Beranda Headline Persembahan Warga Loteng untuk Dunia

Persembahan Warga Loteng untuk Dunia

BERBAGI
FOTO HAFIZUDIN/RADAR MANDALIKA tenun MENINJAU: Asisten II Setda Loteng, Ir Nasrun bersama saat melihat peserta penenun.

SEBAGAI salah satu desa yang dicanangan menjadi Desa Cerdas di Lombok Tengah oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Loteng, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat terus menunjukkan eksistensinya sebagai desa adat yang memiliki ciri khas akan home industinya mengembangkan kain tenun khas sasak di wilayah setempat.
Kini, untuk ketiga kalinya Pemerintah Desa Sukerare menggelar event Sukerara Begawe Jelo Nyesek yang diikuti sekitar 1500 penyesek dari sembilan dusun yang ada di Desa Sukerara. Selama tiga hari berturut-turut, Mulai dari tanggal 28 Juli sampai 30 Juli 2018.
“Semoga warga semakin sukses dan sejahtera melalui kegiatan ini,” kata Bupati Loteng yang diwakili Asisten II Setda Loteng, Ir. Nasrun.
Festival seperti ini, kata Nasrun juga sukses dihelat pada 2016 dan 2017 lalu, semua berkat kerjasama dan kekompakan masyarakat yang telah menginisiasi kegiatan, sehingga bisa menunjukkan kekayaan tradisi yang telah diwariskan secara turun menurun ini.
“Keberadaan desa wisata Sukerara dengan kain tenun khasnya serta event Begawe Jelo Nyesek dipersembahkan bagi warga Loteng, NTB, Indonesia, bahkan dunia,” kata Nasrun sembari membacakan sambutan Bupati Loteng, HM Suhaili FT.
Komitmen mengembangkan desa wisata berbasis home industry, lanjut Nasrun, maka tugas Pemkab yakni membina agar kualitas hasil tenun semakin baik. Di samping itu, ia mengingatkan jika promosi, kualitas, dan sikap ramah ditunjukkan dalam mengelola desa wisata maka dengan sendirinya wisatawan bakal bertambah, sehingga masyarakat makin sejahtera.
Dalam kegiatan begawe nyesek yang dirangkai dengan peringatan hari jadi Desa Sukerara yang ke-263 ini, Nasrun menyampaikan, guna mendukung perkembangan rumah industri, Pemkab telah menelurkan kebijakan dengan Peraturan Bupati agar perusahaan bisa menggunakan produk lokal dalam kegiatannya.
“Seluruh hotel restauran dan kegiatan pariwista bisa dimanfaatkan produk lokal. Baik industri maupun pertaniannya, jika tidak, maka kami cabut ijinnya,” tegas Nasrun. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here