Beranda Headline Harga Bapok dan Terpal Tidak Naik

Harga Bapok dan Terpal Tidak Naik

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA SIDAK: Tim Satgas saat mengecek kebutuhan pokok dan harga terpal di distributor pasca gempa Lombok.

MATARAM -Pasca Gempa bumi yang melanda Lombok, harga kebutuhan pokok (Bapok) dan terpal melambung tinggi hingga menembus Rp 500 ribu ukuran 4×6. Oleh sebab itu, Tim Satgas Pangan NTB melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok, termasuk terpal pasca bencana gempa bumi Lombok.
Plt Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan NTB, Lalu Suparno mengatakan, hasil pemantauan di pasar tradisional memperlihatkan jika harga kebutuhan bahan pokok masyarakat seperti beras, telur, cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, dan lain-lain masih stabil dan stok cukup tersedia. Sedangkan komoditas daging ayam dan daging sapi mengalami sedikit kenaikan karena belum banyak pedagang yang berjualan. “Harga bahan kebutuhan pokok di tingkat distributor tidak ada kenaikan harga, untuk ketersediaan stok cukup tersedia,” ujarnya, kemarin.
Khusus untuk mi instan terjadi kelangkaan, disebabkan meningkatnya permintaan untuk membantu korban gempa. Serta terlambatnya pasokan dari luar daerah yang sempat terkendala di jalur penyeberangan akibat gelombang tinggi.
Ketersediaan air minum kemasan juga terbatas. Seperti PT Narmada Awet Muda sampai saat ini belum beroperasi normal karena sumber air tanah yang digunakan masih keruh, sedangkan air minum kemasan merek lain juga terbatas karena meningkatnya permintaan. Sementara harga tidak ada kenaikan.
Sedangkan, untuk terpal di tingkat distributor maupun beberapa toko bangunan stok saat ini kosong. Berdasarkan informasi dari para pedagang, tidak ada kenaikan harga, namun harga terpal tergantung kualitas. “Dimungkinkan masyarakat membeli terpal yang masih tersisa dengan kualitas lebih baik, sehingga harga lebih mahal dan kemudian dikabarkan bahwa harga terpal naik 2 kali lipat ,” jelasnya.
Pemilik UD. Sukses Karya Mandiri (SKM), Antono mengatakan, pasca gempa untuk stok komoditas minyak goreng, tepung terigu dan gula pasir dalam posisi aman dan harga stabil. Sedangkan untuk air minum kemasan, mi instan dan terpal yang langka di pasaran.
Pihaknya sudah sejak awal menginstruksikan agar pasokan ke pasar tradisional dan ritel modern jangan sampai terputus. Namun pasca gempa banyak pedagang dan toko yang belum berani buka, ditambah lagi dengan isu maling membuat para pedagang tidak berani berjualan di pasar tradisional. “Tapi mulai kemarin situasi pasar sudah berangsur-angsur normal kembali,” ujarnya.
Direktur PT Distribusi Air Narmada, Dona Butar-Butar mengakui, stok air minum Narmada saat ini kosong, baik kemasan gelas, botol maupun galon. Produksi masih dihentikan karena mata air bawah tanah yang digunakan masih keruh, kemudian karyawan yang sebagian besar berasal dari Desa Selat Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar) banyak menjadi korban gempa.
Saat ini second branded Narmada yaitu air minum kemasan Rafa yang biasanya dipasarkan di wilayah Pulau Sumbawa juga dikeluarkan, khusus untuk keperluan membantu korban gempa. Ia belum bisa memastikan kapan produksi akan normal kembali, karena sangat tergantung dari perkembangan situasi pasca gempa. Apalagi gempa-gempa susulan masih sering terjadi. “Untuk harga dari pihak perusahaan tidak ada kenaikan. Harga masih normal seperti sebelum gempa,” pungkasnya. (cr-can/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here