati bendera merah putih saat dinaikan pada 17 Agustus, Jumat lalu.

Sejak Lama Tidur Berdesakan, Lama-lama Bisa Stres

Sejumlah Narapidana (Napi) di Rutan Kelas II B Praya, Loteng mulai buka suara soal rasa tidak nyaman di dalam penjara. Sejak lama, mereka tidur berdesak-desakan sampai sekarang. Ada Napi yang mengaku, stres dengan kondisi ini. Berikut catatan wartawan Radar Mandalika.
JAYADI-LOTENG

WARTAWAN koran ini, berkunjung ke Rutan Kelas IIB Praya, Jumat (17/08) lalu. Suasana di halaman depan nampak ramai dengan aktivitas petugas dan warga. Sejumlah kendaraan nampak parkir rapi saat itu.
Di balik itu, terlihat keceriaan dari para wajah napi yang baru saja selsai menjalani masa hukuman karena dapat kado HUT RI ke-73. Tapi para Napi yang baru selsai ‘sekolah’ di dalam Rutan ini memiliki banyak cerita yang menyedihkan. Bayangkan saja, selama mereka tidur kurang nyaman karena memang kondisi penghuni Rutan yang overkapasitas. Akibatnya, mereka tidar dengan cara sebisa mungkin.
Dimana, penjara dengan daya tampung 100 orang ini sejak lama diisi 398 Napi. Untuk itu, mereka terpaksa harus menjalani kehidupan sehari-hari dengan berdesakan di dalam satu kamar.
Indra Surya Negara yang merupakan Napi setempat mengaku sudah lima tahun mendekam di penjara. Dia sudah terbiasa tidur berdesakan. Berbagi tempat dengan tahanan dan napi lainnya. Bahkan, napi kasus pidana umum itu berkali-kali merasakan tidur berimpitan dengan posisi miring. Bahkan tidak jarang juga dia harus pintar-pintar mencari celah di antara tubuh penghuni lain agar bisa tidur. Termasuk tidur di bawah pantat temannya.
“Kalau dikentuti ya itu biasa, dari pada tidak ada tempat tidur,” ceritanya.

“Di sini kami memang harus saling memahami dan menghormati,’’ ujarnya.
Sel kamar yang ditempati pria usia sekitar 40 tahun tersebut sebenarnya cukup luas. Ukurannya sekitar 6 x 4 meter. Namun, kamar itu selalu terasa sesak, maklum rata-rata setiap hari isinya lebih dari 15 bahkan hingga 20 orang. Belum lagi, sel makin terasa sumpek karena tidak memiliki tempat menyimpan baju atau lemari.
Sebagai ganti disediakan puluhan kardus yang berfungsi sebagai lemari mereka di dalam. Pria warga Karang Sukun Mataram ini bukan hanya mengeluhkan persoalan tempat mereka tidur. Namun mereka di Rutan sangat kekerungan air bersih, untuk mendi mereka harus antrean dan tidak jarang dirinya tidak mandi karena menunggu mendapatkan giliran.
“Ini harus menjadi perhatian pemerintah,” harapnya. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here