Beranda Lombok Timur Ketika Pulau Lombok Diguncang Gempa 6,4 SR (4)

Ketika Pulau Lombok Diguncang Gempa 6,4 SR (4)

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA DISTRIBUSI: Dan Yon Brimob Polda NTB, Kompol Bambang Yudi Wibowo, SIK menyalurkan air yang diambilnya dari Sembalun, setelah warga sempat mengadu kepadanya, kemarin.

Warga Sajang Kesulitan Air Bersih, Bantuan Hanya Datang Sekali

Bantuan kebutuhan dasar korban gempa bumi, masih terus mengalir. Sementara, air bersih yang sangat dibutuhkan justru hanya datang sekali, pada hari pertama bencana.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

BANTUAN kebutuhan dasar terhadap korban bencana gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR), memang setiap hari mengalir dari berbagai asal. Baik bantuan kebutuhan pokok, pampers dan jenis bantuan lainnya. Penyaluran bantuan bagi korban gempa di Kecamatan Sambelia dan Sembalun, ada yang disalurkan langsung kep osko induk. Maupun diserahkan langsung ke korban terkena dampak bencana.
Wilayah paling parah terkena dampak gempa adalah Desa Obel-Obel dan Medayin Kecamatan Sambelia. Sementara desa paling parah terkena imbas gempa di Kecamatan Sembalun, adalah Desa Sajang. Puing-puing reruntuhan, sedikit demi sedikit sudah mulai dibersihkan tim gabungan dari TNI dan Polri, serta dibantu anak-anak pramuka.
Meski bantuan kebutuhan dasar setiap harinya berdatangan dari banyak pihak, namun kurang tersalurkan dengan baik. Beberapa pengungsi yang berada di tenda-tenda kecil mengeluh jika distribusi bantuan dari posko induk sangat minim. Bahkan beberapa pengungsi di Dusun Sajang Desa Sajang mengaku, sampai saat ini belum mendapatkan pasokan bantuan dari posko induk yang ada di kecamatan. Bantuan yang masuk ke mereka, hanya bersumber dari para pihak sifatnya kelompok dan para sahabat. Setiap harinya dan tak pernah terputus, kendaraan melintas di depannya membawa bantuan logistik.
Penuturan warga Dusun Sajang, Artawijaya, terdapat 1000 lebih pengungsi di Desa Sajang. Alasan warga membuat tenda sendiri, untuk keamanan isi rumah. Mereka khawatir barang-barangnya dijarah oleh oknum tak bertanggunjawab yang memanfaatkan situasi saat ini.
Sejak hari pertama terjadi gempa, ia mengaku hanya sekali mendapatkan bantuan air bersih. Selebihnya, tak pernah lagi ada air bersih yang datang. Padahal, air bersih adalah kebutuhan paling mendesak dibutuhkan. Setiap ada tangki air yang lewat, sering distop meminta air tapi tidak juga ada yang berhenti. Beberapa pihak yang datang ke tempatnya juga mencoba menghubungi camat, tapi tetap tidak ada air yang datang didistribusikan. Di tenda tempatnya mengungsi, terdapat 60 lebih jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka rela datang ke Desa Sembalun membeli air. Satu tangki air dibelinya seharga Rp 20 ribu. Dalam sehari, bisa dua kali ke Sembalun membeli air. Air tak lagi ada mengalir ke Desa Sajang, dimungkinkan karena pipa air putus akibat gempa. Sebab, sumber air Desa Sajang barada di pegunungan.
Kemarin, personel dari Brimob dan TNI melakukan pembersihan rumah warga di Desa Sajang. Komandan Detasemen B (Kaden) Satuan Brimob Polda NTB, kebetulan di lokasi memantau personelnya yang sedang melakukan pembersihan puing-puing reruntuhan rumah. Momen itu, dimanfaatkan sejumlah warga Dusun Sajang, menyampaikan keluh kesahnya yang hanya sekali menerima bantuan air bersih.
Mendengar curhatan warga Dusun Sajang, ia langsung memerintahkan anggotanya untuk mengambilkan warga Dusun Sajang air, menggunakan mobil PHH Brimob. Begitu air datang, warga setempat langsung tersenyum, mengucapkan terimakasih pada Kaden B Satbrimobda Polda NTB. “Siapa yang tidak ingin bantuan. Tapi yang sangat kami harapkan adalah kebutuhan air bersih. Sampai hari ini, kami hanya mendapat bantuan air bersih cuma sekali. Memang hari pertama mungkin kita maklumi, tapi sampai sekarang malah tak pernah lagi ada bantuan air bersih yang datang,” keluh Artawijaya. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here