Beranda Mataram OJK Populerkan Produk Keuangan Syariah

OJK Populerkan Produk Keuangan Syariah

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA PEMBUKAAN: Jajaran perbankan dan OJK menabuh gendang sebagai simbol dibukanya pameran produk dan jasa perbankan/keuangan syariah Expo iB Vaganza di Mataram, kemarin.

MATARAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menekankan pentingnya sosialisasi, dan edukasi kepada publik mengenai produk maupun jasa layanan keuangan syariah. Sekaligus meningkatkan akses masyarakat ke sektor keuangan sesuai dengan program literasi pemerintah.
Untuk itu, OJK menggelar pameran produk dan jasa perbankan/keuangan syariah Expo iB Vaganza Mataram 2018 di Lombok Epicentrum Mall. Ketua OJK NTB Farid Faletehan mengatakan, pameran produk dan jasa perbankan/keuangan syariah Expo iB Vaganza ini sebagai wujud dukungan perbankan syariah untuk masyarakat Lombok. “Diharapkan ini dapat mendorong pengembangan keuangan syariah, khususnya di wilayah NTB,” ujarnya, kemarin.
Selaini itu, OJK juga menyelenggarakan iB Goes To Mosque bekerjasama dengan Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) dan Kelompok Studi Ekonomi Islam Universitas Mataram. Target peserta adalah pengurus masjid dan jamaah di Islamic Center NTB.
Untuk mempermudah proses analisis pemberian pembiayaan, masyarakat dapat memanfaatkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) di gerai OJK. Masyarakat bisa mendapatkan layanan informasi debitur (iDeb) sepanjang penyelenggaraan Expo iB Vaganza di kota Mataram. Dipilihnya Mataram sebagai salah satu kota pelaksanaan iB Vaganza, karena dinilai sebagai salah satu daerah yang sangat potensial.
Dengan julukan Bumi Seribu Masjid, NTB menyimpan potensi besar pengembangan ekonomi syariah secara organik. Apalagi dengan dicanangkannya wisata halal oleh Pemerintah Provinsi NTB, maka semakin mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis syariah. “Dengan adanya potensi itu, diharapkan pelaku perbankan syariah dan wisata halal di NTB dapat saling bersinergi,” kata Farid.
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTB memiliki komitmen kuat dalam hal pengembangan ekonomi syariah. Hal ini dengan ditandai dengan keputusan PT Bank NTB untuk melakukan konversi beralih dari bank konvensional menjadi bank syariah pada tahun 2018 ini.
Dengan dilakukannya langkah konversi, diperkirakan aset syariah di NTB mencapai Rp 9 triliun atau sekitar 30 persen. Bila dilihat dari data OJK Mei 2018, jumlah total aset gross BUS dan UUS Provinsi NTB mencapai Rp 3,93 triliun.
Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pembiayaan yang disalurkan masing-masing sebesar Rp 1,83 triliun dan Rp 3,28 triliun. “Tingkat literasi keuangan syariah (posisi 2016) Provinsi NTB sebesar 5,09 persen dan tingkat inklusi sebesar 8,36 persen,” sebutnya.
Sementara itu, Direktur Penelitian, Pengembangan, Peraturan dan Perizinan, Perbankan Syariah Deden Firman Hendarsyah mengatakan, helatan akbar ini diikuti 17 bank. Secara nasional, perkembangan keuangan syariah cukup menggembirakan.
Menurut data OJK per Mei 2018, komposisi total aset keuangan syariah (tidak termasuk saham syariah) secara nasional sebesar Rp 1.179,47 triliun atau sebesar 8,38 persen dari total aset keuangan nasional. Adapun, aset perbankan syariah sebesar Rp 437,08 triliun dari total aset perbankan nasional dengan market share saat ini pada posisi 5,69 persen.
Keuangan syariah juga mengalami pertumbuhan yang positif, yaitu dari total aset sebesar 18,80 persen, secara tahunan atau year on year (yoy) per akhir Mei 2018. Sedangkan, kondisi perbankan syariah terdiri dari 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah dan 167 BPR syariah hingga Mei 2018 menunjukan perkembangan yang positif, baik aset maupun intermediasi mengalami peningkatan yaitu sebesar 16,32 pesen yoy dan 13,65 persen yoy.
Pertumbuhan ini menunjukkan Indonesia menyimpan banyak potensi untuk semakin mengembangkan ekonomi, dan keuangan syariah jauh lebih pesat. Sehingga semakin berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Ini diharapkan, inklusi dapat disasar dan masyarakat bisa mencoba,” pungkasnya. (cr-can/r3)