Beranda Headline Korban Menjerit Minta Bantuan

Korban Menjerit Minta Bantuan

BERBAGI
BUTUH BANTUAN: Sejumlah pengungsi saat berada di tenda pengungsian.

KLU —Dampak buruk gempa berkekuatan 7,0 skala richter mulai dirasakan para korban. Mereka mulai kelaparan akibat tidak akan logistik yang dikonsumsi.
Selain tak ada persiapan makanan, korban juga belum sempat mendapatkan bantuan. Untuk mengakali kondisi mereka, warga kemudian iuran membeli makanan untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Korban juga memberanikan diri mengambil barang yang masih bisa digunakan di bawah runtuhan bangunan rumah mereka.
“Sudah beberapa hati ini kami belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kami semuanya di sini pada hari pertama iuran dan ada juga beli sendiri,” ujar Taufik, warga Dusun Teluk Dalem Keren Desa Medana Kecamatan Tanjung kepada Radar Lombok saat ditemui di tempat pengungsian di perbukitan Medana.
Taufik mengaku pernah mendatangi tempat posko di halaman Kantor Bupati Lombok Utara untuk meminta bantuan logistik dan tenda, malah ada oknum petugas memarahi meminta bantuan.
Setelah ngotot meminta, baru dikasih lima dus air mineral dan tiga dus mi instan. Itupun dikasih seolah-olah tidak ikhlas. Sementara warga yang mengungsi sebanyak 250 kepala keluarga (KK).
Setelah tidak dikasih, Taufik bersama warga membuat tenda sendiri menggunakan terpal hari kedua. Karena gempa bumi pada malam pertama membuat masyarakat tidak berani pulang lantaran adanya potensi tsunami, dan kondisi rumah juga sudah tidak bisa ditempati. Malam pertama, mereka tidur berlapiskan tenda, sebab gempa susulan terus terjadi. “Baru kami paginya bergotong royong membuat tenda sebanyak 30 terpal mengisis perbukitan lahan kosong pemilik developer perumahan villa,” terangnya.
Memasuki malam ketiga stok kebutuhan sudah mau habis, sebagian masyarakat yang mempunyai keluarga di luar Lombok Utara ditelepon dan meminta bantuan logistik. Secara bergiliran keluarga sebagian korban berdatangan membawa bantuan sejak kemarin pagi. Diyakini bantuan itu tidak akan mampu bertahan lama mengingat kondisi sampai saat ini belum bisa pulih kembali. Jika pun hendak mengambil barang yang bisa dimanfaatkan di rumah runtuh tentu tidak bisa dilakukan. “Kami saling telepon keluarga di teben (luar Lombok Utara) untuk membawakan bantuan,” tandasnya.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan air minum pun masih banyak kekurangan, karena kebutuhan hampir seribu jiwa itu sangat banyak. Sedangkan air masak, cuci piring, berwudu masih memompa air menggunakan genset, namun persoalan sekarang bahan bakar minyak (BBM) langka, sebab perekonomian di Lombok Utara lumpuh. “Kalau buang hajat kami memberanikan diri turun ke bawah (pulang ke rumah), tapi persoalannya sekarang air PDAM tidak ada,” bebernya.
Hal serupa juga dialami warga pengungsi di Dusun Langgem Sari Desa Sokong Kecamatan Tanjung Saminep. Belum satupun bantuan masuk karena korban diminta sodorkan data terlebih dahulu baru diberikan. Sementara kondisi kadus dalam keadaan masih sakit, sehingga para korban pun terpaksa mengirit kebutuhan sisa dari yang disimpannya. “Kalau kita mau beli tidak ada toko yang buka, karena nasib sama dengan kami juga pemiliknya. Jadi, selama dua hari ini kami makan singkong saja,” ucapnya.
Kaitan dengan medis, kata Saminep, banyak anak-anak dalam kondisi sakit namun diminta bawa ke tempat pengungsian pusat, sementara kondisi sekarang BBM sulit didapatkan. Meski demikian, korban terpaksa membawa anak-anaknya demi memperoleh pengobatan.
Hal yang sama juga dialami pengungsi di Dusun Kerujuk Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang, belum satupun bantuan logistik masuk, sementara stok logistik iuran korban semakin menipis. Di wilayah objek eko wisata ini terdapat delapan titik posko pengungsian dengan jumlah 504 KK atau 1500 jiwa. “Belum ada bantuan kami dapatkan, sekarang kami menghubungi teman-teman di wilayah Mataram supaya bisa dibantu,” harapnya. (flo/lpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here