Beranda Lombok Timur Melihat Kemeriahan Peringatan Hultah NWDI ke-83 di Pancor (3)

Melihat Kemeriahan Peringatan Hultah NWDI ke-83 di Pancor (3)

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA RAMAI: Tampak ribuan penonton memadati panggung putih YPH PPD NW Pancor, menyaksikan pementasan musik tradisonal Tetongkek khas Pancor, kemarin.

Musik Tradisional Tetongkek Khas Pancor, Ikut Meriahkan Lomba

Semarak Hultah NWDI ke-83 sudah mulai sejak beberapa waktu lalu. Festival musik tradisional Tetongkek ikut mengisi puluhan daftar lomba, memeriahkan kelahiran NWDI tahun ini.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

LOMBA musik tradisional Tetongkek masuk salah satu daftar lomba baru yang mengisi kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (Hultah) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke 83 di Pancor Lombok Timur. Ini merupakan kali pertama grup musik tradisional Tetongkek mengikuti lomba, saat peringatan Hultah NWDI.
Kehadiran dan tabuhan gendrang Tetongkek ini, menyedot perhatian masyarakat Pancor dan sekitarnya. Apalagi, pemain alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, dan gendang ini kebanyakan adalah anak-anak. Mereka yang tampil adalah grup Tetongkek dari Bareng Girang, Taruna Karang Manggis, Taruna Monggok, Krikil Mas, Gema Selaparang, Layang Sekar, dan lainnya.
Tidak saja masyarakat umumnya yang senang dengan atraksi para penabuh Tetongkek. Tetapi juga dari kalangan pejabat seperti Bupati Lotim H Moch Ali Bin Dachlan, Gubernur NTB TGKH Muhamad Zainul Majdi, dan pejabat tinggi lainnya. Saat festival satu Muharam saja, mereka dihadirkan untuk menghibur masyarakat, hingga mengundang gelak tawa sang Bupati. begitu juga saat ada acara besar di Aula Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain (YPH PPD) NW Pancor, selalu ditampilkan.
Musik tradisional Tetongkek ini dicetuskan oleh sang pendiri NWDI, NBDI dan NW, yakni Almagfurlah Maulana Syaikh TGKH Muhamad Zainuddin Abudl Madjid. Kala itu, Tetongkek ini biasa digunakan untuk membangunkan masyarakat Pancor guna salat tahajud. Sementara pada bulan Ramadan, kerap dimainkan anak-anak Pancor dan Selong untuk membangunkan masyarakat makan sahur. Jadinya, para ibu-ibu yang belum masak untuk keperluan sahur, bisa terbangun menyiapkan makan sahur.
Hebatnya, Tongkek yang merupakan seni budaya khas Pancor ini sudah diurus hak patennya, dan tidak bisa diklaim oleh daerah atau bangsa lain. Bahkan, Tetongkek pernah ditampilkan di Darwin Australia. Hingga sukses menyita perhatian para penonton dari berbagai negara yang hadir dalam kegiatan festival di Darwin Australia beberapa waktu lalu itu.
Menurut salah satu panitia Hultah NWDI ke 83, H Hirjan Nahdi, sejarah Tetongkek yang lahir di Pancor sebelum Indonesia merdeka, sangat dekat kaitannya dengan masuknya Islam dan Nahdlatul Wathan (NW). Maulana Syaikh menciptakan Tetongkek, karena waktu itu tidak ada listrik untuk membangunkan warga makan sahur pada bulan puasa.
Kini, musik tradisional sudah menjalar tidak saja di Lotim, akan tetapi sampai ke daerah lain. Ia berharap, para peserta festival Tetongkek, tetap menjaga sportivitas bermain. Para juri juga diharapkan netral dalam memberikan penilaian. Apalagi, para juri merupakan ahli dalam bidang membuat Tetongkek. “Alhamdulillah, masyarakat kita cukup antusias menonton festival Tetongkek untuk memperingati Hultah NWDI ke 83 ini. Jumlah penontonnya sampai seribu lebih, meski malam hari, ” kata H Khirjan Nahdi, mewakili panitia Hultah NWDI ke 83 di panggung putih YPH PPD NW Pancor Lotim. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here