Beranda Mataram Dikes Klaim Imunisasi MR Aman

Dikes Klaim Imunisasi MR Aman

BERBAGI
RIRIN/RADAR MANDALIKA H Usman Hadi

MATARAM —Imunisasi masal campak dan rubella mulai dilaksanakan bulan ini, hingga September mendatang di seluruh wilayah luar Pulau Jawa. Imunisasi ini diberikan kepada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Namun, masih muncul penolakan orangtua memberikan anaknya imunisasi dengan berbagai alasan. Hingga menjadi pro kontra di media sosial.
Ditemui usai pencanangan kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) Kota Mataram di SMPN 2 Mataram, kemarin, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram H Usman Hadi mengatakan, pihaknya sudah mengantongi hasil analisa dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang dampak vaksinasi. Hasilnya tentu positif untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang bisa mempengaruhi pertumbuhan, dan masa depan generasi penerus bangsa. Memang diakui, masih menjadi kontroversi mengenai halal dan haram vaksinasi ini hingga menjadi perdebatan di medsos. “Kontroversi ini harusnya dijawab Kemenkes. Karena memang sampai sekarang belum keluar fatwa MUI halal atau haram vaksinasi campak dan Rubella ini. Beda dengan vaksinasi meningitis untuk jamaah haji, sudah ada fatwa halalnya,” jelasnya.
Rencananya di bulan Oktober mendatang, vaksinasi campak dan rubella ini akan menjadi vaksinasi rutin. Setidaknya masyarakat harus paham apa dampak dari penyakit campak dan rubella bagi anak-anak. Termasuk kepada pasangan yang akan menikah, juga harus diperiksa apakah mengandung TORCH. Yakni kepanjangan dari toxoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. “Kalau ada terinfeksi TORCH, harus diobati dulu. Karena bisa menimbulkan kelainan pada anak saat lahir,” jelasnya.
Pada kasus Rubella, ibu hamil tidak mengalami keguguran. Tetapi yang sering terjadi adalah bayi yang dilahirkan mengalami glukoma, pengapuran pada otak, bibir sumbing, tuna rungu dan sulit bicara. “Cenderung anak-anaknya menjadi gizi buruk,” ujarnya.
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mataram, H Abdul Hanan membenarkan jika proses administrasi untuk mengeluarkan fatwa tentang halal atau haramnya vaksinasi campak dan rubella masih berproses. Sementara program imunisasi massal sudah dijalankan per bulan Agustus dan September tahun ini. “Kalau secara umum, fatwa MUI untuk imunisasi dibolehkan karena itu obat,” katanya.
Pemberian vaksin memang bukan hanya atas alasan kesehatan, namun perlu juga alasan penguat lainnya agar memberikan kenyamana kepada orangtua untuk memberikan izin anaknya divaksin. “MUI memberikan rekomendasi kepada masyarakat pada masalah halalnya,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here