Beranda Headline Cerita Para Korban Saat Gempa 7,0 Skala Richter Mengguncang Lombok Barat

Cerita Para Korban Saat Gempa 7,0 Skala Richter Mengguncang Lombok Barat

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA NGUNGSI: Aktivitas para korban yang mengungsi di tanah lapang Desa Guntur Macan, kemarin.

Gempa Saat Salat Isya, Panik Selamatkan Keluarga

Bencana gempa bumi 7,0 skala richter (SR) yang mengoncang Lombok, Minggu (5/7) malam, beragam cerita dialami para korbannya. Mulai dari kepanikan hingga traumatis.

WINDY DHARMA-LOBAR

BENCANA tak ada yang tahu kapan datangnya. Minggu (5/7) malam, di saat orang-orang sedang menikmati hari libur, gempa berkekuatan 7,0 SR mengguncang Pulau Lombok. Getaran hingga dampaknya dirasakan terparah di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Begitu juga di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Ikut terdampak gempa. Guncangan hebat membuat ribuan rumah di Lobar rusak parah.
Tercatat empat kecamatan di Lobar yang terdampak parah akibat gempa. Yaitu Narmada, Lingsar, Gunung Sari dan Batu Layar. Selain menimbulkan kerusakan, gempa juga membawa dampak psikis tersendiri bagi para korban.
Seperti cerita Ridwan. Warga Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunung Sari ini masih terbayang dahsyatnya gempa Minggu malam itu. Guncangan gempa itu mulai dirasakan saat tengah menjalankan ibadah salat isya berjamaah di masjid. Ketika memasuki rakaat kedua, tiba-tiba bumi yang dipijaknya bergetar dengan hebat. Sang imam yang saat itu berusaha tetap berdiam menjaga salatnya, akhirnya memilih lari menyelamatkan diri.
“Imam sampai membaca surat dua kali cuma gak habis-habis, terus dia lari. Jadi kita ikut lari menyelamatkan diri,” katanya.
Sebelum terjadinya gempa, ia sempat mendengar suatu ledakan. Tapi entah dari mana asal ledakan itu. Dikiranya dari Gunung Rinjani. Saat melihat kea rah gunung, tidak kepulan asap yang menandakan jika gunung tertinggi ketiga di Indonesia itu akan meletus. “Tumben saya dengar ledakan itu, cuma yang lain gak dengar. Ledakan itu juga beda suaranya kayak ledakan yang lain, seperti mercon atau apa,” sambungnya.
Dampak dari gempa membuat rumahnya roboh. Warga setempat kesulitan memperoleh air bersih karena air sumur menjadi keruh. “Syukurnya ada sungai dekat tempat pengungsian. Kita manfaatkan itu dulu kalau buat keperluan masak,” ujarnya.
Dirinya hanya bisa berharap agar gempa susulan yang terus terjadi segera usai. Kemudian segera memperoleh bantuan perbaikan rumah.
Kisah lainnya datang juga dari Salman Hidayat. Warga Desa Gunung Sari ini mengalami kejadian menegangkan. Saat gempa dahsyat terjadi, dirinya berusaha menyelamatkan keluarganya dari ancaman runtuhnya bangunan rumah.
Ia pun melihat langsung saat bangunan masjid di dekat rumahnya ambruk.
“Benar-benar menegangkan. Kita panik semua,” ceritanya.
Kini dirinya bersama keluarga sudah mengungsi ke halaman kantor Camat Gunung Sari. Hanya saja keterbatasan tenda atau terpal membuat sebagian keluarganya terpaksa tidur berhimpit-himpitan dengan warga lainnya. “Kita berharap segera diberikan bantuan tenda lagi. Kita sudah tidak punya apa-apa,” pintanya. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here