Beranda Headline Warung Tuak Meresahkan Dirazia

Warung Tuak Meresahkan Dirazia

BERBAGI
HUMAS LOBAR FOR RADAR MANDALIKA OPERASI: Bupati Lobar H Fauzan Khalid bersama Polres Mataram dan pihak Kecamatan Gunung Sari saat sidak di sejumlah warung tuak di Desa Mambalan, Sabtu (4/8).

LOBAR —Puluhan botol minuman keras (miras) tradisional jenis tuak, disita Pemkab Lombok Barat (Lobar) dan Polres Mataram. Botol-botol itu disita dari sejumlah warung liar di kawasan Desa Mambalan Kecamatan Gunung Sari, Sabtu (4/8) malam.
Operasi yang dipimpin langsung Bupati Lobar H Fauzan Khalid bersama Kapolres Mataram itu sempat mendapat penolakan dari pemilik warung. Lantaran hanya mengamankan miras, namun tidak memberikan solusi kepada para penjual.
Warga setempat sangat mengeluhkan beroperasinya warung miras tersebut. Lantaran selalu meresahkan dengan suara musik yang keras setiap malam dari warung tersebut. Bahkan saat operasi itu didapati seorang perempuan dibawah umur yang diduga berprofesi sebagai patner song (PS). “Masyarakat minta diberikan solusi,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat, Nyoman Arsa.
Menurut mantan anggota DPRD Lobar ini, ada alasan kenapa masyarakat lebih memilih berjualan tuak. Kondisi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih tinggi saat menjual tuak membuat masyarakat enggan beralih.
Terlebih lagi dengan banyaknya pohon enau (aren) serta mudahnya mengolah menjadi tuak. “Mereka bisa memperoleh kurang lebih Rp 500 ribu perharinya kalau berjualan (tuak),” ungkapnya.
Hal senada disampaikan warga setempat. Alasan minimnya pekerjaan ditambah tingginya biaya hidup membuat mereka lebih memilih menjual tuak. “Daripada menjadi tukang, hanya bisa dapat Rp 50 ribu perhari, tidak cukup untuk membiayai anak sekolah,” celetuk seorang warga lainnya.
Berdasarkan informasi dari pemerintah kecamatan setempat, terdapat 11 warung yang berjualan tuak di Desa Mambalan. Bahkan Kasat Pol PP Lobar, Mahnan, menuturkan jika sejumlah warung tersebut sudah pernah ditertibkan. “Kita sudah pernah melakukan penertiban, bahkan penyegelan. Tapi mereka buka dan beroperasi kembali. Ini sudah melanggar Perda Nomor 1 Tahun 2015,” tegasnya.
Pihaknya akan mengelar operasi rutin, melihat kemungkinan kembali beroperasinya sejumlah warung tuak itu. “Wilayah lain yang juga menyediakan hal seperti ini akan kita operasi jugz,” tegasnya.
Sementara Bupati Lobar, H Fauzan Khalid menyatakan operasi ini adalah upaya Pemkab Lobar dalam menekan peredaran tuak. Sebab cukup banyak keluhan masyarakat atas miras tersebut. “Ini harus ditertibkan. Jangan sampai meresahkan masyarakat,” tegas Fauzan.
Menurutnya, langkah ini juga bagian mensosialisasikan produksi turunan air nira dari tuak menjadi gula merah maupun gula semut. Sehingga para penjual tuak dapat beralih menjadi pembuat gula aren maupun semut.
Sebab pihaknya menginginkan agar Desa Mambalan dapat sukses seperti desa penghasil gula aren lainnya. Yaitu Desa Langko di Kecamatan Lingsar dan Desa Kekait Kecamatan Gunung Sari.
“Kita berharap ini bisa diikuti desa lainnya. Sudah ada permintaan dari pengusaha untuk bisa dikirimkan dalam jumlah yang besar. Besok kita mau lepas resmi ekspor dua kontainer gula semut,” pungkasnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here