Beranda Praya Metro Panen Bawang Merah di Desa Kateng

Panen Bawang Merah di Desa Kateng

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA PANEN: Kepala Dinas Pertanian Loteng, Lalu Iskandar saat panen bawang, kemarin.

PRAYA — Petani di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat bersama Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah (Loteng) melakukan panen raya bawang merah, kemarin.
Panen bawang merah rutin dilakukan satu tahun sekali, dan ini dilakukan merupakan kerjasama antara pemerintah dengan para kelompok tani di desa setempat.

Kepala Dinas Pertanian Loteng, Lalu Iskandar menyampaikan bahwa secara geografis, Desa Kateng termasuk kategori wilayah dengan lahan yang kering dengan kondisi tanah jenis vertisol atau grumosol. Jenis tanah yang liat dan berlumpur pada musim penghujan dan retak- retak pada musim kemarau. Sehingga, pihaknya sangat mengapersiasi para petani sudah mampu dalam pengembangkan hortikultura seperti bawang merah, semangka dan melon.
“Kita ketahui bersama bahwa Desa Kateng sekarang merupakan salah satu sentra bawang merah di wilayah Loteng,” ungkapnya, kemarin.
Dia menegaskan, dengan kondisi saat ini, maka petani dituntut untuk berinovasi dan berkereasi dalam memanfaatkan lahan. Terlebih, secara nasional menjadi pengimpor bawang, kebijakan pemerintah mengembangkan bawang terutama di Provinsi NTB diharapkan berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Contohnya, pada tahun 2016 Indonesia sudah mampu mengekspor bawang merah ke berbagai negara asean di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand dan lainnya.
“Untuk itu kita berharap kedepanya Lombok Tengah juga bisa menjadi pusat produksi bawang yang sangat bagus,” harapnya.
Untuk konsumsi bawang merah di Loteng sendiri sekitar 2,2 kg/kapita dalam setahun. Dan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan bawang merah semakin meningkat kedepanya.
Selain itu, kebutuhan akan bawang merah ini kedepanya akan semakin tinggi, terlebih jika nantinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika akan dioperasikan, yang membuat berdirinya banyak hotel. Maka secara otomatis akan membutuhkan banyak produk hortikultura.
“Untuk itu potensi yang ada saat ini, harus dikembangkan. Saya juga sudah meminta agar Kabid hortikultura melakukan inventarisasi produksi hortikultura untuk memenuhi kebutuhan regional,” jelasnya.

Sementara itu, salah anggota Kelompok Tani Beriuk Desa Kateng, Lalu Zarkasi menyampaikan untuk menanam bawang juga membutuhkan air yang sangat banyak. “Sehingga selama ini untuk menanam bawang permasalahan yakni air dengam pembuatan embung dan memanfaatkan air embung kami butuhkan,” katanya. (jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here