Beranda Headline Perjalanan Sang Inspirator UKM NTB, Hadini Erawati

Perjalanan Sang Inspirator UKM NTB, Hadini Erawati

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA SUKSES: Puluhan siswa SMKPP Mataram dan SMK NW Darul Mustofa berfoto menunjukkan produk olahan UD. Harkat Makmur.

Banyak Rintangan, Kini Makin Laris dan Terkenal

Bagi pengusaha kecil dan menengah di Kota Mataram, nama Hadini Erawati sudah cukup terkenal. Siapa Hadini ini? Berikut catatan Radar Mandalika.
SRI SUSANTINI – MATARAM

UD. Harkat Makmur berdiri sejak tahun 2000 silam, hingga sekarang berkat usaha yang dijalankan perempuan yang tamat SMA itu, mampu menjadi inspirator bagi para pelaku UKM di NTB.
Kepada wartawan, Hadni Erawati adalah perempuan kelahiran Sayang-sayang Mataram 1965 mencertakan pengalaman pahit manis yang ia pernah jalankan. Dalam kesehariannya, dia di kenal sebagi sosok wanita yang inspiratif, ia selalu ingin melihat perumpuan atau anak muda di sekitarnya menjadi perempuan yang Inopatif serta kratif dalam mengolah barang yang bernilai ekonomi rendah menjadi olahan makanan yang bernilai jual tinggi. Sehingga bisa membatu perekonomian keluarga.
Hidup dari keluarga sederhana, menjadi ibu dari tiga anak serta menjadi ujung tombak keluarga tidak mudah dijalankannya. Namun dia mampu menjalaninya sampai sekarang.
Ia adalah salah satu tokoh perempuan NTB yang cukup dikenal bukan saja di NTB, akan tetapi sudah sampai luar daerah. Perempuan kelahiran 54 tahun silam ini, untuk menjadi orang dikenal hingga luar daerah, bukanlah melalui proses instan. Akan tetapi penuh dengan rintangan dan berbagai ujian.
Siapa sangka, dia akan menjadi orang yang sangat bermanfaat dengan keahlian dimilikinya pada bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) khususnya bidang mengolah hasil kelautan, perikanan serta pertanian.
Berawal dengan ikut ikutan menjadi peserta pelatihan UKM, pengolahan hasil pertanian,perikanan serta kelautan diberbagi pelatihan yang di adakan oleh pemerintah pusat,provinsi, maupun kota menjadikan Hadni Erwati mencetuskan Ide untuk membuat kelompok UKM sendiri.
Pelatihan yang dia ikuti bukan hanya sekali dua kali, namun sampai puluhan kali, belajar dari satu provinsi ke provinsi yang lain, dari kota satu ke kota yang lain. Sehingga membuat ia mahir dalam membuat olahan yang memanfaatkan rumput laut dengan berbagi olehan makanan sehat.
Berjalan dari satu pintu ke pintu yang lainnya, Hadini mengajak segelintiran perempuan yang tidak memilki pekerjaan di kampungnya untuk mendirikan kelompok UKM, namun perjuangannya tak semulus yang ia pikirkan, berbagi respons yang dia terima dari orang yang ia ajak, mulai dari diremehkan hingga tidak di bukakan pintu, namun ia tak pernah putus asa, perjuanggannya tak sia-sia, sebanyak sepuluh orang ibu rumah tangga berhasil ia gaet.
Dengan sepuluh orang yang bisa dia rekrut lantas tak membuat Hadni benafas lega, pasalnya ia harus berpikir lebih keras lagi untuk menjalankan kelompok yang sudah ia bentuk tersebut, mulai dari diskusi kecil dengan kelompok, mencari informasi tentang UKM cara membuat proposal hingga bagaimana cara atau jalan memasukkan proposal.
Sebulan berlalu proposal mulai digarap dan mulai di masukkan ke dinas UKM namun tidak terealisasi, keduaklinya ia kembali memasukkakn proposal namun tak lagi diterma, untuk ketiga kalinya ia kembali mencoba dan alhasil tembus dan mendapatkan bantuan berupa alat-alat produksi olah makanan.
Handi mulai berpikir setelah mendapatkan alat-alat produksi dari pemerintah, namun kendala kelompoknya adalah modal untuk membeli bahan baku, rapat kecil kelompok muli di lakukan alhasil dari persetujuan kelompok harus meminjam di Bank Rp 50 juta selama 3 tahun dengan bunga pinjaman sebanyak Rp 28 juta dalam jangka tiga tahun dengan jaminan sertifikat rumah.
Sebulan kemudaian produksi mulai di jalankan. Satu kali produksi, namun hasil olahan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, ia tak mempermaslahkan itu, anggota kelompok mulai down, namun Hadni tidak pernah lelah untuk memberikan semangat untuk anggotanya, kedua kalinya berproduksi ia hasilnya menunjukkan perlembangan 20 persen, ketiga 40, alhasil dengan moncoba sebanyak empat kali olahanya berhasil, ia terus mencoba dengan takaran yang sudah ia buat, produk sudah jadi sekarang Hadni harus memikirkan dimana pemasaran oalah tersebut, kemasan yang masih sederhana membuat minat konsumen untuk membeli tidak ada.
Dia pun kembali memutar otak, mencoba memasarkan ke berbagi swalayan yang ada di kota Mataram, namun ditolak, tek berhenti sampai disitu ia berinisatif untuk memasarkan melalui mulut kemulut dan tak di sangka ia berhasil. Satu kali produksi yang dihasilkan ludes terjual dan terus berproduksi. Untuk tahun berikutnya kemudian UD Harkat Makmur Berjalan, Hadni Ertawati semakn dikenal oleh jajaran pemerintahan dengan kemahirannya mebuat olahan dari rumput laut membuat ia terus di undang sembagi pembicara dalam pelatihan UMKM.

Seiring UD Harkat Makmur di jadikan tempat Pelatihan Kerja Lapangan (PKL) oleh Mahasiswa dalam maupun luar daerah, siswa SMK serta pelatihan program dinas.
Melihat perjuangan, Hadni Erwati Pemerintah Kota Mataram akirnya membuatkan satu tempat pengolahan serta tempat pemasaran semua UKM di kota Mataram yang dinamakan Bangsal Olahan.
Kini Bangsal Olahan di jadikan sebagi tempat kunjungan wisatawan yang ingin melihat secara lansung cara membuat berbagi macam produk olahan UD. Harkat Makmur dan tempat mebeli pusat oleh-oleh dengan harga yang murah.
“Semoga usaha ini akan terus bisa berjalan,” hara Hadini. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here