Beranda Mataram Cerita Perajin Tikar Pandan Bisa Tetap Bertahan

Cerita Perajin Tikar Pandan Bisa Tetap Bertahan

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA MASIH BERTAHAN: Senah tengah membuat tikar daun pandan, belum lama ini. Meski usaha ini harus bersaing dengan menjamurnya tikar plastic.

Warisan Turun Temurun, Bersaing dengan Tikar Modern

Daun Pandan yang biasanya hanya digunakan sebagai bahan tambahan untuk makanan, bisa disulap menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis. Wujudnya berupa tikar pandan.
SRI SUSANTINI-MATARAM

TANGAN Senah sudah terampil mengolah daun pandan menjadi tikar. Perajin tikar pandan asal Dusun Batu Tinggang, Jonggat Lombok Tengah (Loteng) ini, bersama dua karyawannya Rukmin dan Muniati telah menggeluti usaha ini selama puluhan tahun.
Bermula di tahun 1970an, usaha ini diwarisi secara turun temurun mulai dari nenek buyutnya. Meski banyak jenis tikar bermunculan, tak lantas membuat usaha tikar satu ini berhenti produksi. Harganya yang sangat ekonomis, membuat tikar pandan tak kehilangan pembeli. Untuk harga berbeda-beda sesuai ukurannya.
Tikar pandan berukuran 90 x 130 sentimeter dihargai Rp 5 ribu. Namun ukuran dari pandannya tergolong besar. Sementara tikar pandan ukuran kecil jauh lebih banyak peminatnya. Meski proses pembuatannya cukup lama, sekitar dua minggu sampai jadi. Sebab, proses pengeringan daun yang masih manual. “Jika banyak pesanan, bisa setiap minggu berjualan,” kata Senah.
Dalam sehari, ia bisa membuat dua hingga tiga tikar. Ironisnya, usahanya ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Kalau tidak ada pesanan, ya hanya diam di rumah,” ucap Senah.
Untuk harga beli daun pandan di kisaran Rp 200 ribu sampai Rp. 300 ribu. Omzetnya selama sebulan tidak terlalu banyak, hanya Rp 200 ribu. Tapi tidak selalu masuk kantongnya, karena pemesanan kadang ada, kadang nihil. “Karena banyak saingan dari tikar modern jaman sekarang yang lebih diminati masyarakat, seperti tikar plastik,” ungkapnya.
Meski begitu, Senah tidak akan menyerah. Sebab usaha tersebut sudah turun temurun, walaupun pelanggan sepi. “Saya akan tetap bertahan karena saya mempertahankan usaha keluarga,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here