Beranda Headline Cerita Roberto Pernandes Kewarganegaraan Brazil yang Jadi Mualaf

Cerita Roberto Pernandes Kewarganegaraan Brazil yang Jadi Mualaf

BERBAGI
HAFIDZ/RADAR MANDALIKA ALLAHHUAKBAR: Guru spritual sang mualaf bersama Rijalul Hadisaat bertemu, belum lama ini.

Boyong Keluarga Masuk Islam, Nama Diganti jadi Rijalul Hadi

Namanya Roberto Pernandes kewarganegaraan Brazil yang sudah 14 tahun tinggal di Dusun Rangkap II Desa Kuta, Kecamatan Pujut. Pria itu tergerak hatinya untuk memeluk agama Islam. Seperti apa? Berikut catatan Radar Mandalika.
HAFIDZUDDIN-LOTENG

SUDAH satu tahun lamanya Roberto Pernandes memeluk agama Islam. Pasca memeluk agama Islam, dirinya mengubah namanya menjadi Rijalul Hadi yang arti namanya laki-laki pemberi petunjuk.
Dirinya berasal dari keluarga beragama Kristen, bahkan ayahnya seorang Uskup ternama di tempat asalnya. Namun, sungguh menakjubkan sang ayah juga turut masuk Islam beserta ibu dan istrinya.
Hanya saja, salah satu saudaranya masih belum menerima agama Islam meski sempat diberikan pemahaman. Dia tidak memaksakan namun dengan kebijaksanaan dan tidak mengekang. Rijalul Hadi bakal terus menyampaikan dakwah islamiyah ke keluarganya cerita dia pada Radar Mandalika.
Kini, pria yang berusia 37 tahun ini sering memberikan siraman rohani ke warga sekitaran di Desa Kuta. Bahkan, bersama guru spritualnya, Rijalul Hadi kerap ikut safari dakwah ke beberapa tempat dan sempat bersilaturahim ke Gubernur NTB, M Zainul Majdi.
“Dulu sebelum masuk islam, saya memang terbiasa minum alkohol, pesta, hingga makan babi. Namun, setelah paham agama islam. Saya menghindari diri dari hal-hal ini,” katanya.
Di samping itu, metode dakwahnya ke orang tua sehingga bisa masuk islam yakni melalui media. Dia kerap menonton film keislaman berbahasa Brazil bersama orang tua, hingga mengaji di rumah. Baru kemudian, mengajak orang tua berdiskusi tentang hakikat orang beriman dalam agama Islam.
Dirinya semakin mantap memeluk agama yang diturunkan Nabi Muhammad SAW ini, setelah lama belajar dan banyak berdiskusi.
Rijalul Hadi dengan siap lahir bathin menjalankan syariat islam. Salah satunya, ketika masuk waktu ibadah salat, dirinya tidak mau salat di rumah. Namun, harus ke musala atau masjid.
“Salat bukan menggugurkan kewajiban. Namun, ini kesadaran totalitas,” ujarnya.
Meski Negara Brazil merupakan salah satu negara terbesar beragama Katolik dirinya tidak lantas ikut dengan kebiasaan di negaranya.
Rijalul Hadi tinggal di Kuta sudah 14 tahun lamanya. Ia pertama kali mengunjungi Gunung Prabu baru kemudian ke Kuta. Dirinya sangat menyukai ombak laut seperti di Kuta.
“Bahkan hobi saya berselancar,” cerita dia
Di sisi lain, untuk menimba ilmu keagaaman dirinya kerap berdiskusi ke Pimpinan Ponpes Bahrul Ulum, Rangkap II Kuta, dan Ulama asal Sengkol, TGH Abdurrhman Athar di Sengkol.
“Saya alumni Fundacao Armando Alvares Penteado (FAAP) di Sao Paulo angkatan 2005 mengambil jurusan arsitek. Meski jurusan umum, persoalan agama mesti kita dahulukan,” tuturnya tegas. (*/r1)

BERBAGI
Artikel sebelumyaBI Bantu Korban Gempa
Artikel berikutnyaJokowi-TGB Makin Lengket

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here