Beranda Headline Pendaki Selamat Sujud Syukur

Pendaki Selamat Sujud Syukur

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA SELAMAT : Kapusdiklat dan stafnya langsung dibawa personel gabungan untuk mendapatkan perawatan medis, kemarin.

Jasad Pendaki Asal Makkasar Berhasil Dievakuasi

LOTIM – Tiga orang pendaki yang berhasil dievakuasi tim gabungan sujud syukur setibanya di lapangan Kecamatan Sembalun, kemarin. Tiga pendaki itu, salah satunya merupakan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (Pusdiklat PBJ LKPP), dan dua stafnya.
Selain ketiganya, tim gabungan juga berhasil mengevakuasi jenazah Muhamad Ainul Taksim, 25 tahu pendaki asal Makkasar yang merupakan staf KLHK. Jenazah korban meninggal, diterbangkan menggunakan helikopter dari Pelawangan, setelah tim gabungan menggotong jenazahnya dari Danau Segara Anak.
Evakuasi ketiga korban yang terjebak sejak Minggu lalu di Danau Segara Anak, dan korban meninggal dunia, menggunakan helikopter milik PT Amman Nusa Tenggara (ANT). Tiga orang LKPP yang dievakuasi, Suharti (Kapusdiklat PBJ LKPP), Erlin staf LKPP dan Agus LKPP.

Direktur Operasional Basarnas Pusat, Brigjen Bambang S, kepada awak media mengatakan, Helikopter yang digunakan evakuasi tiga korban selamat, take of pukul 08.40 Wita. Tiga korban selamat tiba di lapangan umum Sembalun pukul 09.35 Wita.
“Alhamdulillah, ketiga korban ditemukan dalam keadaan selamat sampai di lapangan Sembalun. Untuk guide dan porter, dievakuasi jalur darat oleh tim evakuasi gabungan TNI, TNGR dan Basarnas,” terangnya, kemarin.
Usai mendaratkan ketiga korban selamat. Pihaknya bersama Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) IX Udayana Mayjen Donny Susianto, dan Pilot melakukan koordinasi sekitar 30 menit, apakah dilanjutkan menggunakan udara atau darat. Namun dari pihak pilot helikopter Surya Air Kapten Bronte sendiri, meski sempat di ingatkan untuk tidak dipaksakan karena kondisi cuaca, pihak pilot mengungkapkan rasa optimis, dengan menegaskan akan mencoba melakukan evakuasi jenazah korban meninggal dunia.
Sehingga sambung Bambang, helikopter take of mengevakuasi korban sekitar pukul 11.03 Wita. Sesampai di Pelawangan dan landing diperbukitan sedikit datar dan terjal, evakuasi jenazah korban berhasil dilakukan, meski juga kondisi cuaca sedikit gelap. Namun karena kemampuan heli dan pilot, sehingga jenazah bisa dievakuasi, dan tiba di lapangan Sembalun sekitar pukul 11.25 Wita.
“Jenazahnya dikirim dulu ke RSU Bhayangkara menggunakan ambulan. Setelah itu ditangani medis dan administrasi selesai, baru jenazah korban dibawa keluarga pulang ke Makkasar,” tuturnya.
Sekarang ini informasi adanya korban lain yang masih terjebak sudah tidak ada diterima lagi. Dia memastikan, Rinjani dari pendaki sudah clear.
“Jumlah korban yang dievakuasi secara keseluruhan sejak ditetapkan tanggap darurat sebanyak 549 orang. Termasuk, tiga korban selamat dan satu meninggal dunia,” bebernya.
Pertamakali dilakukan evakuasi sebanyak 40 orang diterjunkan melakukan evakuasi. Sekitar 08.30 Wita kemarin, kembali diterjunkan 40 personel tambahan. Personel sar yang diterjunkan, 33 personel dari Sar Mataram, 30 personel dari sar Pusat dan 15 personel dari sar Bali, untuk mengevakuasi korban jalur darat.
“Sampai hari ini tidak ada korban lain, dan itu hasil koordinasi semua pihak. Namun kami dari Basarnas, tetap siaga sampai beberapa hari kedepan. Apabila ada kemungkinan korban tertinggal disana, kami siap bergerak melakukan evakuasi,” katanya lagi.

