Beranda Lombok Timur Ketika Pulau Lombok Diguncang Gempa 6,4 SR (5)

Ketika Pulau Lombok Diguncang Gempa 6,4 SR (5)

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA TERABAIKAN: Hamparan tanaman cabai dan jenis tanaman lainnya yang belum diurus petani karena konsentrasi di pengungsian, kemarin.

Masih Ngungsi, Aktivitas Pertanian Belum Normal

Korban gempa bumi sampai saat ini masih bertahan di pengungsian. Akibat gempa, berimbas pada aktivitas pertanian korban gempa. Seperti di Kecamatan Sembalun.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

MASYARAKAT Kecamatan Sembalun, maupun Sambelia menggantungkan kelangsungan hidupnya dari hasil pertanian. Utamanya masyarakat Kecamatan Sembalun, menjadi wilayah andalan untuk penghasil sayur-sayuran dan rempah-rempah.
Bahkan, Kecamatan Sembalun menjadi objek wisata holtikultura, dan masih tujuan wisata utama di wilayah Lombok Timur (Lotim). Jika hari-hari biasa, aktivitas pertanian masyarakat hampir terlihat tak pernah sepi di sawah. Termasuk di pinggiran jalan, masyarakat wilayah tersebut melakukan bongkar muat sayur-sayuran untuk dikirim ke pasar yang ada di wilayah ini. Bahkan, pengiriman ke luar Lotim.
Namun sejak terjadi musibah gempa bumi, bukan saja menimbulkan luka mendalam karena banyak bangunan runtuh, dan menimbulkan efek trauma. Akan tetapi juga berimbas pada aktivitas masyarakat sehari-hari. Masuk membersihkan puing-puing reruntuhan rumahnya saja, mereka masih khawatir. Sebab, gempa susulan hingga saat ini masih terjadi.
Mereka yang rumahnya rata dengan tanah melakukan pembersihan bersama personel gabungan, dan relawan. Sedangkan yang mengalami rusak ringan, masih belum berani pulang. Sebab, gempa susulan tersebut masih terjadi hingga dinihari kemarin. Gempa juga berimbas pada aktivitas pertanian masyarakat. Bahkan, beberapa jenis hasil pertanian seperti strawberry dijual murah oleh petani setempat. Di ihamparan sawah Kecamatan Sembalun, hanya beberapa orang saja yang melakukan aktivitas pertanian. Selebihnya, masih bertahan di pengungsian dan mengurusi keluarga masing-masing.
“Selama ini saya dan hampir sebagian besar warga Sajang belum bisa konsen mengurus pertanian. Sebab, masih fokus mengurus keluarga di pengungsian,” kata Artawijaya, warga Dusun Sajang, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here