Beranda Headline Calon Mahasiswa Unram jadi ‘Tumbal’

Calon Mahasiswa Unram jadi ‘Tumbal’

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA BONGKAR KECURANGAN: Puluhan calon mahasiswa dan orang tua aksi menuntut keadilan pihak Unram, kemarin.

“Bapak rektor kami hadir mengetuk pintu hati bapak, jangan pernah berbangga menjadi orang merasa pintar namun tidak menghargai orang lain,”

 

MATARAM – Penerimaan mahasiswa baru di Universitas Negeri Mataram (Unram) tahun ini, dinilai paling buruk. Lebih khusus pada fakultas kedokteran yang diduga banyak permainan oknum orang dalam kampus.
Bahkan, para orang tua calon mahasiswa menyebutkan jika pihak Unram telah mejadikan anak-anak mereka korban (tumbal, Red), sehingga tidak diluluskan. Tak ditutupi, jika dalam penerimaan ini diduga banyak keluarga dari pihak Unram yang mendaftar dan jadi dispasialkan. Sementara, para calon mahasiswa tanpa bekingan orang dalam malah jadi korban.

Selain itu, mereka juga mengaku merasa terzolimi dengan sikap pihak Unram, sebagai dugaan adanya permainan para orang tua pun kembali melakukan aksi unjuk rasa di halaman kampus Unram, kemarin.
Adapun tuntutan mereka sama seperti Kamis lalu, ngotot agar pengumuman tanggal 24 dikembalikan. Massa juga meminta agar pihak Unrma mengedepankan rasionalitas, moralitas jangan sampai mementingkan isi ‘perut’ belaka.

“Kami tuntut keadilan, kami terzolimi karena pengumunan tanggal 24 itu anak-anak kami dinyatakan lulus, tetapi kenapa tidak jadi lulus sekarang,” tegas Juliansah dalam aksinya.

Juliansah dalam orasinya mengaku turut prihatin, bersedih dengan prilaku oknum orang kamus Unram yang selama ini, mengedepankan integritas namun harus tercoreng dengan kepentingan kepentingan tertentu. Unram yang merupakan kampus kebanggan semua pihak yang mendidik manusia tetapi prilakunya kini tidak mencerminkan mendidik. Pria yang berprofesi sebagai guru itu, awalnya tidak ingin kembali turun aksi namun sikap Unram yang mencederai hati generesi bangsa itu membuat dia terpanggil harus mensuarakan ketidak adilan itu.

“Saya seorang guru, sebelumnya saya tidak pernah turun karena saya seorang guru namun kali ini, kami terpanggil yang kami tuntut bukan merubah keputsan Al Quran tapi yang kami tuntut penyelesain pengumuman kelulusan yang terjadi secara pihak,” kata pria asal Dompu itu.

Juliansah merasa heran bagaimana mungkin lemabaga besar seperti Unram yang seharusnya menjaga marwah kejujuran, menghargai nilai etika dan moralitas pendidikan tetapi apa yang terjadi hanya karena kepentingan kepentingan mengorbankan pihak lain, termasuk anak kita semua.

“Unram ini kumpulan doctor-doktor yang mengedepankan kecerdasan emosional dan spiritual seharusnya menjaga marwah itu,” sentilnya.

katanya, semua orang harus sama-sama sadar punya mimpi, cita-cita begitupun anak yang dari SD sudah bercita-cita menjadi dokter dan betapa bahagianya ketika tanggal 24 dia dinyatakan lulus. Nyatanya diubah dan diumumkan tidak lulus lagi hasil pengumuman pada tanggal 25.
“Secara psikologi anak anak kami down saat lihat perubahan pengumuman tanggal 25 itu, Unram sudah menzolimi kami,” kata dia sembari teriak.

Juliansyah mengaku, paham ada banyak kepentingan dimana keluarga sivitas akademika Unram memasukkan anak-anak mereka ke fakultas kedokteran, menurut dia sah saja namun jangan sampai mengorbankan orang lain.

“Unram bisa tambah kuotanya, tidak harus dengan mengorbankan kami,” tuturnya.

dia pun mengaku siap menyumbangkan uang pangkal pembangunan 50 sampai 250 juta layaknya orang lain. Sebab bukan soal uang tetapi komitmen, mereka punya komitmen.

“Bapak rektor kami hadir mengetuk pintu hati bapak, jangan pernah berbangga menjadi orang merasa pintar namun tidak menghargai orang lain,” katanya tegas.

Sementara itu yang lain, Atun Wardatun mengatakan jangan sampai kehadiran mereka meminta rektor turun dari jabatannya. Sejak sekian puluh tahun lalu, dirinya yang getol melakukan aksi demonstran jangan sampai hal itu terjadi. Wanita yang juga aktivis tahun 98 itu hanya meminta satu hal rektor pegang omongannya, dimana keputusan pleno tanggal 23 yang diuploud tanggal 24 harus dipegang.

katanya, derajat sebuah pendidikan tidak hanya teridiri dari banyak doktor ataupun profesor, sebab hal itu tidak akan berarti ketika dibalik gelar mereka bersikap amatiran.
NTB salah satu provinsi yang pendidikannya terpuruk. Untuk itu, jangan sampai harapan generasi bangsa terputus akibat oknum yang tidak bertanggungjawab. Anak mereka yang dimasukkan ke Unram adalah anak-anak yang cerdas terdidik. Mereka sebelum tes Unram banyak belajar, mengikuti kursus siang malam agar bisa menjawab soal dan hal itu terbukti dengan dinyatakan lulus di pengumuman tanggal 24 Juli itu.

“Kami berikan anak-anak yang cerdas bukan anak anak yang bisa masuk karena uang sogokan,” katanya.

Wardatun menegaskan, masa depan pendidikan NTB ada pada setiap orang sehingga jangan sampai membiarkan pendidikan di NTB tercoreng.

Ia kembali menerikakan agar Rektor Unram mengembalikan pengumuan tanggal 24 itu, jangan sampai rektor yang sekarang menjadi rektor terburuk dalam sejarah Unram. Rektor yang terlihat tawaduk tetapi berpilaku menzolimi.

Firman juga meminta agar pihak rektorat turun menemui mereka untuk memberikan kepastian dan win win solution. Unram lembaga yang dibanggakan selama ini, ternyata sistemnya yang bobrok. Banyak oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Segera temui kami,” kata Firman dengan cara teriak.

Dikeraiman aksi, wartawan koran ini mencoba menemui calon mahasiswi Nabila Putri salah satu dari 707 orang dimana pengumuman tanggal 24 lulus pada pendidikan dokter, namun tanggal 25 berubah lulus di pendidikan farmasi. Dia merasa sangat kecewa dengan sikap Unram itu. Nasip yang sama juga dialami Ilma Fahira Basyir dimana dinyatakan lulus di pendidika dokter juga berubah ke farmasi.

“Ini alasan kami kenapa ikut aksi,” katanya.

Hingga pukul 11.21 Wita, pihak rektorat belum ada yang menemui massa. Mereka dengan raut wajah kecewa kemudian menarik diri, mereka juga memastikan pukul 14.00 Wita sepakat kumpul di kantor Ombudsman RI NTB.
Di samping itu, Rektor Unram L Husni tidak merespons konfirmasi wartawan. Di wa tidak dijawab, ditelepon tidak direspons sampai berita ini diturunkan. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here