Terpisah, penuturan Kapusdiklat PBJ LKPP, Suharti mengaku senang dengan kegiatan alam dan Rinjani memang keinginannya sejak lama. Memang saat terjadi gempa, dalam posisi mau pulang dari Segara Anak menuju Senaru. Ia berangkat dari Segara Anak sekitar pukul 06.20 Wita. Setelah jalan sekitar 30 menit lebih, terjadi gempa. Disitulah luar biasa dua guide dan porter benar-benar mencari batu besar, untuk menjadi tempat berlindung.
Suasana dikatakannya benar-benar mencekam. Muka sudah penuh dengan debu, batu besar menggelinding. Setelah mencari posisi aman, kemudian mencari posisi aman ke Batu Ceper dalam waktu 30 menit. Ia bersama dua stafnya ditarik guide untuk berlari keposisi aman, di tengah porter dan guide lain berlari.
Sementara dia bersama dua stafnya tidak ditinggalkan oleh kedua guide dan porter. “Sayalah yang membuat mereka terjebak. Intinya saya mau mengajaknya ber adventure, kita tidak tahu terjadi gempa. Tadinya ingin menikmati ciptaan Allah, melihat keindahan alam berakhir dengan gempa. Ini juga kehendak Allah,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Erlin menambahkan, sebenarnya mereka di Segara Anak tidak bermalam, dan dari pihak guide sudah mengatakan harus naik ke Senaru. Tapi karena kelelahan dan faktor Suharti jalan lambat, sehingga diputuskan menginap. Pukul 06.20 Wita itu naik ke atas dan diperjalanan gempa. Porter berlarian karena batu dari atas dan debu mengelilinginya, sehingga sakdudin (Guide) minta berlindung di batu, karena kemungkinan gempa susulan.
Setelah gempa, naik ke batu ceper di sana berlindung dan seharian gempa tetap di Batu Ceper. Guide sempat bingung karena tidak ada sinyal dan air, dimana hanya batu yang melindungi gempa. Di sana, Sakdudin (guide) turun mengambil air ke Segara Anak. Darisana, Sakdudin memintanya turun lagi ke Danau dan menginap dua malam, disaat itu juga masih ada gempa susulan.
“Sesampai di Segara Anak, masih ada bule eropa dan Thailand, di sana ada sinyal sehingga bisa menghubungi kepala LKPP. Semua akses Ibu Suharti dihubungi. Di sana, ditahu posisinya terjebak,” tuturnya juga.
“Porter rela pertaruhkan nyawa demi kami, agar kami bisa masak dan minum. Kami coba mancing di danau, tapi tidak ada ikan. Alhamdulillah, tim evakuasi datang,” tambah Erlin.

Di samping itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim H Rohman Farly mengatakan, pihaknya atasnama pemerintah mengaku senang atas kerjasama berkontribusi mengevakuasi tamu yang sedang mendaki. Baik pendaki asing mau pun domestik. Termasuk penanganan korban, kesiapan pemulihan kembali rumah dan mental, tim verifikasi sudah dibuat.
“Satgas yang kita buat, supaya menghendel sarana dan prasarana, logistik,” tutupnya.
Informasi dikumpulkan dan pantauan Radar Mandalika, Kapusdiklat dan stafnya begitu tiba di lapangan umum Sambelia, langsung sujud syukur. Pihak keluarganya pun, juga langsung memeluknya. Di sana, ketiga korban langsung diberikan perawatan medis.
Sementara hasil penyisiran dilakukan tim evakuasi gabungan sekitar pukul 09.13 Wita, di Danau Segara Anak ditemukan kembali tujuh pendaki. Tujuh pendaki tersebut merupakan pendaki lokal yang berasal dari Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.
Data sementara dikantongi TNGR, jumlah pendaki yang berhasil dievakuasi sejak Minggu (29/7) lalu. Jumlah pendaki, porter dan guide sebanyak 1.087 orang, terdiri dari wisatawan asing sebanyak 723 orang dan wistawan nusantara atau lokal sebanyak 364 orang. Dari jumlah tersebut, yang dievakuasi setelah status tanggap darurat ditetapkan, wisatawan asing yang dievakuasi sebanyak 189 orang, lokal sebanyak 173 orang, guide sebanyak 31 orang dan porter sebanyak 150 orang. Sementara 7 orang hasil penyisiran belum masuk dalam daftar sebanyak 1087 tersebut. (cr-jho/fa’i/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here